Yahoo dan Line Resmi Melebur, Tangkis Raksasa Teknologi

CNN Indonesia | Selasa, 19/11/2019 08:40 WIB
Yahoo dan Line Resmi Melebur, Tangkis Raksasa Teknologi Logo Yahoo. (Ethan Miller/Getty Images/AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Softbank Corp akhirnya resmi mengumumkan rencana peleburan (merger) anak usahanya, Z Holdings atau sebelumnya bernama Yahoo Jepang dengan Line Corps, perusahaan aplikasi pengiriman pesan instan yang berbasis di Tokyo.

Dikutip dari CNN, merger diperkirakan akan rampung pada Oktober 2020. Nantinya, perusahaan gabungan akan dinamakan Z Holdings. SoftBank sebagai induk usaha Yahoo dan Naver, perusahaan teknologi asal Korea Selatan sebagai induk usaha Line akan memiliki saham masing-masing 50 persen.

Pendiri SoftBank Masaoyshi Son mencoba melakukan merger senilai US$30 miliar itu untuk membangun bisnis teknologi yang dapat bertahan untuk bersaing dengan pemain dunia seperti Google dan Facebook.


Menurut Softbank, alasan utama peleburan usaha ialah perusahaan internet Jepang itu tertinggal jauh di belakang rekan-rekan mereka dari Amerika Serikat (AS) dan China, dan perlu berekspansi ke negara-negara Asia lain agar tetap kompetitif.


CEO Z Holdings Kentaro Kawabe dan CEO Line Takeshi Idezawa mengatakan pada konferensi pers bahwa kebangkitan raksasa teknologi global menimbulkan krisis bagi kedua perusahaan.

"Industri ini didominasi oleh 'pemenang yang mengambil peluang semua struktur'. Bahkan jika kedua perusahaan terintegrasi, masih akan ada kesenjangan yang luas dengan para pemimpin teknologi global," kata Idezawa seperti dikutip dari CNN, Selasa (19/11).

"Platform luar negeri sangat kuat, mereka memiliki R&D (riset dan pengembangan) yang kuat juga. Untuk bersaing dengan mereka, kita harus lebih fokus berusaha. Kami sangat percaya AI (artificial intelligent) akan menjadi kuncinya," kata Kawabe.

SoftBank telah berulang kali berbicara tentang revolusi kecerdasan buatan masa depan, dan telah berinvestasi miliaran dolar di perusahaan yang ia yakini menggunakan AI secara efektif untuk mengganggu industri tradisional, seperti Uber, Didi dan Slack.


Investor menyambut keputusan untuk meleburkan Z Holdings dan Line. Saham Line ditutup naik 2,2 persen di Tokyo, sementara Z Holdings meningkat 1,2 persen. Pada harga penutupan itu, kedua perusahaan memiliki kapitalisasi pasar gabungan sekitar US$30 miliar.

Atul Goyal, Analis perusahaan pialang Jefferies menilai penggabungan usaha dapat bermanfaat bagi sinergi pendapatan dan biaya.

"Platform gabungan akan memungkinkan perusahaan-perusahaan ini untuk menjual layanan ke basis pengguna mereka dan meningkatkan pendapatan," tulis Goyal dalam laporan risetnya pekan lalu.

Menurut Goyal, kedua perusahaan juga akan memiliki akses data yang lebih banyak dan kekuatan negosiasi yang kuat terhadap pengiklan.


Perusahaan-perusahaan mengatakan mereka berharap untuk bekerja sama dalam sejumlah bidang, di antaranya, kecerdasan buatan, pencarian internet, telekomunikasi dan pembayaran mobile.

Mereka berdua menghadapi tekanan dari perusahaan teknologi AS, seperti Google, Apple, Facebook, dan Amazon. Kuartet pesaing yang dikenal dengan sebutan GAFA.

"Saya tidak ingin GAFA meninggalkan Jepang, karena saya menikmati YouTube dan saya menggunakan Kindle untuk membaca buku. Tapi kami ingin menyediakan platform domestik lain sebagai alternatif," kata CEO Z Holdings.

Idezawa menambahkan pplikasi pesan instan Line juga populer di Thailand, Taiwan dan Indonesia, sehingga perusahaan gabungan dapat memanfaatkan pijakan itu untuk berkembang secara global.
[Gambas:Video CNN] (CNN/lav)