Line Diduga Bocorkan Data Pengguna Jepang ke China

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Kamis, 18/03/2021 08:58 WIB
Line Corp., sejauh ini mengklaim telah melaporkan insiden tersebut ke Komisi Perlindungan Informasi Pribadi Jepang. Aplikasi Line. (Foto: iStockphoto/samxmeg)
Jakarta, CNN Indonesia --

Teknisi sebuah perusahaan China yang berafiliasi dengan penyedia aplikasi obrolan Line di Jepang dilaporkan memiliki akses ke informasi pribadi pengguna di Jepang.

Line diketahui memang tidak memberi penjelasan secara detil tentang akses asing ke data dalam kebijakan privasinya.

Line Corp., sejauh ini mengklaim telah melaporkan insiden tersebut ke Komisi Perlindungan Informasi Pribadi Jepang dan mengatakan telah bergerak untuk menutup akses data tersebut. Sebuah komite untuk menyelidiki insiden itu akan segera dibentuk.


Melansir Nikkei Asia, perusahaan China yang terafiliasi dengan Line itu berbasis Shanghai dan memiliki empat karyawan. Laporan menyebut seluruh karyawan itu dapat mengakses data pengguna dari server di Jepang sejak Agustus 2018.

Data pengguna yang diakses oleh mereka antara lain nama, nomor telepon, ID, dan beberapa konten obrolan yang tidak terenkripsi.

Line mengakui bahwa perusahaan China itu diberi akses sejauh yang diperlukan untuk melakukan tugasnya. Namun, perusahaan mengaku tidak mengetahui ada akses tidak "sah" ke data saat ini.

Line memiliki sekitar 86 juta pengguna di Jepang, menjadikannya komponen utama kehidupan online masyarakat di sana.

Kebijakan privasi Line menyatakan bahwa data pribadi dapat ditransfer ke negara ketiga. Namun tidak disebutkan kemungkinan afiliasi luar negeri mengakses data tersebut. Selain itu, belum ada cukup penjelasan tentang kerja perusahaan asing dalam memantau konten layar profil dan fungsi papan buletinnya yang disebut open chat.

Line mengalihkan pemantauan ke kontraktor domestik, namun pekerjaan tersebut malah disubkontrakkan ke sebuah perusahaan di Dalian, China.

Meski ada insiden itu, Line tampaknya tidak melanggar Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi Jepang, yang menetapkan bahwa persetujuan pengguna harus diperoleh saat mentransfer informasi pribadi ke luar negeri.

Tetapi kejadian itu memengaruhi reputasinya sebagai aplikasi perpesanan yang aman dan dapat menggagalkan upayanya untuk membuat 'superapp' all-in-one setelah menyelesaikan merger dengan Yahoo Jepang dan SoftBank Group, pada awal Maret 2021.

Informasi terakhir mengabarkan Line berencana menjelaskan bagaimana mereka menggunakan informasi pelanggan dan mengubah aturan internal terkait akses ke data sensitif. Mereka juga akan membentuk panitia khusus yang terdiri dari pakar keamanan dan privasi.

Line dan perusahaan induk Z Holdings akan mengumumkan insiden tersebut dalam waktu dekat.

Japan Times memberitakan perusahaan yang berbasis di Shanghai itu dipercayakan oleh Line untuk pekerjaan pengembangan sistem.

Di tengah persaingan yang semakin ketat antara Amerika Serikat dan Tiongkok untuk supremasi teknologi, kewaspadaan atas penguasaan informasi di Tiongkok juga meningkat di Jepang.

Ada total sekitar 86 juta pengguna aplikasi Line di Jepang, dan aplikasi tersebut digunakan sebagai infrastruktur informasi oleh pemerintah daerah dan organisasi lain di negara tersebut.

(mik/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK