Studi: Virus Covid-19 Baru Inggris Tak Pengaruhi Vaksin

CNN Indonesia | Sabtu, 16/01/2021 04:22 WIB
Peneliti menyatakan varian baru Covid-19 yang ditemukan di Inggris dan Afsel tidak mempengaruhi kerja vaksin Covid-19 Ilustrasi virus baru Covid-19. (iStockphoto/Naeblys)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti menyatakan varian baru virus corona SARS-CoV-2 yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan (Afsel) tidak mempengaruhi kerja vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech. Temuan itu diperoleh setelah peneliti meneliti sampel serum dari 20 orang yang menerima vaksin Pfizer-BioNTech.

Varian baru virus corona SARS-CoV-2 yang ditemukan di Inggris dan Afsel diketahui berbagi mutasi umum yang disebut N501Y. Varian itu memiliki beberapa mutasi pada glikoprotein S, yang merupakan target utama antibodi penetral virus.

Mutasi itu menjadi perhatian khusus karena terletak di tempat pengikatan reseptor virus untuk masuk sel, meningkatkan pengikatan ke reseptor (enzim pengubah angiotensin 2), dan memungkinkan virus untuk memperluas jangkauan inangnya untuk menginfeksi.


"Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa vaksin tidak akan bekerja dengan baik pada strain ini," Frederic Bushman dari Universitas Pennsylvania, melansir The Scientist.

Para ilmuwan di University of Texas Medical Branch diketahui merekayasa versi SARS-CoV-2 dengan mutasi N501Y untuk dipelajari pada tikus ketika varian baru muncul.

Para peneliti bekerja sama dengan para ilmuwan di Pfizer untuk mengekspos serum, komponen darah yang mengandung antibodi, dari penerima vaksin hingga virus yang direkayasa.

Hasilnya, mereka tidak menemukan perbedaan dalam netralisasi antara virus N501Y dan virus dengan urutan Y501 asli.

Pfizer sebenarnya juga telah menguji vaksinnya terhadap belasan mutasi lain sebelumnya. Haslinya, seluruh mutasi itu tidak mempengaruhi vaksin.

"Jadi kami sekarang telah menguji 16 mutasi yang berbeda, dan tidak satupun dari mereka memiliki pengaruh yang signifikan. Itu kabar baiknya," kata Philip Dormitzer, wakil presiden Pfizer.

Melansir Statnews, para ilmuwan merekayasa versi virus untuk memasukkan mutasi yang disebut N501Y. Para ilmuwan kemudian membandingkan seberapa baik darah yang diambil dari 20 orang yang telah menerima vaksin menangkis bentuk virus yang bermutasi versus bentuk sebelumnya.

"Tidak ada pengurangan aktivitas netralisasi terhadap virus yang membawa lonjakan Y501," kata peneliti dalam jurnal yang diterbitkan di Biorxiv. Jurnal itu masih bersifat pracetak dan belum ditinjau rekan sejawat.

Dalam jurnal disampaikan bahwa evolusi SARS-CoV-2 yang sedang berlangsung memerlukan pemantauan terus menerus, terutama tentang pentingnya perubahan cakupan vaksin. Surveilans itu juga perlu dibarengi dengan persiapan kemungkinan mutasi SARS-CoV-2 di masa mendatang mungkin memerlukan perubahan strain vaksin.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK