Startup dan Diaspora Pertanyakan Potensi Bukit Algoritma
CNN Indonesia
Kamis, 15 Apr 2021 19:47 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi Bukit Algoritma di Sukabumi. (Foto: iStockphoto/Konstik)
Jakarta, CNN Indonesia --
CEO Triplogic Oki Earlivan Sampurna menyatakan Indonesia tidak bisa disamakan dengan Amerika Serikat atau India berkaitan dengan Bukit Algoritma atau 'Silicon Valley'. Indonesia memiliki demografi hingga permasalahan yang berbeda dengan negara seperti AS atau India.
"Saya kira kita tidak bisa menyamakan Indonesia dengan Amerika atau India karena kita memiliki demografi yang berbeda, kebutuhan yang berbeda, hingga permasalahan yang berbeda," ujar Oki dalam diskusi virtual, Kamis (15/4).
Oki memaparkan Silicon Valley itu dibangun dalam rangka membawa teknologi menuju puncaknya. Namun, dia mempertanyakan apakah Indonesia sudah bisa memikirkan puncak dari teknologi ketika masih memiliki jarak dengan negara lain soal teknologi.
Lebih lanjut, Oki juga mempertanyakan implementasi dari 'Silicon Valley' di Sukabumi yang digagas politisi PDIP Bambang Sudjatmiko. Jika ada puluhan triliun saat ini, dia lebih menyarankan untuk digunakan untuk belanja riset.
"Saat ini kita kekurangan riset-riset yang kuat dan yang berkelanjutan. Saat ini riset hanya karena sebuah basis project. Setelah itu dijual. Itu tidak berkelanjutan," ujarnya.
Oki mengingatkan teknologi tidak bisa dihasilkan dalam waktu singkat. Inggris misalnya, membutuhkan waktu hingga 100 tahun sebelum akhirnya benar-benar menghasilkan kendaraan listrik atau hidrogen.
Dia juga mengingatkan teknologi saat ini juga bicara soal big data dan sebagainya. Namun, dia melihat Indonesia masih gagap terhadap hal itu.
Oki menambahkan Silicon Valley yang dibangun dekat Stanford Graduate School of Business sengaja dibangun sebagai basis teknologi tinggi. Misalnya, Silicon Valley berperan atas hadirnya chip yang digunakan oleh Intel.
"Mereka memang sudah paham apa yang akan mereka kembangkan 30 tahun kemudian setelah mereka buat chip, mereka bisa membuat komputer hingga super komputer. Jadi mereka sudah mengetahui tahapannya," ujar Oka.
"Tapi kalau sekarang ada sebuah lahan kosong, kita berikan uang, lalu dijadikan proyek. Saya kira nanti akan jadi basis proyek lagi, bukan sustainable technology atau sustainable development," ujarnya manambahkan.
Asisten Profesor di Universitas Nottingham, Bagus Muljadi menyatakan jumlah pusat riset tidak ada hubungannya dengan kemajuan bangsa. Dia memandang Indonesia harus memulai dari masalah, bukan bidang studi.
"Yang kita mau patahkan itu masalah apa dulu? apakah ICT atau mobil listrik. Itu dulu yang dipecahkan, kalau tidak kita melangkah tanpa tujuan," ujar Bagus.
Terkait mobil listrik misalnya, dia menilai Indonesia seharusnya membangun pesawat listrik. Sebab, dia melihat Indonesia memiliki pasar penerbangan domestik yang tinggi karena terdiri dari belasan ribu pulau. Selain itu, Indonesia juga memiliki bahan mineral untuk membuat baterai.
"Jadi kita punya hulunya, kita punya mekanisme pasar di situ. Tidak mungkin ada inovasi yang jalan tanpa mekanisme pasar. Perlu ada sinergi antara riset, industrialis, manufaktir dan infestor supaya harganya bisa jadi murah," ujarnya.
Bagus menilai kehadiran mobil listrik sebagaimana disampaikan oleh Okia adalah sebagai pintu masuk pengembangan ke kendaraan lain. Menurutnya, Indonesia tidak bisa bersaiang dengan negara lain jika bermain di segmen mobil listrik (electric vehicle/EV), khususnya China yang merupakan negara daratan besar yang merupakan market EV.
Sedangkan pesawat listrik, dia menegaskan Indonesia sangat potensial menjadi menguasa karena didukung oleh kondisi geografis.
"Itu yang saya maksud, pemikiran sampai ke situ. kalau sudah ada itu baru kita bikin 'oh butuhnya bukit algoritma, kita butuhnya research center bidang propulsi, atau bidang ini'. Kalau tidak ada itu kan kita asal bikin," ujar Bagus.
Lebih dari itu die meminta pemerintah mendanai riset berisiko tinggi yang belum bisa diambil pasar, seperti matematik hingga kuantum komputer.
"Ini belum ada tau-tau ada bukit algoritma," ujarnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
CEO Triplogic Oki Earlivan Sampurna menyatakan Indonesia tidak bisa disamakan dengan Amerika Serikat atau India berkaitan dengan Bukit Algoritma atau 'Silicon Valley'. Indonesia memiliki demografi hingga permasalahan yang berbeda dengan negara seperti AS atau India.
"Saya kira kita tidak bisa menyamakan Indonesia dengan Amerika atau India karena kita memiliki demografi yang berbeda, kebutuhan yang berbeda, hingga permasalahan yang berbeda," ujar Oki dalam diskusi virtual, Kamis (15/4).
Oki memaparkan Silicon Valley itu dibangun dalam rangka membawa teknologi menuju puncaknya. Namun, dia mempertanyakan apakah Indonesia sudah bisa memikirkan puncak dari teknologi ketika masih memiliki jarak dengan negara lain soal teknologi.
Lebih lanjut, Oki juga mempertanyakan implementasi dari 'Silicon Valley' di Sukabumi yang digagas politisi PDIP Bambang Sudjatmiko. Jika ada puluhan triliun saat ini, dia lebih menyarankan untuk digunakan untuk belanja riset.
"Saat ini kita kekurangan riset-riset yang kuat dan yang berkelanjutan. Saat ini riset hanya karena sebuah basis project. Setelah itu dijual. Itu tidak berkelanjutan," ujarnya.
Oki mengingatkan teknologi tidak bisa dihasilkan dalam waktu singkat. Inggris misalnya, membutuhkan waktu hingga 100 tahun sebelum akhirnya benar-benar menghasilkan kendaraan listrik atau hidrogen.
Dia juga mengingatkan teknologi saat ini juga bicara soal big data dan sebagainya. Namun, dia melihat Indonesia masih gagap terhadap hal itu.
Oki menambahkan Silicon Valley yang dibangun dekat Stanford Graduate School of Business sengaja dibangun sebagai basis teknologi tinggi. Misalnya, Silicon Valley berperan atas hadirnya chip yang digunakan oleh Intel.
"Mereka memang sudah paham apa yang akan mereka kembangkan 30 tahun kemudian setelah mereka buat chip, mereka bisa membuat komputer hingga super komputer. Jadi mereka sudah mengetahui tahapannya," ujar Oka.
"Tapi kalau sekarang ada sebuah lahan kosong, kita berikan uang, lalu dijadikan proyek. Saya kira nanti akan jadi basis proyek lagi, bukan sustainable technology atau sustainable development," ujarnya manambahkan.
Indonesia harus petakan masalah sebelum menyelesaikan
Bukit Algoritma sudah muncul di Google Maps. (Foto: Tangkapan layar aplikasi Google Maps)
Asisten Profesor di Universitas Nottingham, Bagus Muljadi menyatakan jumlah pusat riset tidak ada hubungannya dengan kemajuan bangsa. Dia memandang Indonesia harus memulai dari masalah, bukan bidang studi.
"Yang kita mau patahkan itu masalah apa dulu? apakah ICT atau mobil listrik. Itu dulu yang dipecahkan, kalau tidak kita melangkah tanpa tujuan," ujar Bagus.
Terkait mobil listrik misalnya, dia menilai Indonesia seharusnya membangun pesawat listrik. Sebab, dia melihat Indonesia memiliki pasar penerbangan domestik yang tinggi karena terdiri dari belasan ribu pulau. Selain itu, Indonesia juga memiliki bahan mineral untuk membuat baterai.
"Jadi kita punya hulunya, kita punya mekanisme pasar di situ. Tidak mungkin ada inovasi yang jalan tanpa mekanisme pasar. Perlu ada sinergi antara riset, industrialis, manufaktir dan infestor supaya harganya bisa jadi murah," ujarnya.
Bagus menilai kehadiran mobil listrik sebagaimana disampaikan oleh Okia adalah sebagai pintu masuk pengembangan ke kendaraan lain. Menurutnya, Indonesia tidak bisa bersaiang dengan negara lain jika bermain di segmen mobil listrik (electric vehicle/EV), khususnya China yang merupakan negara daratan besar yang merupakan market EV.
Sedangkan pesawat listrik, dia menegaskan Indonesia sangat potensial menjadi menguasa karena didukung oleh kondisi geografis.
"Itu yang saya maksud, pemikiran sampai ke situ. kalau sudah ada itu baru kita bikin 'oh butuhnya bukit algoritma, kita butuhnya research center bidang propulsi, atau bidang ini'. Kalau tidak ada itu kan kita asal bikin," ujar Bagus.
Lebih dari itu die meminta pemerintah mendanai riset berisiko tinggi yang belum bisa diambil pasar, seperti matematik hingga kuantum komputer.
"Ini belum ada tau-tau ada bukit algoritma," ujarnya.