LIPI Sebut Wabah Bubonic yang Hebohkan China Pernah Ada di RI

CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 08:15 WIB
Ilustrasi hama tikus Ilustrasi wabah bubonic dari tikus. (Pixabay/Kapa65)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Ibnu Muryanto menyatakan wabah penyakit bubonic atau pes bukan hal baru di Indonesia. Hal itu merespon China yang tengah menghadapi wabah pes saat pandemi Covid-19 akibat virus SARS-CoV-2.

Dia mengatakan wabah pes pernah melanda Indonesia pada tahun 1970an.

"Penyakit pes pernah mewabah di jawa sekitar tahun 70an," ujar Ibnu kepada CNNIndonesia.com, Kamis (9/7).


Ibnu menyampaikan sentra penyakit pes di Indonesia saat itu tersebar di berbagai lokasi. Salah satu lokasi yang cukup terkenal dengan wabah pes itu adalah Boyolali, Jawa Tengah.

Lebih lanjut, Ibnu membenarkan wabah pes berasal dari tikus. Akan tetapi, dia mengatakan tikus yang benar-benar menyebabkan pes adalah tikus belukar.

"Kalau itu banyak disebarkan oleh tikus belukar rattus exulans," ujarnya.

Untuk mencegah terulangnya wabah pes, Ibnu menyarankan masyarakat untuk menjaga kebersihan. Meski tidak menyebabkan pandemi, dia mengatakan wabah tersebut dapat menyebabkan kematian sangat tinggi.

"Dan saat ini beberapa tikus setelah dicek katanya masih ada pembawa carier," ujar Ibnu.

Sebelumnya, pihak berwenang China waspada setelah sejumlah warga mengidap bubonic. Bubonic merupakan sebuah penyakit yang berasal dari bakteri Yersinia pestis. Penyakit itu ditularkan oleh tikus yang terinfeksi melalui kutu ke manusia.

China juga menutup sejumlah tempat wisata di bagian utara negara dekat perbatasan Mongolia setelah menemukan sejumlah kasus bubonic atau pes di daerah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Untuk mengobati pasien bubonic, dapat ditangani dengan antibiotik. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tanpa pengobatan, penyakit ini dapat menyebabkan kematian hingga 60 persen.

Wabah bubonic pertama kali dimulai pada abad ke-14 atau sekitar tahun 1347 hingga 1351 di benua Eropa dan membunuh hampir dua per tiga populasi Eropa.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), seseorang yang terinfeksi wabah pes akan mengalami demam, sakit kepala, kedinginan bahkan muncul kelenjar getah bening.

Bakteri berkembang biak di kelenjar getah bening terdekat dengan tempat bakteri masuk ke tubuh manusia. Biasanya, seseorang mengalami gejala-gejala tersebut antara dua atau enam hari setelah terinfeksi.

Penularan penyakit pes dari manusia ke manusia jarang terjadi. Wabah pes juga dapat mempengaruhi paru-paru sehingga menyebabkan batuk, nyeri dada, dan sulit bernapas.

Pengecekan penyakit Pes pada bagian paru-paru akan dilakukan melalui pengambilan sampel yang berasal dari lendir saluran pernapasan melalui metode bronkoskopi. Selain itu, bakteri yang terdapat di dalam wabah pes dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan kondisi yang disebut septikemia atau sepsis.

Septikemia adalah infeksi aliran darah yang cukup serius karena bisa menyebar ke seluruh bagian tubuh, bahkan bisa berujung pada kematian. Selain tikus, ada dua hewan peliharaan yang mesti diwaspadai yaitu kucing dan anjing yang bisa saja memakan tikus yang terinfeksi wabah pes.

Seseorang juga dapat terinfeksi wabah pes melalui luka di kulit jika ia melakukan kontak dekat dengan darah hewan yang terinfeksi.

(dal/DAL)

[Gambas:Video CNN]