GBG Prediksi Peningkatan Penipuan Siber di Indonesia

GBG, CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2020 15:03 WIB
GBG mendorong institusi finansial dalam negeri untuk melakukan proteksi lebih untuk melindungi nasabah. Ilustrasi penipuan siber. (Foto: Istockphoto/ Xijian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan teknologi global dalam manajemen fraud dan compliance, verifikasi identitas dan intelijen data berbasis lokasi GBG menyatakan bahwa tingkat fraud atau kejahatan penipuan siber di Indonesia bakal meningkat drastis sampai setidaknya tahun depan.

APAC Managing Director GBG June Lee mengungkapkan, money mule adalah tipe fraud terbesar kedua yang tercatat berdampak signifikan pada institusi finansial Indonesia pada tahun lalu. Trik penipuan yang kerap melibatkan social engineering dan skema first party fraud itu diprediksi meroket hingga 68 persen pada 2020-2021.

Selain money mule, lewat survei yang dilakukan bersama The Asian Banker, GBG juga menemukan pemalsuan dan pencurian identitas menjadi jenis fraud tertinggi di Indonesia. June menekankan kepada institusi finansial dalam negeri untuk lebih protektif menjaga keamanan digital nasabah. Ia menilai transisi dan adopsi layanan keuangan digital sebagai tantangan institusi finansial harus segera dilakukan.


"Orang Indonesia pada umumnya sangat terbiasa bertatap muka secara langsung. Melalui penelitian tersebut, unbanked, atau segmen yang secara historis tidak menggunakan atau tersentuh layanan perbankan, juga memproyeksikan tingkat pertumbuhan terbesar sebagai fokus segmen pelanggan baru oleh institusi finansial lokal. Hal ini bukan hanya tentang membuat konsumen beralih menuju adopsi digital, tetapi juga upaya organisasi agar memiliki sarana yang mampu secara inovatif memadukan penilaian risiko kredit seluler dengan teknologi penipuan dan menjembatani kurangnya data," kata June.

Survei tersebut, ungkap June, dilakukan di lebih dari 300 institusi finansial di Indonesia, China, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia. Tujuannya, menganalisis dampak penipuan pada institusi finansial dan teknologi yang akan digunakan dalam mengatasi ancaman penipuan siber, dan cara mengantisipasi pola atau jenis penipuan baru.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pandemi Covid-19 dan implementasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mendorong konsumen untuk mengakses produk dan layanan keuangan lewat aplikasi seluler dan situs daring, antara lain layanan pinjaman online atau pinjol. Pinjol disebut menjadi prioritas teratas bagi 43 persen institusi finansial Indonesia pada 2020-2021 dalam penyediaan akses pinjaman cepat. Menurut June, hal ini terbukti dengan akselerasi produk pinjaman online dalam negeri yang tahun ini melampaui negara-negara lain di Asia Pasifik.

Antisipasi terhadap ragam fraud itu diyakini bisa dilakukan bersama GBG, yang memberikan digital risk management dan intelligence platform mencakup seluruh proses digital onbroading, serta memonitor perjalanan transaksi pengguna. Teknologi digital end to end dan compliance akan memudahkan perbankan dan institusi finansial lain untuk memaksimalkan keakuratan deteksi penipuan hingga 30 persen, sehingga pengalaman pelanggan hingga upaya perlindungan di Indonesia dapat ditingkatkan.

"Platform ini menawarkan pilihan menambah modul GBG Machine Learning untuk mengurangi false positive dan modul orkestrasi lainnya untuk meningkatkan deteksi fraud, dengan deretan solusi dari GBG untuk membantu institusi finansial dan pemerintah dalam memerangi fraud dan kejahatan siber finansial," ujar June.

Ia menambahkan, "Tujuan kami adalah menciptakan keseimbangan untuk meniadakan maraknya pola penipuan digital dan menciptakan lingkungan perbankan digital yang aman bagi masyarakat Indonesia."

GBG adalah perusahaan yang menyediakan solusi untuk proses validasi dan verifikasi identitas institusi finansial. Memanfaatkan teknologi, data, dan keahlian, mereka menjanjikan klien dapat bertransaksi cepat dan aman secara daring. GBG yang berkantor pusat di Inggris dengan 1.000 anggota tim di 16 negara, telah mendapatkan banyak apresiasi internasional seperti dalam Asia Risk Awards 2020 serta Credit & Collections Technology Awards 2019.

(rea)