Beda Dua Jenis Ganja THC dan CBD Saat Dikonsumsi

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 04/12/2020 15:22 WIB
Ganja memiliki beragam jenis zat yang menenangkan bagi penggunanya. Ilustrasi tanaman Ganja untuk pengobatan. (Foto: ANTARA FOTO/FAUZAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ganja memiliki beragam jenis kandungan, salah satunya menyebabkan efek rileks atau santai yang diyakini beberapa orang dapat membuatnya lebih mudah untuk tidur.

Para ahli telah mengidentifikasi lebih dari 100 jenis cannabinoid yang berbeda di tanaman ganja, tetapi yang paling sering muncul sebagai bahasan publik adalah delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD).

Zat yang memberikan efek semacam rileks juga dimiliki delta 9-tetrahydrocannabinol atau disingkat THC. THC kemudian diklaim mampu menciptakan efek euforia berlebihan alias kesenangan tanpa sebab dalam waktu relatif lama dan membuat para penggunanya ketagihan dalam mengkonsumsi ganja.


Melansir laman media digital Skotlandia, Mashable, Jumat (4/11), para peneliti telah mengidentifikasi dua reseptor dalam tubuh manusia yang merespons ganja, yang dikenal sebagai CB1 dan CB2. Reseptor CB1 paling menonjol di sistem saraf pusat, sedangkan reseptor CB2 lebih banyak ditemukan di sistem saraf tepi.

Reseptor ini adalah bagian dari sistem endocannabinoid yang lebih besar, yang membantu mengatur sekresi hormon untuk mempengaruhi nafsu makan, suasana hati, dan energi.

THC sendiri merupakan aktivator dari reseptor CB1. Sehingga ketika ganja diberikan kepada orang-orang yang reseptor CB1-nya ditolak (oleh obat lain, yang disebut antagonis), maka ganja tidak bisa membuatnya merasakan sensasi 'high'. Dan sebaliknya, THC memiliki afinitas untuk mengikat reseptor CB1 yang bakal memicu perasaan 'high' yang menggembirakan itu.

Studi pencitraan otak juga telah menunjukkan peningkatan aliran darah ke daerah korteks prefrontal otak selama kecanduan THC. Wilayah otak ini bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan, perhatian, dan fungsi eksekutif lainnya, seperti keterampilan motorik. Singkatnya, kecanduan THC dapat mempengaruhi salah satu fungsi ini dengan derajat yang berbeda-beda tergantung pada orangnya.

Zat CBD tanaman ganja

Sedangkan kandungan yang dimiliki ganja lainnya adalah CBD atau cannabidiol, yang efeknya berlawanan dengan THC. Para ahli pun menemukan bahwa zat ini memicu kegelisahan dan paranoia. CBD juga memiliki afinitas yang lebih kuat dengan reseptor CB2, itulah sebabnya CBD dapat mengurangi peradangan tanpa menjadi psikoaktif.

Melansir dari laman perusahaan teknologi yang melayani industri ganja, Weedmaps, disebutkan bahwa penggunaan THC dan CBD dapat menjadi kesatuan yang lebih baik daripada pengguna mengkonsumsi THC saja yang bisa menyebabkan 'high' dan kecanduan.

CBD diklaim dapat melindungi dari kerusakan kognitif yang terkait dengan paparan konsumsi THC yang berlebihan. Sebagian konsumen ganja melaporkan lebih sedikit merasakan cemas dan paranoid saat mereka mengkonsumsi produk dengan THC dan CBD, dibandingkan dengan produk yang hanya mengandung THC saja.

Dalam sebuah studi di Journal of Psychopharmacology, peserta yang diberi CBD sebelum diberikan dosis THC murni mengalami gangguan kognitif dan paranoia yang lebih sedikit dibandingkan peserta yang hanya menerima THC murni. Sehingga CBD seolah menjadi "penawar" untuk mengatasi masalah.

Selain itu, sebuah studi yang diterbitkan pada Maret 2018 menemukan bahwa bila kedua kandungan itu digunakan bersama obat antipsikotik, maka hasilnya CBD akan membantu mengurangi gejala pada pasien skizofrenia.

Sementara itu, Healthline memaparkan beberapa efek samping yang ditimbulkan dari pemakaian THC dan CBD. THC memberikan efek samping yang cukup berbahaya daripada CBD, yakni peningkatan detak jantung, mudah gelisah, mata merah, mulut kering, hingga hilang ingatan.

Sedangkan CBD diklaim memberikan efek yang masih dapat ditoleransi oleh tubuh. Di antaranya adalah penurunan berat badan, pusing, diare, kelelahan dan nafsu makan yang tidak stabil.

Belakangan ini ganja sempat menjadi obrolan publik usai Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merestui rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) belakangan ini memutuskan untuk menghapus ganja dari kategori obat paling berbahaya di dunia dan bisa digunakan untuk keperluan medis.

Kesepakatan itu membuka pintu bagi pengembangan potensi pengobatan dan terapi obat-obatan, kendati di sebagian besar negara penggunaan ganja untuk keperluan medis masih ilegal. Di sisi lain, perubahan ini bisa menjadi upaya legalisasi ganja di seluruh dunia.

Di Indonesia dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ganja sendiri tergolong narkotik golongan I bersama dengan sabu, kokain, opium, heroin. Izin penggunaan terhadap narkotika golongan I hanya dibolehkan dalam hal-hal tertentu. Dan di luar itu, maka dianggap melanggar hukum alias ilegal.

Selain itu, UU Nomor 35/2009 juga melarang konsumsi, produksi, hingga distribusi narkotika golongan I. Kemudian, setiap orang yang memproduksi atau mendistribusikan narkotika golongan I diancam hukuman pidana penjara hingga maksimal seumur hidup atau hukuman mati. Sementara bagi penyalahguna narkotika golongan I diancam pidana paling lama 4 tahun.

Regulasi tersebut juga menoreh beberapa kasus penggunaan ganja untuk medis di Indonesia. Belum lama ini, Reyndhart Rossy Siahaan dijatuhi vonis 10 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) terkait penggunaan ganja pada (22/6).

Dalam kasus ini, Reyndhart sebelumnya ditangkap pada 17 November 2019 oleh Polda NTT, setelah diduga menggunakan narkoba jenis ganja untuk mengobati penyakitnya. Ia meminum air rebusan ganja untuk mengobati penyakit gangguan saraf terjepit yang dideritanya sejak 2015.

Tak hanya Rossy, kasus serupa pernah dialami oleh Fidelis Arie Sudewarto. Ia pun sempat divonis delapan bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sanggau, Kalimantan Barat, pada 28 Februari 2017. Fidelis terbukti bersalah menanam dan memiliki 39 batang ganja, meski untuk pengobatan penyakit langka yang diderita istrinya, Yeni Riawati.

Adapun vonis ini lebih berat dari tuntutan jaksa yang menuntut lima bulan penjara dan denda Rp 800 juta subsider satu bulan kurungan. Jaksa menilai Fidelis dengan Pasal 111 ayat 2 Undang-undang Narkotika. Pasal itu mengatur tentang pidana minimum 5 tahun penjara.

(mik/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK