Magawa, Tikus Pembersih Ranjau Darat yang Dapat Medali Emas

CNN Indonesia | Jumat, 02/10/2020 04:00 WIB
Seekor tikus bernama Magawa di Kamboja diangkat sebagai pahlawan dan diberikan medali emas karena dapat menyelamatkan nyawa. Ilustrasi tikus. (Pixabay/Kapa65)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seekor tikus di Kamboja diangkat sebagai pahlawan dan diberikan penghargaan karena dapat menyelamatkan nyawa.

Tikus ini bernama Magawa, yang merupakan tikus berkantong raksasa Afrika. Ia dianugerahi medali emas oleh badan amal kedokteran hewan Inggris, People's Dispensary for Sick Animals (PDSA), atas partisipasinya mendeteksi ranjau darat yang tidak meledak di Kamboja.

Konflik selama puluhan tahun diketahui telah membuat negara tersebut dipenuhi dengan jutaan ranjau darat, persenjataan yang belum meledak (UXO), dan sisa-sisa bahan peledak perang lainnya yang masih  dapat membunuh atau melukai puluhan orang setiap tahun.


Kamboja, dengan bantuan dari negara lain, telah menghabiskan bertahun-tahun waktunya membersihkan tanah dari bahan peledak, tetapi itu pekerjaan yang sulit dan berbahaya.

Pada situasi ini kemudian Magawa masuk. Magawa dilatih oleh organisasi non-pemerintah APOPO.

Melansir The Guardian, Organisasi yang didirikan di Belgia dan berkantor pusat di Tanzania, melatih tikus seperti Magawa untuk mendeteksi bau bahan kimia peledak yang digunakan di ranjau darat dan menunjukkannya kepada pawangnya.

Magawa punya fisik yang besar tapi masih cukup ringan sehingga tidak akan pernah meledakkan ranjau darat saat ia berjalan di atasnya.

Mengutip CNN, Magawa telah menemukan 39 ranjau darat dan 28 item persenjataan yang belum meledak. Kerjanya menbantu pembersihan area seluas hampir 35 hektar tanah dari bahan militer berbahaya.

"Magawa adalah tikus pahlawan. Kami sangat senang merayakan pengabdiannya yang menyelamatkan nyawanya dengan memberinya medali emas PDSA," kata Direktur Jenderal PDSA Jan McLouglin.

Medali Emas PDSA ini merupakan bagian dari program Penghargaan Hewan tertinggi atas keberanian yang luar biasa dan dedikasi dalam kehidupan sipil.

Magawa memperoleh kemampuan itu dengan latihan keras sebelum akhirnya dikirim ke Kamboja. Dia dilatih untuk mengabaikan besi tua berserakan, dan memberi sinyal kepada pawang ketika mendeteksi lokasi ranjau darat yang tepat. 

Dia begitu cepat menemukan ranjau darat sehingga dia dapat membersihkan area seluas lapangan tenis dalam 30 menit. Jika dilakukan manusia membutuhkan waktu empat hari dengan menggunakan detektor logam.

"Untuk setiap ranjau darat atau sisa-sisa yang tidak meledak yang dia temukan, dia menghilangkan risiko kematian atau cedera serius di lokasi yang sudah mengalami kesulitan yang signifikan."

Kamboja memiliki jumlah orang yang diamputasi tertinggi di dunia, dengan 25 ribu orang terkait persenjataan yang belum meledak. 

Sejak jatuhnya rezim brutal Khmer Merah pada 1979, Kamboja telah mencatat 64.840 korban jiwa yang disebabkan oleh ranjau atau bahan peledak lainnya, menurut Otoritas Pekerjaan Ranjau dan Korban Kamboja.

Beberapa negara menjatuhkan persenjataan yang belum meledak di seluruh Kamboja, Vietnam, dan Laos selama Perang Vietnam.  Amerika Serikat bahkan menjatuhkan 2,7 juta ton persenjataan - termasuk bom tandan dan submunisi.

(ryh/DAL)

[Gambas:Video CNN]