Eks CEO Google Sebut Medsos Amplifikasi 'Orang-orang Bodoh'

CNN Indonesia | Senin, 26/10/2020 12:36 WIB
Mantan CEO Google, Eric Schmidt mengungkapkan jejaring media sosial bisa mengamplikasi informasi dari 'orang-orang bodoh', karena itu diperlukan regulasi. Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Chief Executive Officer Google, Eric Schmidt mengungkapkan dampak berlebih dari jejaring media sosial kemungkinan bisa mengamplifikasi pendapat 'orang-orang bodoh'.

Padahal menurut dia, hal tersebut bukan merupakan tujuan dari platform internet yang sesungguhnya.

"Konteks dari jaringan sosial yang berfungsi memperkuat orang-orang ididot dan gila bukanlah yang kami inginkan," tutur Schmidt pada konferensi virtual dikutip dari Livemint.


Schimdt tak merinci maksud 'kami' dalam pernyataan tersebut mengacu pada siapa. Hanya saja, laporan The Verge menulis, kemungkinan pernyataannya itu terkait seluruh industru teknologi yang dianggap gagal mencegah situs seperti Facebook dan Twitter dalam menciptakan 'gema' bagi polarisasi politik di seluruh dunia.

Meskipun, sebagian orang pun berpendapat bahwa jejaring media sosial tak sepenuhnya bisa disalahkan dan berdiri sendiri dalam problem ini.

Youtube Google disebut telah mencoba mengurangi penyebaran informasi bohong dan hoaks tentang Covid-19 serta politik Amerika Serikat selama setahun terakhir, dengan hasil yang beragam. Sementara Facebook dan Twitter dilaporkan mendapat kecaman dlaam beberapa tahun belakangan lantaran mengizinkan pesan rasis dan diskriminatif menyebar secara online.

Schmidt yang meninggalkan Dewan Induk Google Alphabet pada 2019 tapi masih menjadi salah satu pemegang saham terbesar ini mengatakan, gugatan monopoli Pemerintah Amerika Serikat pada Google terkait dugaan pelanggaran terhadap Undang-Undang AntiTrust, salah alamat.

Yang bisa dilakukan menurut dia adalah memperbanyak regulasi di platform internet pada tahun-tahun mendatang.

"Saya akan berhati-hati dengan argumen dominasi ini. Saya hanya tidak setuju dengan mereka. Pangsa pasar Google tidak 100 %," ucap Schmidt saat ditanya mengenai gugatan monopoli terhadap Google.

Dalam tuntutan itu pemerintah AS memohon Departemen Kehakiman menyatakan Google melakukan praktik persaingan tidak sehat.

Selain masih memegang saham di Google, Schmidt juga menjadi sosok yang mengendalikan salah satu jejaring sosial terbesar, YouTube. Pada 2006, ia yang memimpin pembelian platform berbagi video ini dengan nilai US$1,65 miliar.

Namun, ia tetap menjabat sebagai CEO Google hingga 2011 dan menjadi ketua eksekutif Alphabet hingga awal 2018. Tahun ini, YouTube mengungkapkan penghasilannya sebesar US$15 miliar per tahun.

Infografis Jalan Panjang Pungut Pajak Google IndonesiaFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Infografis Jalan Panjang Pungut Pajak Google Indonesia
(ryh/NMA)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK