Fakta Gurita Cincin Biru, Lebih Mematikan dari Sianida
CNN Indonesia
Senin, 29 Mar 2021 16:21 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Gurita cincin biru (Istockphoto/davidevison)
Jakarta, CNN Indonesia --
Gurita cincin biru kembali mejadi buah bibir setelah seorang turis di Bali memegang salah satu gurita paling berbahaya di dunia ini menggunakan tangan kosong.
Turis itu, Kaylin Philips, menunggah pengalamannya melalui akun TikTok@kaylinmarie21pada pekan lalu. Ia terlihat sedang memegang seekor gurita berukuran sekitar 15 cm di sekitar pantai Uluwatu, Bali.
Sebelumnya, seorang warga Australia Aaron Hodgson juga sempat tersegat hewan ini saat berada di pantai di Newcastle, Inggris.
Saat itu, ia sedang memengang banyak kerang di tangannya dan tiba-tiba terasa ada suatu hisapan halus di salah satu jarinya. Hingga akhirnya ia menjatuhkan semua kerang-kerang itu.
Lalu ia melihat gurita cincin biru yang bersembunyi di salah satu kerang yang jatuh itu. Hisapan di jarinya, berasal dari hewan ini.
Lima menit kemudian, Aaron mengalami mual dan kram perut, dan rasanya dadanya dibilas dengan air dingin di dalam.
Kemudian penglihatannya menjadi kabur, jantungnya mulai berdebar kencang, Aaron tidak bisa bergerak atau berbicara.
Beruntung racun yang menyengatnya tak sampai membunuhnya. Ia dirawat di rumah sakit selama sehari setelahnya dan butuh seminggu hingga pulih total.
1. Racun lebih berbahaya dari sianida
Racun gurita cincin biru 1.000 kali lebih kuat daripada sianida. Kandungan racun yang cukup untuk membunuh 26 manusia dewasa dalam waktu beberapa menit saja.
Seringkali gigitan kecil hewan ini tidak menimbulkan rasa sakit. Dengan cara itu korban seringkali tidak menyadari bahwa mereka telah digigit, hingga akhirnya racun itu masuk dan perlahan melumpuhkan sistem pernafasan.
Penelitian terbaru menyebut semua gurita memang memiliki racun di tubuh mereka. Sebab, racun itu digunakan untuk membunuh mangsa mereka. Namun, tak semua racun gurita berbahaya untuk manusia.
Gurita ini memiliki ukuran 5 sampai 15 sentimeter, terkadang gurita ini memiliki warna kekuningan dengan bulatan-bulatan atau garis biru terang disekeliling tubuhnya.
Warna cincin dan garis biru cerah akan makin jelas nampak ketika akan menyengat lawannya. Hewan memang kerap menggunakan warna dan pola tubuh yang cerah sebagai peringatan untuk pemangsa agar menjauh. Sebuah mekanisme pertahanan diri yang disebut aposematisme, seperti dilansir Independent.
3. Efek racun gurita cincin biru
Racun dari gurita cincin biru disebut tetrodotoxin, atau TTX, dan pada kasus yang parah dapat melumpuhkan manusia dalam 30 menit.
Kelumpuhan otot ini akan menjalar ke otot paru-paru sehingga membuat korban kesulitan bernapas dan kekurangan oksigen hingga akhirnya menyebabkan kematian. Anehnya, korban akan tetap sadar ketika mengalami kelumpuhan.
"Mereka bisa mendengar dan mengerti apa yang Anda ucapkan, tapi mereka tak bisa merespons," jelas ahli racun Jamie Seymour dari Universitas James Cook, seperti dikutip ABC.
Reaksi usai disengat gurita tersebut tergantung pada jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh. Gejala gigitan gurita cincin biru akan berkembang pesat dalam waktu sekitar 10 menit.
4. Alasan gurita menyengatkan racun
Seperti pada hewan lainnya, gurita ini akan menyerang jika merasa dalam kondisi terancam. Namun, kasus gurita ini menyerang manusia sangat jarang.
Sehingga, disarankan untuk tidak menyodok ruang kecil habitat aslinya. Gurita dapat keluar masuk ruang yang sangat kecil, maka berhati-hatilah agar tidak menyentuh benda apapun yang kiranya menjadi tempat persembunyian gurita.
5. Tempat sembunyi gurita
Pada siang hari, gurita cincin biru senang bersembunyi di celah-celah karang, cangkang kerang, atau sampah yang ada di perairan dangkal di pantai.
Ia kerap pun kerap berkamuflase dengan warna pasir yang lembut di dekat pinggir pantai ini. Sehingga, Anda mesti berhati-hati ketika berjalan di pinggir pantai dan karang agar tak sampai mengganggu mereka. Jika bertemu hewan ini di pantai, cukup amati saja dari jauh.
Gurita baru akan keluar ke perairan pada malam hari. Sebab, itulah waktu mereka untuk berburu. Jadi, baiknya lebih berhati-hati ketika berjalan di perairan dangkal di pantai pada malam hari.
Empat spesies gurita cincin biru ini tersebar di Pasifik barat dan Samudra Hindia.
6. Gejala keracunan gurita cincin biru
Megutip Healthline, beberapa gejala akibat keracunan gurita cincin biru adalah produksi air liur yang berlebihan, kesulitan menelan, sesak pada bagian dada, mati rasa, berkeringat, pusing dan sakit kepala, mual, kehilangan penglihatan.
Ketika gejala akan meningkat dan menyerang organ lain, akan muncul ciri seperti kelemahan otot, sulit berkomunikasi, kekurangan oksigen di jaringan tubuh yang mengakibatkan perubahan warna kulit seperti biru hingga keunguan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Gurita cincin biru kembali mejadi buah bibir setelah seorang turis di Bali memegang salah satu gurita paling berbahaya di dunia ini menggunakan tangan kosong.
Turis itu, Kaylin Philips, menunggah pengalamannya melalui akun TikTok@kaylinmarie21pada pekan lalu. Ia terlihat sedang memegang seekor gurita berukuran sekitar 15 cm di sekitar pantai Uluwatu, Bali.
Sebelumnya, seorang warga Australia Aaron Hodgson juga sempat tersegat hewan ini saat berada di pantai di Newcastle, Inggris.
Saat itu, ia sedang memengang banyak kerang di tangannya dan tiba-tiba terasa ada suatu hisapan halus di salah satu jarinya. Hingga akhirnya ia menjatuhkan semua kerang-kerang itu.
Lalu ia melihat gurita cincin biru yang bersembunyi di salah satu kerang yang jatuh itu. Hisapan di jarinya, berasal dari hewan ini.
Lima menit kemudian, Aaron mengalami mual dan kram perut, dan rasanya dadanya dibilas dengan air dingin di dalam.
Kemudian penglihatannya menjadi kabur, jantungnya mulai berdebar kencang, Aaron tidak bisa bergerak atau berbicara.
Beruntung racun yang menyengatnya tak sampai membunuhnya. Ia dirawat di rumah sakit selama sehari setelahnya dan butuh seminggu hingga pulih total.
1. Racun lebih berbahaya dari sianida
Racun gurita cincin biru 1.000 kali lebih kuat daripada sianida. Kandungan racun yang cukup untuk membunuh 26 manusia dewasa dalam waktu beberapa menit saja.
Seringkali gigitan kecil hewan ini tidak menimbulkan rasa sakit. Dengan cara itu korban seringkali tidak menyadari bahwa mereka telah digigit, hingga akhirnya racun itu masuk dan perlahan melumpuhkan sistem pernafasan.
Penelitian terbaru menyebut semua gurita memang memiliki racun di tubuh mereka. Sebab, racun itu digunakan untuk membunuh mangsa mereka. Namun, tak semua racun gurita berbahaya untuk manusia.
Gurita ini memiliki ukuran 5 sampai 15 sentimeter, terkadang gurita ini memiliki warna kekuningan dengan bulatan-bulatan atau garis biru terang disekeliling tubuhnya.
Warna cincin dan garis biru cerah akan makin jelas nampak ketika akan menyengat lawannya. Hewan memang kerap menggunakan warna dan pola tubuh yang cerah sebagai peringatan untuk pemangsa agar menjauh. Sebuah mekanisme pertahanan diri yang disebut aposematisme, seperti dilansir Independent.
3. Efek racun gurita cincin biru
Racun dari gurita cincin biru disebut tetrodotoxin, atau TTX, dan pada kasus yang parah dapat melumpuhkan manusia dalam 30 menit.
Kelumpuhan otot ini akan menjalar ke otot paru-paru sehingga membuat korban kesulitan bernapas dan kekurangan oksigen hingga akhirnya menyebabkan kematian. Anehnya, korban akan tetap sadar ketika mengalami kelumpuhan.
"Mereka bisa mendengar dan mengerti apa yang Anda ucapkan, tapi mereka tak bisa merespons," jelas ahli racun Jamie Seymour dari Universitas James Cook, seperti dikutip ABC.
Reaksi usai disengat gurita tersebut tergantung pada jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh. Gejala gigitan gurita cincin biru akan berkembang pesat dalam waktu sekitar 10 menit.
Tempat Sembunyi dan Alasan Gurita Cincin Biru Menyengatkan Racun
Gurita cincin biru (Istockphoto/davidevison)
4. Alasan gurita menyengatkan racun
Seperti pada hewan lainnya, gurita ini akan menyerang jika merasa dalam kondisi terancam. Namun, kasus gurita ini menyerang manusia sangat jarang.
Sehingga, disarankan untuk tidak menyodok ruang kecil habitat aslinya. Gurita dapat keluar masuk ruang yang sangat kecil, maka berhati-hatilah agar tidak menyentuh benda apapun yang kiranya menjadi tempat persembunyian gurita.
5. Tempat sembunyi gurita
Pada siang hari, gurita cincin biru senang bersembunyi di celah-celah karang, cangkang kerang, atau sampah yang ada di perairan dangkal di pantai.
Ia kerap pun kerap berkamuflase dengan warna pasir yang lembut di dekat pinggir pantai ini. Sehingga, Anda mesti berhati-hati ketika berjalan di pinggir pantai dan karang agar tak sampai mengganggu mereka. Jika bertemu hewan ini di pantai, cukup amati saja dari jauh.
Gurita baru akan keluar ke perairan pada malam hari. Sebab, itulah waktu mereka untuk berburu. Jadi, baiknya lebih berhati-hati ketika berjalan di perairan dangkal di pantai pada malam hari.
Empat spesies gurita cincin biru ini tersebar di Pasifik barat dan Samudra Hindia.
6. Gejala keracunan gurita cincin biru
Megutip Healthline, beberapa gejala akibat keracunan gurita cincin biru adalah produksi air liur yang berlebihan, kesulitan menelan, sesak pada bagian dada, mati rasa, berkeringat, pusing dan sakit kepala, mual, kehilangan penglihatan.
Ketika gejala akan meningkat dan menyerang organ lain, akan muncul ciri seperti kelemahan otot, sulit berkomunikasi, kekurangan oksigen di jaringan tubuh yang mengakibatkan perubahan warna kulit seperti biru hingga keunguan.