Ide Kabin Pesawat 'Bongkar Pasang' saat Kondisi Darurat

CNN, CNN Indonesia | Senin, 11/01/2021 01:39 WIB
Seorang insinyur asal Ukraina memamerkan ide desain kabin yang bisa dibongkar dan terlepas dari badan pesawat saat terjadi kondisi darurat. Ilustrasi kabin pesawat terbang. (Foto: RyanMcGuire/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kondisi darurat selama penerbangan memberi ide bagi seorang insinyur Ukraina untuk memamerkan desain kabin pesawat yang dapat dibongkar pasang untuk menyelamatkan penumpang saat terjadi pendaratan darurat.

Ide yang dicetuskan oleh Vladimir Tatarenko memungkinkan kabin pesawat terlepas sehingga menyisakan badan pesawat jatuh ke permukaan air atau tanah menggunakan parasut secara otomatis ketika terjadi kecelakaan.

Desain kabin yang dapat dibongkar pasang ini juga mencakup ruang penyimpanan untuk menampung barang bawaan penumpang yang beda di kabin. Ruang penyimpanan ini dimaksudkan agar tidak ada barang-barang bawaan penting milik penumpang yang hilang.


Tatarenko mengungkapkan penggunaan komposit menjadi komponen penting untuk membuat desain kabin yang dapat dibongkar pasang.

"Teknologi yang ada saat ini menggunakan Kevlar dan komposit karbon untuk badan pesawat, sayap, flap, spoiler, dan aileron. Komposit karbon dapat mengkompensasi berat dari sistem parasut," ujar Tatarenko seperti dikutip dari Composites Manufacturing Magazine.

Dalam video yang diunggah Tatarenko pada 25 Desember 2015, ia menggambarkan bagian ruang pengendali di ujung pesawat hingga sayap dan ekor yang terpisah dengan kabin tempat penumpang berada.

Mengutip CNN, dua bagian itu akan dipasang saat pesawat hendak diterbangkan. Tampak dalam simulasi tiga keadaan darurat ketika penerbangan, yakni saat lepas landas, ketika mengudara, dan saat akan mendarat.

[Gambas:Youtube]

Kabin yang bisa dilepas memungkinkan pesawat yang mengalami kerusakan mesin atau kesalahan lainnya tetap mendarat dengan pelan menggunakan parasut dan pendorong.

Dalam video tersebut dijelaskan jika selama 10 tahun terakhir (dihitung pada 2016), kecelakaan saat lepas landas mencapai delapan persen, 21 persen ketika mendarat, dan 71 persen saat terbang. Dari semua kecelakaan, 75 persen penyebabnya karena faktor kesalahan manusia.

Untuk merealisasikan ide proyek masa depan kabin 'bongkar pasangnya' itu, Tararenko tengah mencari investor.

Sebagai awalan, biaya pembangunan dan pengujian pesawat dengan desain kabin bongkar pasang ini terhitung mahal. Maskapai harus menginvestasikan biaya antara US$100 juta hingga US$350 juta per satu unit pesawat.

Menurut data dari Asosiasi Penerbangan AS IATA, selama tahun 2014 di Amerika Serikat, sekitar 3,3 miliar orang terbang dengan selamat sementara 641 orang meninggal dalam 73 kecelakaan pesawat. Angka ini turun dibanding tahun 2013 yaitu 81 kasus kecelakaan.

Selain itu, ada 12 kecelakaan pesawat yang cukup fatal di tahun 2014 tetapi kasusnya juga menurun dibanding 2013 yaitu 16 kasus. Selama 2014 pula tercatat total ada 641 korban yang merenggut nyawa. Angka kematian menurut IATA tahun 2014 lebih besar dibanding 2013 yakni 210 kematian.

Di sisi lain, ide 'liar' kabin bongkar pasang bukan tidak memicu pertanyaan dari banyak pihak.

Komunitas aviasi mempertanyakan kemampuan kabin pesawat untuk memastikan keamanan penumpang ketika pesawat melakukan pendaratan darurat. Kabin yang tidak memiliki ruang kendali dan tidak memiliki sayap sangat tidak mungkin untuk dikendalikan.

(din/evn)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK