Virus Corona Infeksi Bayi yang 51 Ribu Kali Lebih Tinggi

CNN Indonesia | Kamis, 25/02/2021 11:44 WIB
Seorang bayi yang baru lahir terinfeksi virus corona dengan jumlah virus 51 ribu kali lebih tinggi dari pasien muda lain. Ilustrasi. Seorang bayi baru lahir terinfeksi virus corona dengan jumlah lebih tinggi (STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang bayi yang baru lahir dilaporkan sakit akibat terinfeksi varian baru dari virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Bayi itu sempat mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Anak Nasional di Washington DC, Amerika Serikat, sebelum akhirnya dinyatakan sembuh.

Para ahli juga menyatakan bayi itu memiliki viral load 51.418 kali lebih tinggi daripada pasien muda lainnya.


Viral load mengacu pada jumlah virus yang terkandung dalam cairan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi. Hitungan viral load dihitung berdasarkan jumlah partikel virus yang menular dalam tiap milimeter cairan tubuh.

Tidak jelas apakah tingginya kadar virus yang terdeteksi pada hidung bayi ini akibat terinfeksi virus corona varian baru atau tidak.

"Bisa jadi kebetulan sekali," kata Roberta DeBiasi, kepala penyakit menular di Rumah Sakit Anak Nasional.

Varian baru diidentifikasi ketika para peneliti mengurutkan genom virus dari bayi tersebut, yang dirawat pada bulan September 2020.

Para ahli mengaku belum dapat memastikan seberapa umum atau seberapa berisiko varian baru ini. Namun, sebuah studi menemukan delapan kasus lain dari varian itu di wilayah Atlantik tengah, AS, seperti dilaporkan Business Insider

Studi pra-cetak terkait variasi virus corona pada anak-anak itu, dipublikasikan di MedRxiv, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat. 

Mutasi pada varian baru corona

Varian baru virus corona SARS-CoV-2 ini, kata para peneliti memiliki jenis struktur protein lonjakan (spike protein/ protein S) berbeda yang dapat membuatnya lebih menular.

Protein S berbentuk seperti paku-paku yang menancap pada permukaan virus corona SARS-CoV-2. Protein S ini digunakan virus untuk masuk dan menginfeksi sel manusia.

Melansir News Medical, para peneliti menggunakan RT-PCR komersial dalam mengidentifikasi varian virus baru dari sampel pasien neonatal yang memiliki viral load tinggi itu. 

Neonatal adalah fase kehidupan bayi yang dialami hingga usia 28 hari pertama sejak kelahirannya.
Sampel dari beberapa pasien juga dikirim untuk sekuensing genom.

Para peneliti menganalisis genom dari 27 sampel dan menemukan strain pada anak-anak serupa dengan yang ditemukan pada orang dewasa.

Menelusuri asal virus

Dengan menggunakan alat Phylogenetic Assignment of Named Global Outbreak LINeages (PANGOLIN), mereka menemukan bahwa virus pada anak-anak di Washington kemungkinan besar berasal dari klade GH asal Eropa.

Sekitar 92 persen dari genom virus yang diurutkan dilaporkan memiliki varian protein lonjakan D614G. Lima pasien memiliki urutan genom virus yang identik, dengan satu menunjukkan gejala MIS-C, sindrom inflamasi multi-sistem pada anak-anak.

Urutan ini memiliki varian nukleoprotein S193I dan varian protein 2 non-struktural T371I, berbeda dari sekuens lain dalam klade GH.

Para peneliti berkata meskipun kelima pasien memiliki urutan genom yang identik, mereka memiliki riwayat penyakit yang berbeda. Sehingga hal itu menyulitkan peneliti untuk membentuk korelasi antara fenotipe virus dan manusia.

Variabel lain seperti dosis virus awal, lingkungan, dan genetika juga dapat berperan dalam perkembangan penyakit dan MIS-C.

Terkait dengan bayi yang dirawat di rumah sakit pada September 2020 dengan viral load tinggi dan demam, tim menemukan substitusi asam amino nonsynonymous (mengubah urutan asam amino) pada lonjakan protein N679S, di sebelah lokasi pembelahan pada residu 681, varian baru dari virus. Urutan genom pada bayi itu juga memiliki varian D614G.

Saat ini, urutan urutan genom itu masuk dalam klade GR, tetapi memiliki garis keturunan yang berbeda.

Para peneliti mengingatkan pengamatan tunggal terhadap varian N679S tidak cukup untuk menunjukkan hubungan antara varian dan viral load yang tinggi atau infeksi pada anak yang sangat muda.

Mereka berkata butuh pemantauan lanjutan karena kemungkinan varian itu menyebar di wilayah Atlantik tengah, AS. Selain itu, lonjakan protein tidak hanya mempengaruhi infektivitas, tetapi juga merupakan target vaksin sehingga pengujian keefektifan vaksin pada varian itu juga penting.

(jps/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK