Berakibat Fatal, Amoeba Pemakan Otak Ada Sejak 50 Tahun Lalu

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 17:59 WIB
Amoeba menyebabkan penyakit PAM yang menyerang sistem saraf pusat di Australia. Tingkat kesembuhan penyakit ini hanya lima persen. Ilustrasi amoeba pemakan otak. (Foto: iStockphoto/Dr_Microbe)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amoeba pemakan otak menjadi topik pembicaraan hangat setelah bocah enam tahun di Amerika Serikat meninggal pada 8 September 2020 akibat terinfeksi amoeba tersebut. Bocah itu mengalami primary amebic meningoencephalitis (PAM) disebabkan oleh amoeba bernama Naegleria fowleri.

Nyatanya Naegleria fowleri (N. fowleri) telah ditemukan peneliti sejak 50 tahun lalu. Pada 1965, amoeba menyebabkan penyakit PAM yang menyerang sistem saraf pusat di Australia.

Artikel yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Microbiolgy pada 2016 menyebutkan penyakit PAM ternyata berakibat fatal. Tingkat kesembuhan penyakit ini hanya lima persen.


Gejala paling awal termasuk sakit kepala parah, demam tinggi dan leher kaku, diikuti oleh anoreksia, muntah, mudah tersinggung, fotofobia, dan kelainan saraf, termasuk diplopia, lesu, kejang, dan koma. Kelumpuhan saraf kranial dapat mengindikasikan edema otak. Kematian terjadi antara hari ketiga dan ketujuh setelah gejala.

Belum ada obat

Penelitian juga menyoroti hingga saat ini tidak ada pengobatan khusus untuk PAM. Selain itu, amoeba ini dianggap sebagai mikro-organisme yang terabaikan.

Artikel menyoroti bahwa diagnosis yang tepat adalah kunci untuk memilih pengobatan yang tepat. Namun, PAM umumnya tidak dikonfirmasi selama tahap awal infeksi. Kebanyakan orang yang terinfeksi organisme ini meninggal.

Lantaran angka kematian yang tinggi, obat yang lebih efektif sangat dibutuhkan. Penelitian penemuan obat telah meningkat sejak laporan pertama PAM. Pada 1969, peneliti menemukan bahwa hanya amfoterisin B (AmB) yang memiliki efek amoebicidal in vitro (pengujian lab) dan efek perlindungan in vivo (pengujian makhluk hidup).

Penting untuk dicatat bahwa AmB tidak secara khusus menargetkan terhadap N. fowleri.

Di sisi lain, peneliti telah mengerahkan upaya besar untuk merancang obat yang efektif untuk mengobati PAM dan untuk memahami patogenesis PAM selama 50 tahun terakhir.

Para peneliti berusaha memahami hal-hal seperti patologi, biologi molekuler dan seluler, diagnosis dan pencegahan, serta implikasi biologisnya, termasuk genotipe patogen, distribusi dan ekologinya.

Dilansir dari Microbiology Society, gejala khas PAM muncul selama minggu pertama setelah terinfeksi N. fowleri trophozoites. Tidak ada gambaran klinis yang membedakan PAM dari jenis meningitis lainnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi dokter untuk mendapatkan riwayat klinis pasien secara rinci

N. fowleri menginfeksi manusia dari berbagai usia yang bersentuhan dengan air yang terkontaminasi mikroorganisme ini. N. fowleri tersebar di seluruh dunia dan ditemukan tumbuh di perairan tawar di lingkungan tropis dan subtropis.

Mengingat perkembangan PAM yang cepat dan angka kematiannya yang tinggi, peneliti menyebut pentingnya penyelidikan terus berlanjut dan kolaborasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang patogenesis penyakit ini demi pengembangan obat.

Dilansir dari National Center for Biotechnology Information, artikel mengungkap PAM adalah penyakit akut dan fatal yang baru-baru ini menjadi lebih umum di negara maju dan tertinggal. Jumlah kasus PAM dapat meningkat karena pemanasan global, kelebihan populasi global dan peningkatan aktivitas industri.

(jnp/mik)

[Gambas:Video CNN]