Menristek Bikin Tim Percepatan Vaksin Merah-Putih

CNN Indonesia | Jumat, 04/12/2020 10:18 WIB
Menristek/ BRIN Bambang Brodjonegoro membentuk tim nasional percepatan pengembangan vaksin corona merah putih. Ilustrasi. Menristek resmikan tim nasional percepatan pengembangan vaksin corona lokal Merah Putih (AP/Hans Pennink)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro meresmikan Tim Nasional Pengembangan vaksin corona Merah-Putih hari ini, Kamis (3/12).

Bambang menyerahkan Surat Keputusan tim tersebut kepada tim peneliti LIPI dan Universitas Indonesia yang terlibat dalam pengembangan vaksin Merah-Putih.

Vaksin Covid-19 buatan dalam negeri sendiri pengembangannya menggunakan isolat virus yang bertransmisi di Indonesia.


"Dengan populasi sebesar 270 jiwa, Indonesia memiliki kebutuhan vaksin yang besar. Apalagi nanti akan ada revaksinasi atau booster vaksin," kata Bambang secara virtual, Kamis (3/12).

"Oleh karena itu, selain adanya vaksin kerja sama dengan luar negeri, pengembangan vaksin dalam negeri untuk mendukung kemandirian vaksin sangat diperlukan," tambahnya.

Saat ini, ada 6 lembaga yang turut mengembangankan Vaksin Merah-Putih, yaitu LBM Eijkman, Unair, LIPI, UI, ITB, dan UGM dengan masing-masing platform yang berbeda.

Sebelumnya, Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nasional Wiku Adisasmito menyebut vaksin Merah Putih masih dikembangkan oleh enam perguruan tinggi dan lembaga penelitian terkemuka di Indonesia.

Harapannya, bibit vaksin karya anak bangsa itu dapat diserahkan kepada PT Bio Farma pada 2021. Selanjutnya Bio Farma akan melakukan uji klinis tahap 1 sampai dengan 3.

"Jika seluruh tahapan uji klinis berjalan dengan baik, maka izin edar diproyeksikan diperoleh pada akhir tahun 2021, dan akan didistribusikan pada awal tahun 2022," ujar Wiku dikutip melalui laman resmi #SatgasCovid19, Jumat (20/11).

Selain itu, saat ini juga dilakukan uji klinis tahap 3 terhadap kandidat vaksin Covid-19 dari Sinovac. Pada uji klinik tersebut, tidak ditemukan Gejala Ikutan Paska Imunisasi (KIPI).

Dari uji klinis terhadap 1.620 relawan yang dilakukan beberapa waktu lalu di Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, hanya ditemukan gejala ringan seperti nyeri dan pegal-pegal otot pada bekas suntikan.

"Tidak ditemukan efek samping serius dari vaksin maupun vaksinasi," ujar Wiku.

Lebih lanjut, Satgas Covid-19 akan terus memantau perkembangan uji klinis dan perkembangan status kehalalannya. Pemerintah, lanjutnya, juga berupaya agar program vaksinasi dapat segera berjalan.

Hal ini diwujudkan melalui simulasi vaksinasi yang ditinjau langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu (18/11) di Puskesmas Tanah Sareal, Bogor, Jawa Barat. Simulasi ini merupakan upaya memastikan kesiapan masyarakat dalam melakukan vaksinasi.

(din/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK