BATAN Ungkap Kendala RI Tiru Matahari Buatan China

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Kamis, 10/12/2020 08:18 WIB
Proyek Matahari buatan China menyedot dana sampai Rp300 triliunan yang jadi kendala Indonesia. Pemerintah Indonesia pun belum memprioritaskan penelitian itu. Matahari buatan China akan dijual pada 2050. (Foto: AFP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Dhandang Purwadhi mengungkapkan kendala Indonesia dalam meniru penelitian Matahari buatan China yang memanfaatkan tenaga nuklir.

Menurut Dhandang, kendala pertama adalah masalah pendanaan. Sebabnya, dana yang dibutuhkan untuk melakukan riset reaktor fusi nuklir sangat besar. Diketahui, untuk melakukan riset reaktor fusi nuklir, yang dilakukan China menggunakan Tokamak menghabiskan sekitar US$ 22,5 miliar, atau setara dengan Rp310 triliun.

Sementara menurut pengakuan Dhandang, dana riset di BATAN per tahunnya tidak mencapai Rp1 triliun.


"Riset reaktor fusi membutuhkan dana yang sangat besar untuk pengadaan komponen berkualitas khusus serta SDM kompeten, untuk diketahui dana riset seluruh BATAN saat ini tidak mencapai Rp1 triliun per tahun," kata Dhandang saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Disamping kendala dana, Indonesia juga dihadapkan dengan kendala lain, seperti ketersediaan SDM peneliti dan komponen untuk membuat fusi nuklir.

Untuk SDM sendiri, Dhandang menjelaskan Indonesia memiliki peneliti dengan kompetensi utama di bidang tenaga nuklir, namun masih dinilai kurang untuk melakukan riset penelitian reaktor fusi.

Hal itu menurut Dhandang, bisa teratasi dengan melakukan pendidikan dan pelatihan reaktor fusi. Selain itu, pihaknya juga bisa meminta Badan Tenaga Atom Internasional untuk mendongkrak level kompetensi peneliti di Indonesia.

"Strategi ini juga dilakukan oleh China, yang penting ada kemauan dan pendanaan, saya yakin [Indonesia] bisa," tuturnya.

Selain itu, kendala yang harus dihadapi Indonesia untuk membuat reaksi fusi yaitu ketersediaan komponennya yang harus didatangkan dari luar negeri karena belum tersedia di Indonesia.

Material seperti super konduktor, high grade grafit, dan konektor listrik-elektrik berkualitas tinggi belum mampu diproduksi dari dalam negeri. Bahkan China sendiri, kata Dhandang belum mampu memenuhi semua komponen tersebut.

"Indonesia bisa membangun reaktor fusi Tokamak, dengan catatan kita membutuhkan komponen dari luar negeri, material berkualitas tinggi harus diimpor termasuk instrumen pengukur, demikian pula halnya dengan China, tidak semua komponen dipenuhi dari dalam negeri," jelas Dhandang.

Reaktor fusi belum prioritas RI

Dhandang menjelaskan, BATAN tidak memiliki topik untuk mengembangkan atau meneliti reaktor fusi karena tidak ada dalam Prioritas Riset Nasional (PRN). Meski demikian, hal itu tidak menutup penelitian reaktor fusi oleh individu atau lembaga di Indonesia.

"Dalam Renstra terbaru BATAN tidak ada program yang mengarah ke litbang reaktor fusi, karena tidak ada topik dalam Prioritas Riset Nasional (PRN) kita. Tetapi mungkin saja ada mahasiswa postgraduate atau postdoctoral yang sedang belajar atau riset di luar negeri, mengerjakan riset terkait dengan reaktor fusi," ucapnya.

Penelitian Matahari Buatan dikembangkan oleh para peneliti China. Penelitian ini menggunakan Tokamak, alat yang dibuat untuk membuat reaksi fusi nuklir. Matahari buatan ini diklaim dapat menghasilkan energi tanpa batas.

Energi yang dihasilkan berasal dari reaksi fusi. Proses ini disebut-sebut aman dan ramah lingkungan karena tidak meninggalkan limbah radioaktif. Selain itu, unsur yang digunakan juga merupakan unsur ringan yakin deuterium dan trtitium.

Proyek fusi nuklir di China ini bekerja sama dengan Reaktor Termonuklir Internasional (ITER) Perancis. Rencananya, proyek ini akan dikomersialisasikan mulai 2050.

(mln/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK