Ahli Jelaskan Prediksi Tata Surya Musnah Lebih Cepat

CNN Indonesia | Senin, 30/11/2020 10:05 WIB
Ahli prediksi tata surya bakal musnah lebih cepat dan membeberkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Ilustrasi tata surya (exoplanets.nasa.gov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penelitian baru menunjukkan Tata Surya yang berisi Matahari dan planet-planet termasuk Bumi, kemungkinan akan musnah lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Tata Surya disebut akan mengalami disintegrasi. Saat disintegrasi terjadi, satu per satu planet di Tata Surya akan meninggalkan Matahari.

Pada tahun 1999, para astronom meramalkan bahwa Tata Surya perlahan-lahan akan runtuh atau disintegrasi selama setidaknya dalam satu kuantiliun mendatang (angka dengan jumlah nol 18 atau ribuan triliun tahun).


Angka ini didapat dari hitungan mereka terhadap resonansi orbital Jupiter dan Saturnus untuk memisahkan Uranus.

Penelitian oleh Jon Zink dari Universitas California, Los Angeles, Konstantin Batygin dari Caltech dan Fred Adams dari University of Michigan menunjukkan beberapa pengaruh penting yang dapat mempercepat keruntuhan Tata Surya.

Pengaruh pertama adalah Matahari. Dalam waktu sekitar 5 miliar tahun, sebelum mati Matahari akan membengkak menjadi raksasa merah, menelan Merkurius, Venus, dan Bumi.

Kemudian ia akan meletuskan hampir setengah massa, terlempar ke ruang angkasa oleh angin bintang. Matahari akan menjadi bintang katai putih (white dwarf star) dengan massa hanya sekitar 54 persen dari massa Matahari saat ini.

Ketika Matahari kehilangan massa, maka cengkeraman gravitasi Matahari di planet-planet yang tersisa, Mars serta gas luar dan raksasa es, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus akan berkurang.

Kedua, saat Tata Surya mengorbit pusat galaksi, bintang-bintang lain seharusnya berada cukup dekat untuk mengganggu orbit planet. Fenomena ini terjadi sekali setiap 23 juta tahun.

"Dengan memperhitungkan kehilangan massa bintang dan inflasi orbit planet luar, pertemuan ini akan menjadi lebih berpengaruh.Dengan waktu yang cukup, beberapa dari pendekatan ini akan cukup dekat untuk memisahkan atau menggoyahkan planet yang tersisa," kata peneliti.

Simulasi dalam penelitian ini dibagi menjadi dua fase, yaitu simulasi hingga hilangnya massa Matahari, dan fase setelah Matahari kehilangan massa.

Meskipun 10 simulasi bukanlah sampel statistik yang kuat, tim menemukan bahwa skenario serupa dimainkan setiap kali.

Setelah Matahari menyelesaikan evolusinya menjadi katai putih, planet luar memiliki orbit yang lebih besar, tetapi masih relatif stabil.

Jupiter dan Saturnus, terperangkap dalam resonansi 5: 2 yang stabil. Untuk setiap lima kali Jupiter mengorbit Matahari, Saturnus mengorbit dua kali.

Orbit yang diperluas ini, serta karakteristik resonansi planet, membuat sistem lebih rentan terhadap gangguan bintang yang lewat.

Setelah 30 miliar tahun, gangguan bintang tersebut bisa mengguncang orbit yang stabil. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya planet dengan cepat. Planet akan lolos dari orbit dan melarikan diri ke galaksi.

Planet terakhir itu bertahan selama 50 miliar tahun lagi, tetapi nasibnya telah ditentukan. Selanjutnya, planet itu pun terlepas oleh pengaruh gravitasi bintang-bintang yang lewat.

Akhirnya dalam 100 miliar tahun setelah Matahari berubah menjadi katai putih, Tata Surya menghilang dari alam semesta.

Dilansir dari Science Alert, perhitungan ini adalah jangka waktu yang jauh lebih pendek daripada yang diusulkan pada tahun 1999. Perhitungan baru menunjukkan Tata Surya akan runtuh dalam waktu beberapa triliun ke depan, bukan lagi 1 kuantiliun. 

Dilansir dari Space Daily, peneliti mencatat dengan hati-hati, itu bergantung pada pengamatan terkini dari lingkungan galaksi lokal, dan perkiraan jarak tempuh bintang, yang keduanya dapat berubah. 

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK