Studi Baru Kontradiktif, Varian Inggris Tak Perparah Covid-19

CNN Indonesia | Selasa, 13/04/2021 14:58 WIB
Studi baru menunjukkan virus corona varian Inggris B117 tidak lebih mematikan dari varian virus corona lain, hal ini kontradiktif dari hasil studi sebelumnya. Ilustrasi. Studi baru menunjukkan virus corona varian Inggris B117 tidak lebih mematikan dari varian virus corona lain, hal ini kontradiktif dari hasil studi sebelumnya. (iStockphoto/BlackJack3D)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil riset terbaru soal virus corona varian Inggris (B117) kontradiktif dengan penelitian sebelumnya. Studi terbaru ini menyebut varian B117 memang lebih mudah menular, namun tidak meningkatkan derajat keparahan gejala Covid-19.

Padahal dalam studi sebelumnya disebutkan varian ini berkaitan dengan tingginya angka kemungkinan kematian bagi mereka yang terinfeksi Covid-19 ketimbang varian normal.

"Penemuan bahwa infeksi varian B117 tidak memberikan peningkatan risiko penyakit parah dan kematian pada kelompok berisiko tinggi ini meyakinkan, tetapi membutuhkan konfirmasi lebih lanjut dalam penelitian yang lebih besar," kata para ahli, yang tidak terlibat dalam penelitian seperti dikutip AFP.


Hal ini terungkap berdasarkan dua riset yang dipublikasikan di jurnal Penyakit Menular Lancet dan jurnal Kesehatan Publik Lancet, Selasa (13/4).

Dua jurnal itu menyebut tidak ada bukti bahwa mereka yang terinfeksi virus corona B117 akan mengalami gejala Covid-19 yang lebih parah atau menderita gejala yang lebih lama dari mereka yang terinfeksi varian berbeda. Varian Inggris B117 kini menjadi varian virus corona yang paling dominan di daratan Eropa.

Tapi, penelitian ini mengamini kalau varian asal Inggris ini memang mengandung muatan viral lebih banyak dalam darah seseorang (viral load) dan mampu mereplikasi diri lebih cepat dari varian lain.

Penulis pada studi pertama melihat dta dari 341 pasien yang di tes positif Covid-19 pada akhir tahun lalu. Saat itu, varian B117 tengah gencar-gencarnya menyebar di wilayah tenggara Inggris.

Para peneliti menemukan 58 persen dari pasien Covid-19 terinfeksi oleh varian B117, sedangkan 42 persen terinfeksi Covid-19 non-B117.

Dari mereka yang terinfeksi B117, 36 persen menderita sakit parah atau meninggal. Sedangkan angka mereka yang meninggal dan sakit parah akibat terinfeksi virus corona non-B117 sedikit lebih banyak, sejumlah 38 persen. Sehingga, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara B117 dan peningkatan risiko infeksi parah.

Data studi ini juga menunjukkan infeksi virus corona varian B117 juga lebih mudah menyerang mereka yang lebih muda, dan lebih sering terjadi pada kelompok etnis minoritas.

Penulis juga menganalisis kemampuan penularan dengan melihat data yang dihasilkan oleh pengujian PCR. Mereka menemukan bahwa sampel swab dari mereka yang terinfeksi B117 cenderung mengandung lebih banyak virus daripada swab non-B117.

Peneliti studi baru ini, Sean Wei Xiang Ong, Barnaby Edward Young dan David Chien Lye dari National Center for Infectious Diseases, Singapura, mengatakan bahwa temuan tersebut berbeda dengan tiga studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa B117 lebih mematikan daripada varian lainnya.

Namun mereka mengatakan studi Lancet ini memiliki keuntungan karena menggunakan pengurutan seluruh genom serta variasi yang baik dari hasil pasien dan penyakit.

Sementara itu, studi kedua menganalisis data hasil pelaporan mandiri dari 36.920 pengguna aplikasi gejala Covid-19 di Inggris. Mereka dites positif Covid-19 antara 28 September dan 27 Desember tahun lalu.

Mereka menemukan bahwa varian B117 memiliki tingkat reproduksi 1,35 kali lebih tinggi daripada varian virus korona normal, tetapi juga tidak menemukan bukti peningkatan keparahan penyakit.

(AFP/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK