Mengenal Jenis Batu Meteorit Macam Meteor Jatuh di Tapanuli

CNN Indonesia | Kamis, 19/11/2020 17:26 WIB
Meteorit adalah batuan luar angkasa yang jatuh ke permukaan bumi. Batu meteor adalah batu dari ruang angkasa yang sedang terbakar di atmosfer. Batu meteor yang jatuh di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. (Foto: Abdi Somat Hutabarat/detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia --

Batu meteorit dilaporkan jatuh di kawasan Satahi Nauli, Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 1 Agustus 2020. Ada empat meteorit yang ditemukan saat itu dengan bobot total mencapai 2,55 kilogram.

Meteorit yang saat ini diduga dijual di eBay seharga ribuan dollar itu diklasifikasikan sebagai Kondrit berkarbon (CM1/2).

Melansir National Geographic, meteorit adalah batuan luar angkasa yang jatuh ke permukaan bumi. Batu meteor adalah batu dari ruang angkasa yang sedang terbakar di atmosfer. Sementara meteorit adalah meteor yang sampai ke muka Bumi.


Tercatat lebih dari 60 ribu meteorit telah ditemukan di Bumi. Para ilmuwan membagi meteorit ini menjadi tiga jenis utama, yakni berbatu, besi, dan besi berbatu. Masing-masing jenis itu memiliki banyak sub-kelompok.

Meteorit batu tersusun dari mineral yang mengandung silikat, bahan yang terbuat dari silikon dan oksigen. Mereka juga mengandung beberapa logam, nikel dan besi. Ada dua jenis utama meteorit berbatu, yakni kondrit dan akondrit.

Kondrit sendiri diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yakni biasa dan karbon. Kondrit biasa adalah jenis meteorit berbatu yang paling umum. Sebanyak 86 persen dari semua meteorit yang jatuh ke Bumi merupakan kondrit biasa.

Kondrit terbentuk dari debu dan partikel kecil yang bersatu membentuk asteroid di tata surya awal, lebih dari 4,5 miliar tahun yang lalu. Karena terbentuk pada waktu yang sama dengan tata surya, kondrit merupakan bagian integral dari studi tentang asal-usul, usia, dan komposisi tata surya.

Sedangkan kondrit berkarbon diketahui jauh lebih jarang daripada kondrit biasa. Para astronom menilai kondrit karbon terbentuk jauh dari matahari, saat tata surya awal berkembang.

Sesuai dengan namanya, kondrit berkarbon mengandung unsur karbon, biasanya berupa senyawa organik seperti asam amino. Kondrit berkarbon juga sering mengandung air atau bahan yang dibentuk oleh adanya air.

Seperti kondrit biasa, kondrit berkarbon dapat diklasifikasikan secara lebih singkat berdasarkan komposisi mineralnya. Semua kelompok kondrit berkarbon ditandai dengan kode dua atau tiga huruf yang dimulai dengan C. Kondrit berkarbon sering dinamai sesuai dengan spesimen pertama dari jenis yang ditemukan.

Sedangkan meteorit besi sebagian besar terbuat dari besi dan nikel. Mereka berasal dari inti asteroid dan menyumbang sekitar 5 persen meteorit di Bumi.

Meteorit besi adalah meteorit paling masif yang pernah ditemukan. Komposisi mineral mereka yang berat karena mengandung besi dan nikel seringkali memungkinkan mereka untuk tetap utuh saat jatuh ke bumi. Meteorit terbesar yang pernah ditemukan, meteorit Hoba Namibia adalah meteorit besi.

Adapun meteorit memiliki jumlah mineral silikat dan logam. Satu kelompok meteorit berbatu-besi, pallasites, mengandung kristal olivin kuning-hijau yang terbungkus logam mengkilap.

Para astronom berpendapat bahwa banyak pallasites adalah peninggalan dari batas mantel inti asteroid. Komposisi kimianya mirip dengan banyak meteorit besi, membuat para astronom berpikir mungkin mereka berasal dari berbagai bagian asteroid yang sama yang pecah saat menabrak atmosfer bumi.

Melansir NASA, para ilmuwan memperkirakan bahwa sekitar 48,5 ton (44.000 kilogram) materi meteorit jatuh di Bumi setiap hari.

NASA mengatakan sebagian besar batuan luar angkasa yang lebih kecil dari lapangan sepak bola akan pecah di atmosfer bumi. Melaju dengan kecepatan puluhan ribu mil per jam, meteor biasanya hancur karena tekanan melebihi kekuatan objek, menghasilkan suar yang terang.

Biasanya kurang dari 5 persen dari objek asli yang akan jatuh ke tanah. Meteorit, potongan meteor yang ditemukan biasanya berkisar antara ukuran kerikil dan kepalan tangan.

NAS mengingatkan jangan berharap menemukan meteorit setelah hujan meteor. Sebagian besar hujan meteor berasal dari komet yang materialnya cukup rapuh. Fragmen komet kecil umumnya tidak akan bertahan masuk ke atmosfer Bumi.

NASA menyampaikan sebagian besar meteorit yang ditemukan di Bumi berasal dari asteroid yang hancur, meskipun beberapa berasal dari Mars atau Bulan. Secara teori, potongan kecil Merkurius atau Venus juga bisa mencapai Bumi, tetapi tidak ada yang dapat diidentifikasi secara meyakinkan.

Para ilmuwan dapat mengetahui dari mana meteorit berasal berdasarkan beberapa bukti. Mereka dapat menggunakan pengamatan fotografi meteorit jatuh untuk menghitung orbit dan memproyeksikan jalur mereka kembali ke sabuk asteroid.

Mereka juga dapat membandingkan sifat komposisi meteorit dengan kelas asteroid yang berbeda. Serta mereka dapat mempelajari berapa usia meteorit tersebut hingga 4,6 miliar tahun.

(jps/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK