Mengenal Vaksin Sinovac yang Dipakai RI Basmi Covid-19

CNN Indonesia | Senin, 11/01/2021 17:00 WIB
Vaksin Covid-19 Sinovac adalah vaksin asal China berjenis virus mati yang kini sudah didatangakan Indoensia sebanyak 1,2 juta vaksin. Ilustrasi vaksin Covid-19 Sinovac. (AP/Emrah Gurel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Vaksin Covid-19 Sinovac dari China yang tergolong vaksin virus mati, sudah mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin virus corona (Covid-19) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Senin (11/1).

Izin penggunaan itu dikeluarkan usai hasil evaluasi BPOM menunjukkan bahwa Sinovac memiliki efikasi sebesar 65,3 persen. Pertimbangan izin dikeluarkan setelah melihat imunogenisitas, keamanan, dan efikasi Sinovac telah sesuai standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).


Vaksin Sinovac adalah vaksin berjenis inactivated vaccine atau virus mati. Secara singkat inactivated vaccine adalah vaksin menggunakan versi lemah atau inaktivasi dari virus untuk memancing respons imun.

Vaksin inactivated memerlukan beberapa dosis dari waktu ke waktu untuk mendapatkan imunitas berkelanjutan terhadap penyakit.

Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo menjabarkan virus yang disuntikkan ke manusia itu utuh. Sebelumnya virus itu telah dirusak atau dimatikan secara genetik dengan bahan kimia, suhu panas atau radiasi.

"Sehingga ketika disuntikkan ke manusia tak timbulkan masalah karena materi genetik sudah rusak sehingga tak bisa bereplikasi. Tetapi karena utuh protein spike ini bisa jadi pembelajaran manusia benda asing yang harus dilawan," kata Ahmad.

Vaksin inactivated telah digunakan untuk penyakit Hepatitis A, Flu, Polio, dan Rabies. Bio Farma bekerja sama dengan Sinovac agar bisa memproduksi vaksin yang bernama CoronaVac. Oleh karena itu, uji klinis fase III dilakukan di Indonesia.

Untuk pengujian klinis di Indonesia, Bio Farma bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran untuk menyiapkan uji klinis vaksin Covid-19.

Ketua Tim Riset Uji klinis Vaksin Covid-19 di Bandung, Kusnandi Rusmil menjelaskan munculnya efek samping dalam uji klinis fase III vaksin Sinovac.

Menurutnya, selama 5 bulan timnya telah melakukan uji klinis yang melibatkan 1.620 orang pada rentan usia 18 hingga 59 tahun. Hasilnya, ada beberapa efek samping yang timbul akibat reaksi penyuntikan.

"Ada beberapa efek samping yang timbul akibat reaksi penyuntikan berupa nyeri pada lokasi penyuntikan dengan intensitas ringan, dan menunjukkan reaksi pegal otot dengan mayoritas dengan intensitas ringan," ungkap Kusnandi saat diskusi virtual, Rabu (30/12).

Uji klinis vaksin Sinovac dilakukan di Bandung, kini tim peneliti sudah masuk ke tahap uji klinis fase III. Sebelumnya tim peneliti telah melakukan penyuntikan pada 2 tahap yang dilaksanakan pada 6 November dan pada 20 November 2020 lalu.

Vaksin buatan Sinovac juga melakukan uji coba Fase III di Brasil dengan nama CoronaVac. Namun, lembaga Kesehatan Brasil, Anvisa, sempat menghentikan sementara uji coba klinis vaksin Covid-19, CoronaVac.

Anvisa kembali mengizinkan uji klinis vaksin virus corona (Covid-19) buatan China, CoronaVac untuk dilanjutkan, Rabu (11/11) waktu setempat. Menurut kabar, perusahaan akan membangun fasilitas untuk memproduksi hingga 100 juta vaksin per tahun.

[Gambas:Video CNN]

(can/DAL)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK