Menristek: Siklus Bencana Jadi Acuan Kapan Tsunami di RI

CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2020 20:21 WIB
Jejak sejarah bencana alam disebut bisa digunakan sebagai acuan memprediksi gempa atau tsunami di Indonesia dalam waktu dekat. Ilustrasi gempa dan tsunami. (AFP Photo/Frederick Florin)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Nasional (Menristek/ Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro menjelaskan jejak sejarah gempa dan tsunami bisa digunakan sebagai acuan untuk memprediksi terjadinya gempa atau tsunami di Indonesia.

Dengan melihat jejak sejarah, peneliti seismologi bisa menentukan siklus terjadinya gempa maupun tsunami di Indonesia sehingga bisa melakukan langkah mitigasi. Bambang mengatakan hingga saat ini belum ada metode atau teori yang dapat memprediksi waktu dan lokasi gempa atau tsunami.

"Yang kita perlukan untuk mitigasi bencana itu adalah pengetahuan informasi dan segala macam sejarah local wisdom yang kita tahu. Terkadang kita anggap tak pernah ada cerita soal gempa, padahal sejarah bisa ajarkan kepada kita entah ratusan tahun lalu di suatu tempat terjadi gempa dan tsunami yang bisa ubah peradaban," ujar Bambang dalam diskusi virtual 'Risiko Tsunami di Selatan Jawa', Rabu (30/9)


Bambang mengatakan prediksi siklus bencana melalui sejarah ini juga harus didukung dengan pendekatan saintifik. Pendekatan ini dilakukan dengan penelitian soal potensi-potensi gempa di suatu daerah. Misalnya dengan melihat jalur sesar di suatu daerah dan melihat keaktifan jalur tersebut.

Bagi Bambang, mitigasi didasari dengan pengetahuan mendalam demi kesiapsiagaan terhadap bencana untuk mengurangi dampak dari bencana alam.

Salah satu bentuk mitigasi bencana adalah dengan memindahkan warga yang berada di daerah rawan bencana. Pencegahan bencana berulang dengan dampak yang besar bisa dilakukan dengan melihat siklus terjadinya bencana.

"Karena kalau kita anggap enteng potensi gempa dengan mengatakan gempa bahwa gempa itu terjadi 100 atau 300 tahun lalu, itu akan mengarah pada kelalaian fatal sehingga menyebabkan korban besar," kata Bambang.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti sekaligus Guru Besar Seismolog ITB, Sri Widiyantoro mengatakan definisi prediksi gempa adalah menentukan koordinat, kedalaman, hingga kekuatan gempa. Dengan definisi itu, Sri menjelaskan peneliti hingga saat ini tidak dapat memprediksi gempa.

"Definisi prediksi gempa kapan akan terjadi, posisi di mana, posisi tidak hanya koordinat tapi kedalamannya berapa dan magnitudonya berapa. Kalau misalnya magnitudo 9 tapi kedalamannya 600 maka efek di permukaan tak terlalu besar. Dengan definisi itu sangat sulit memprediksi gempa," tutur Sri.

Lebih lanjut, Peneliti Geologi Kegempaan LIPI Danny Hilman mengakui bahwa gempa dan tsunami memiliki siklus yang selalu berulang ratusan hingga ribuan tahun. Sayangnya ada beberapa gempa dan tsunami lampau yang tak tercatat sejarah karena tak terdokumentasi.

"[Untuk] memprediksi gempa besar ] kita harus tahu dulu kapan pernah terjadi gempa besar," kata Danny.

Sebelumnya, hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap jalur sepi gempa (seismic gap) di Samudera Indonesia Selatan Jawa. Seismic gap ini berpotensi sebagai sumber gempa besar megathrust yang membangkitkan tsunami setinggi 20 meter.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]