Mengais Memori Sejarah Klub Harley-Davidson di Indonesia

CNN Indonesia | Kamis, 05/11/2020 15:34 WIB
Menurut Indro Warkop, salah satu pendiri Harley-Davidson Club Indonesia, dulu pengguna moge merek AS ini bukan kalangan atas. Ilustrasi Harley-Davidson. (istockphoto/vesilvio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Klub atau komunitas Harley-Davidson di Indonesia kian banyak sejak dimulai dari ibu kota kemudian menyebar ke seluruh penjuru negeri. Situasi bisnis merek moge ikonis asal Amerika Serikat ini juga mempengaruhi perkembangannya.

Belum ada catatan khusus yang dapat memastikan seperti apa sebetulnya awal sejarah klub Harley-Davidson di Indonesia. Saat ini cerita juga sulit dipelajari sebab memori soal itu ikut dibawa sebagian para pendiri klub yang telah berpulang.

Walau begitu kepingan sejarah masih bisa dikumpulkan dari punggawa senior klub, salah satunya dari Indrodjojo Kusumonegoro atau lebih dikenal sebagai Indro Warkop. Beliau adalah salah satu pendiri Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI), klub Harley-Davidson terbesar di dalam negeri dengan jumlah anggota lebih dari 3.000 orang.


"Tapi sekarang seluruh pelaku sejarahnya sudah tidak ada. Itu yang menyebabkan berat untuk kita tahu dari mana. Dan sesepuh kami yang ada di Jakarta maupun Bandung juga sudah tidak ada. Terus terang saya mungkin yang paling tua ya," kata Indro saat dihubungi, Rabu (5/11).

Indro memang bukan orang baru dalam dunia moge Harley-Davidson. Sejak muda ia sudah menggeluti moge, namun baru medio 1970an Indro mulai menggunakan Harley-Davidson. Berdasarkan ingatan dan sumber yang Indro ketahui, ia bilang kumpulan para pengguna Harley-Davidson di Indonesia sudah ada sejak 1958.

"Ya sejarah klub Harley kalau yang saya pelajarin, artinya dari data-data itu sebetulnya dari 1958. Konon adanya itu justru di Purwakarta," kata dia.

Harley-Davidson Club Jakarta (HCJ)

Kata Indro klub Harley-Davidson di Tanah Air sangat beragam, mulai yang campur dengan moge merek lain atau spesial cuma pengguna Harley-Davidson. Namun klub moge paling bersejarah yang ia ketahui adalah Harley-Davidson Club Jakarta (HCJ), klub ini terbentuk sejak 1963 dan menjadi cikal-bakal HDCI.

"Tapi yang bisa saya pertanggungjawabkan dari mulai klub saya dulu HCJ dan sampai 1988 itu saya buat HDCI," kata dia.

Ia mengatakan HDCI dibentuk karena melihat animo pengguna Harley-Davidson di berbagai kota mulai menggeliat. Saat itu HDCI akan dijadikan wadah pengguna Harley-Davidson dengan bendera yang sama.

"HDCI itu sebetulnya bukan klub baru, tapi klub yang menaungi secara nasional klub Harley yang saat itu yang jumlahnya sudah ada 16 klub," ucap Indro.

Ia bercerita ketika ulang tahun HCJ pada 1988, usulan itu kemudian dilontarkan dan diterima seluruh anggota. Kemudian sejak saat itu juga nama HCJ dan belasan klub lain berubah menjadi HDCI.

"Jadi mulai saat ini pakenya HDCI, mulai dari HDCI Solo, HDCI Semarang, dan lainnya jadi per kota ada HDCI. Tapi kami belum gabung, baru tahun 1990 kami punya uang dan lakukan munas pertama. Jadi deklarasi 1988, 26 mei 1990 baru lahir HDCI dengan AD/ART, punya ketua, sejken, dan pengurus," ucap dia.

Satudarah

Perwakilan HDCI Ipung Purnomo juga mengatakan hal serupa. Ipung bilang HCJ merupakan sejarah klub Harley-Davidson di Indonesia.

"Kalau sejarah dari awal itu cikal bakalnya HCJ sekitar tahun 1960an. Baru setelahnya jadi HDCI 1990. Terus ada juga muncul Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI) 1987. Jadi itu yang lama-lamanya dan berkembang banyak sekali," ucap Ipung.

Ipung juga menekankan Harley-Davidson di Indonesia tidak ada kaitannya dengan Satudarah, klub moge yang didirikan sekelompok keturunan Maluku di Belanda. Saat ini Satudarah memiliki banyak cabang di berbagai negara, termasuk Indonesia.

"Yang namanya Satudarah tidak ada, cuma baru-baru saja anak-anak suka nempelin emblemnya di rompi mereka," ungkap Ipung.

Bukan Kaum Borjuis

Pengguna Harley-Davidson saat ini identik kaum borjuis dari kalangan pengusaha, pejabat, hingga artis papan atas. Namun kata Indro para sesepuh pengguna Harley-Davidson tidak demikian.

Menurut Indro yang kini mengaku sudah tak aktif di klub, dulu pengguna Harley-Davidson hanya sekumpulan orang tua yang doyan menunggangi motor lawas.

"Jadi gini, hobi itu satu dari kalangan PNS, pensiunan, eks polisi, tentara, atau orang orang yang senang motor besar. Karena dulu itu motor besar dilihat sebagai motor tua. Baru deh merambah ke orang lain termasuk anak muda. Saya anak muda saat itu yang masuk 1970an," ungkap Indro.

Indro juga mengatakan pengguna Harley-Davidson terdahulu tidak didominasi kaum atas, latar ekonomi kelas satu tidak menentukan kepemilikan.

"Makanya HDCI pertama itu ya milik menengah ke bawah, bukan menengah atas. Kalau sekarang kan menengah atas. Karena motor tua sudah ketinggalan. Seperti saya, saya pendiri tapi sudah tidak di HDCI. Mungkin orang HDCI tidak tau saya pendirinya," ucap Indro sembari tertawa.

Dipicu Penutupan Dealer

Ipung menambahkan klub Harley-Davidson di Indonesia semakin banyak akibat dealer tutup. Sejak 1990-an distribusi unit Harley-Davidson dilakukan oleh Mabua Motor Indonesia yang kemudian menyatakan tutup secara resmi pada Februari 2016.

Penutupan itu juga dikatakan Ipung membuat klub Harley-Davidson Owners Group (HOG), yang terbentuk sejak 1998, memiliki banyak chapter, namun penamaannya mengikuti lokasi distributor.

Usai Mabua tutup pada 2016, kini ada sejumlah distributor baru yang menaungi penjualan Harley-Davidson di Indonesia seperti Anak Elang, Nusantara, hingga Siliwangi.

"Jadi tuh gini kalau HOG Anak Elang, elang berarti anggotanya beli motornya di Anak Elang. Kalau HOG Nusantara berarti belinya di Radio Dalam [Nusantara]. Itu menunjukkan dimana distributor buka, mereka bentuk HOG," ucap Ipung.

"Tapi ya biasanya yang namanya klub ini pasti orang-orangnya tidak akan jauh berbeda. Ya mereka tetap bisa ikut satu atau dua klub berbeda. Seperti ikut HOG, tapi HDCI juga, tapi mereka bukan pengurusnya," sambung Ipung.

(ryh/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK