Menanti Gerhana Matahari Total di Indonesia pada 2023

CNN Indonesia | Selasa, 15/12/2020 07:50 WIB
Gerhana Matahari Total pada 14 Desember telah selesai, fenomena langit ini akan terjadi di Indonesia pada 2023 dan bisa dilihat dari NTT dan Papua. Antusiasme warga menonton gerhana matahari total. (AP/Esteban Felix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gerhana Matahari Total (GMT) telah berlangsung pada Senin (14/12). Fenomena GMT kali ini dilaporkan hanya terjadi di beberapa wilayah, yakni Chili, Argentina, Afrika, dan Antartika.

GMT adalah fenomena ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari. Peristiwa itu membuat wilayah yang terdampak akan menjadi gelap beberapa saat seperti dilaporkan terjadi di Chile selatan dan Argentina selama sekitar 2 menit.

Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto menjelaskan Gerhana Matahari terjadi ketika piringan Bulan menutupi piringan Matahari bila dilihat dari satu titik di muka Bumi. Hal itu bisa terjadi karena Bulan berada dekat dengan titik simpul orbitnya mengitari Bumi.


Sedangkan GMT terjadi ketika seluruh piringan Matahari terutup oleh piringan Bulan. GMT bisa disaksikan di daerah tertentu di permukaan Bumi dan sebagian daerah lainnya bisa menyaksikan Gerhana Matahari sebagian.

Rhorom menyampaikan gerhana matahari terjadi setiap tahun. Berdasarkan data dalam tiga dekade mendatang (2021-2050), dia membeberkan akan terjadi 19 GMT, 21 Gerhana Matahari Sebagian, 22 Gerhana Matahari Cincin, dan 4 Gerhana Matahari Hibrida (Cincin + Total).

Kepala Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Hendra Suwarta Suprihatin berkata GMT terdekat akan terjadi pada 2021. Kemudian juga akan terjadi pada 2023, 2024, dan 2026.

GMT tidak terjadi di lokasi yang sama dalam waktu berdekatan. Butuh waktu sekitar 350 tahun bagi GMT terjadi di lokasi yang sama.

GMT akan bisa disaksikan lagi pada 20 April 2023 di Indonesia namun lokasinya berbeda dengan GMT yang sempat terjadi pada Maret 2016. GMT pada 2023 terjadi saat berlangsungnya Gerhana Matahari Hibrida (GMH), lokasi GMT dan GMH pada 2023 berada di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

GMT tidak diperkenankan untuk dilihat dengan mata telanjang. LAPAN menyarankan pengamatan menggunakan kacamata gerhana atau teleskop yang sudah dilengkapi filter.

GMT disebut dapat menyebabkan penurunan suhu atmosfer di daerah gerhana karena cahaya matahari ke daerah tersebut berkurang seketika. Selain itu bisa juga menyebabkan penurunan proses ionisasi di lapisan ionosfer yang kemudian mengurangi kualitas komunikasi radio frekuensi tinggi (HF).

(pjs/fea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK