Mata Lele, Tanaman Penyebab Banjir Pekalongan Berwarna Hijau

CNN Indonesia | Minggu, 24/01/2021 10:02 WIB
Banjir berwarna hijau di Pekalongan dipicu oleh tanaman mata lele atau duckweed. Berikut penjelasannya.  Tanaman mata lele menjadi penyebab air banjir di Pekalongan berwarna hijau. Ilustrasi banjir. (Arsip Istimewa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Dunia maya tengah dihebohkan dengan berbagai unggahan warga terkait banjir di beberapa titik di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Pasalnya, banjir disebut-sebut tak lazim karena airnya berwarna hijau.

Padahal lumrahnya, warna air saat terjadi banjir di Indonesia berwarna keruh coklat atau agak bening.

Usut punya usut air banjir yang berwarna hijau itu terjadi karena mengandung tanaman yang dikenal dengan istilah mata lele atau duckweed.


Hal itu dikatakan Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Pekalongan, Dimas Arga Yudha.

"Banjir warna hijau, karena air membawa tumbuhan bernama mata lele. Biasanya mata lele ini berada di tambak-tambak, rawa ataupun bekas sawah dan cekungan yang ada genangan airnya," ujarnya dilansir dari Detik.com, Minggu (24/1).

Seperti dilansir dari KKP.go.id, melalui tulisan yang diunggah Balai Riset Budaya Ikan Hias, Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, Duckweed atau Mata Lele masuk dalam kategori tanaman paku-pakuan di dalam air. Mata lele juga kerap dijadikan pakan ikan.

Tanaman ini juga disebut terdiri dari 14 jenis atau spesies. Meski begitu, tak semua jenis mata lele bisa dimanfaatkan.

Justru dari 14 spesies yang ditemukan, jenis Azolla lah yang paling populer untuk pakan ikan.

Tak heran, sebab Mata Lele ini disebut memiliki nilai nutrisi yang tinggi, terutama protein. Kandungan proteinnya bahkan bisa 40 persen dari berat keringnya.

Selain kandungan protein yang baik, tumbuhan ini memiliki keunggulan dapat dikultur dengan biaya murah karena bisa tumbuh di air limbah yang mengandung unsur hara tinggi. Tanaman ini juga merupakan agen fitoremediasi untuk mengolah limbah cair, membersihkan air dari unsur-unsur hara dan bahan pencemar lainnya, seperti bahan organik, nutrien, dan logam berat.

Sementara di beberapa negara termasuk Indonesia, Mata Lele masih digunakan sebagai pakan ikan, China justru telah mengembangkan Mata Lele untuk tanaman herbal.

Lebih lanjut, merujuk Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Limbologi LIPI, Tjandra Crismadha tumbuhan ini bersifat kosmopolitan atau bisa tumbuh di mana saja di daerah tropis, terutama pada perairan tergenang di ketinggian rendah.

Tak hanya itu, Mata Lele atau Duckweed juga disebut bisa tumbuh dengan cepat bahkan disebut-sebut bisa mencapai 40 persen per hari. Meski begitu duckweed atau Mata Lele bukan jenis tanaman berumur panjang.

Maksimal dia hanya bisa hidup sekitar 10 hari dan mampu menghasilkan hingga 20 anakan yang menempel pada induknya.

(tst/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK