Selain Testing, Ahli Juga Cemas Rasio Positif Corona di RI

CNN Indonesia | Senin, 28/09/2020 06:15 WIB
Epidemiolog mengatakan seharusnya pemerintah juga ikut memerhatikan persentase positivity rate Covid-19 yang masih berada di atas 10 persen. Ilustrasi tes virus corona di Indonesia. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Epidemiolog & Pandemi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan pemerintah jangan puas dengan jumlah testing virus corona Covid-19 Indonesia yang sudah mendekati standar Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, yaitu 1 ribu tes per 1 juta penduduk per minggu.

Dicky menjelaskan pengendalian pandemi Covid-19 tak bisa hanya dinilai dari satu indikator saja. Seharusnya pemerintah juga ikut memerhatikan persentase positivity rate yang masih berada di atas 10 persen. Jauh di atas standar WHO, yaitu lima persen.

"Memang WHO ada standar, tapi harus dipahami bahwa itu bukan indikator tunggal. Pemerintah harus melihat beberapa indikator terkait yang tidak berdiri sendiri. Pertama adalah positivity rate," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (25/9).


Dicky mengatakan hingga saat ini positivity rate di Indonesia masih berada di atas 10 persen. Hal ini menandakan kapasitas tes yang masih kurang. Oleh karena itu, Dicky mengatakan pemerintah jangan terpaku dengan standar WHO.

Apabila positivity rate masih tinggi di Indonesia, dibutuhkan peningkatan jumlah testing. 

"Katakan Jakarta kapasitas testingnya sudah empat hingga lima kali lipat dari standar WHO, kalau positivity rate masih di atas 10 persen berarti masih terlalu banyak orang yang belum terdeteksi," kata Dicky.

Apabila menggunakan asumsi jumlah penduduk Indonesia 260 juta jiwa, maka dibutuhkan tes Covid-19 sebanyak 260 ribu per minggu. Dengan demikian, target tes per hari berada di kisaran angka 37 ribu.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan (Satgas) Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan jumlah orang yang diperiksa per hari mencapai 31 ribu di Indonesia. 

Gubernur Anies Baswedan mengatakan DKI Jakarta juga sudah melakukan 11 ribu tes per 11 juta penduduk per minggu. Angka ini sudah sesuai standar rasio tes yang ditetapkan WHO.

Kendati demikian, menurut situs resmi pemantauan Covid-19 milik Pemprov Jakarta, setiap harinya angka positivity rate DKI Jakarta pada September berkisar di angka 10-16 persen.
 
"Kapasitas tes ini tidak dibatasi target tadi, tapi kapasitas tes ini ditentukan oleh skala keseriusan pengendalian pandemi satu negara atau satu wilayah.
Bila memang serius, mau 1 juta tes sehari pun harus tetap dilakukan. Itu yang terjadi di Wuhan, sementara India dan AS ada ratusan ribu tes per hari," tutur Dicky. 

Dicky mengatakan testing ini juga harus diikuti dengan penelusuran kontak atau contact tracing. Penelusuran contact menjadi strategi intervensi yang harus dilakukan untuk melakukan isolasi karantina tepat sasaran.

"Semua ini dalam ilmu wabah itu suatu kesatuan, kalau tidak dilakukan secara komprehensif akibat minim pemahaman dari para penyusun strategi ini, maka kasus positif akan terus naik," kata Dicky.

Ahli biologi molekuler dan pandemi Ahmad Rusdan Handoyo sempat menyarankan Indonesia melakukan 30 penelusuran kontak  untuk setiap 1 pasien Covid-19. New York, Amerika Serikat telah memberlakukan 30 penelusuran kontak dari satu kasus Covid-19.

"New York kini punya standar 1 kasus akan dicari 30 kontak eratnya," kata Ahmad.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]