BioNTech Klaim Bisa Buat Vaksin Mutasi Corona dalam 6 Pekan

CNN Indonesia | Kamis, 24/12/2020 14:30 WIB
CEO BioNTech Ugur Sahin mengklaim perusahaannya mampu menggunakan teknologi yang ada untuk menghasilkan vaksin mutasi virus corona baru. CEO BioNTech Ugur Sahin mengklaim perusahaannya mampu menggunakan teknologi yang ada untuk menghasilkan vaksin mutasi virus corona baru. Ilustrasi. (Dok. CNN.com).
Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan bioteknologi asal Jerman, BioNTech, mengklaim dapat memproduksi vaksin baru untuk melawan mutasi virus corona (covid-19) hanya dalam enam minggu.

CEO BioNTech Ugur Sahin mengatakan perusahaannya mampu menggunakan teknologi yang ada untuk menghasilkan vaksin baru tersebut.

Kendati demikian, Sahin mengklaim vaksin buatan perusahaannya dan Pfizer akan tetap efektif melawan varian baru virus corona.


"Jika tidak, dengan keindahan teknologi messenger mRNA yang sudah ada, kami dapat langsung mulai merekayasa vaksin yang sepenuhnya meniru mutasi baru virus ini dan kami dapat membuat vaksin baru dalam enam minggu," kata Sahin seperti dikutip Financial Times pada Selasa (22/12).

Penemuan kasus infeksi mutasi virus corona baru di Inggris dan Afrika Selatan memicu kewaspadaan dan kekhawatiran dunia. Para ahli memperingatkan virus corona baru ini 70 persen lebih cepat menular.

Puluhan negara segera memberlakukan larangan dan pembatasan kedatangan (travel ban) turis dari/ke Inggris demi mengantisipasi penyebaran kasus Covid-19 yang disebabkan jenis baru virus corona baru tersebut.

Meski begitu, para ahli masih berupaya memahami varian baru virus corona ini dan belum menemukan apakah mutasi corona tersebut menjadikan penularan covid-19 semakin parah atau tidak.

Namun, sebagian ahli mengatakan mutasi dari strain corona baru yang dikenal sebagai B.1.1.7 ini tidak mengganggu efektivitas vaksin yang sudah ada.

"Sebagai seorang ilmuwan, Anda tidak optimis, Anda berpikir tentang segala kemungkinan dan kemungkinan berhasil relatif tinggi," ujar Sahin.

Meski beberapa virus corona bermutasi menjadi varian baru, Sahin mengatakan banyak dari bagian virus yang tidak bermutasi.

"Ini membuat kami yakin bahwa respons vaksin akan tetap berfungsi, tetapi kami perlu melakukan eksperimen untuk mengukur seberapa efektif dan seberapa baik kerjanya," kata Sahin.

Sahin mengatakan butuh waktu dua pekan untuk menyelesaikan pekerjaan laboratorium yang diperlukan untuk membuktikan apakah vaksin corona BioNTech/Pfizer yang sudah ada bisa bekerja efektif terhadap mutasi corona baru ini.

Sebagai informasi, vaksin corona BioNTech/Pfizer sejauh ini telah disetujui penggunaannya di Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Vaksin juga telah didaftarkan di Kanada dan Israel.

(rds/sfr)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK