Facebook Blokir Konten Berita di Australia

CNN Indonesia | Kamis, 18/02/2021 07:32 WIB
Masyarakat Australia kini tidak bisa lagi melihat berita lokal ataupun internasional di Facebook. Logo Facebook. (AFP/OLIVIER DOULIERY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Facebook mengumumkan pada Rabu (17/2) tidak lagi menyediakan konten berita di Australia yang berasal dari media lokal ataupun internasional. Pengumuman ini merespons rancangan undang-undang baru di Australia yang bakal memaksa platform teknologi membayar royalti ke penerbit berita atas konten pemberitaan yang ditayangkan.

"Apa yang tidak dikenali usulan undang-undang di Australia yakni sifat fundamental dari hubungan antara platform kami dengan penerbit," kata wakil presiden Facebook untuk kerja sama pemberitaan global, Campbell Brown, dalam unggahan blog dilansir dari CNN.

Menurut Brown, Facebook tidak mencuri konten berita. Penerbit yang dikatakan justru memilih Facebook untuk membagikan cerita mereka.


"Saya harap kami bisa meliputi berita untuk masyarakat Australia sekali lagi," ujar Brown.

Facebook disebut menghadapi pilihan sulit antara mematuhi usulan undang-undang atau melarang konten berita pada layanannya di Australia. Namun dengan berat hati mereka memilih untuk menyetop layanan tersebut.

Selama sidang rancangan undang-undang yang digelar sejak Januari oleh senat Australia, Facebook sudah menjelaskan bisa memblokir konten berita jika itu disahkan. Google dalam sidang itu juga mengancam menutup mesin pencarinya dari Australia jika rancangan undang-undang mendapat lampu hijau.

Namun sebelum Facebook mengumumkan sikapnya memberhentikan berita, Google diketahui telah bergerak mendekati penerbit di Australia untuk memperdalam hubungan mereka.

Google dan kantor berita News Corp (NWS) yang dimiliki konglomerat Rupert Murdoch sudah mengumumkan kontrak selama tiga tahun. Google bakal membayar izin atas konten News Corp yang meliputi Wall Street Journal dan New York Post.

Pertarungan antara penerbit dan platform teknologi telah berlangsung selama bertahun-tahun. Masalah ini semakin menekan platform teknologi setelah pemerintah di Amerika Serikat, Australia, dan lainnya mulai serius menanggapinya.

News Corp CEO Robert Thomson berterima kasih pada CEO Google Sundar Pichai atas komitmen pada jurnalistik yang akan bergaung di Australia. Dia juga menganggap hal ini adalah kemenangan besar perusahaan pada platform teknologi.

"Ini telah menjadi alasan yang kuat bagi perusahaan kami selama lebih dari satu dekade dan saya bersyukur bahwa syarat pertukaran telah berubah, tidak hanya untuk News Corp, tetapi untuk semua penerbit," ucap Thomson.

(can/fea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK