Penampakan Bukit Algoritma di Google Maps

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 06:34 WIB
Bukit Algoritma di Sukabumi muncul di google maps dan berjarak 109 km dari Tendean, Jakarta. Ilustrasi Bukit Algoritma. (Foto: iStockphoto/Cavan Images)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Amarta Karya (Persero) bekerjasama dengan PT Kiniku Bintang Raya dilaporkan bakal membangun Bukit Algoritma atau 'Silicon Valley' versi Indonesia. Pembangunan Bukit Algoritma diklaim akan menelan biaya hingga mencapai 1 miliar euro atau hampir Rp18 triliun.

Mega proyek yang kabarnya tidak akan menggunakan uang negara itu menjadi perbincangan banyak pihak. Meski belum jelas peruntukannya, namun lokasi Bukit Algoritma sudah muncul di google maps.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, Bukit Algoritma (Algoritma Valley) terletak di daerah Cikadang, Sukabumi. Lokasi Bukit Algoritma tak jauh dari Shaolin Golf and Resort.


Dari Tendean, Jakarta, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil untuk mencapai Bukit Algoritma dari Tendean Jakarta.

Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya Budiman Sudjatmiko menyampaikan Bukit Algoritma masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Tempat itu rencananya akan dibangun di lahan Resort Cikidang di Sukabumi, Jawa Barat, yang sudah mendapat restu dari pemiliknya.

Bukit Algoritma rencananya akan manjadi kawasan pengembangan riset dan sumber daya manusia yang berbasis industri 4.0.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Digital Entrepreneur (ADEI), Bayu Prawira Hie mengaku terkejut dengan proyek pembangunan bukit algoritma atau 'Silicon Valley' di Sukabumi. Dia menilai rencana itu baik meski sulit untuk diwujudkan.

"Itu ide dan inisiatif yang bagus dan harus didukung. Hanya saja memang saat ini kelihatannya too good to be true," ujar Bayu kepada CNNIndonesia.com.

bukit algoritmaBukit Algoritma muncul di google maps. (Foto: Tangkapan layar aplikasi Google Maps)

Pakar teknologi informatika, Onno W. Purbo menilai rencana membangun 'Silicon Valley' di Sukabumi merupakan hal yang bagus. Namun, dia mengingatkan tempat tersebut bukan sesuatu yang sangat diperlukan.

"Kalau di dunia IT dan kreatif sebetulnya tempat itu enggak critical. Yang penting ada banyak orang pintar dan kreatif, plus punya sambungan internet yang kencang," ujar Onno kepada CNNIndonesia.com.

Asisten Profesor di Universitas Nottingham, Bagus Muljadi menyatakan jumlah pusat riset tidak ada hubungannya dengan kemajuan bangsa. Dia memandang Indonesia harus memulai dari masalah, bukan bidang studi.

"Yang kita mau patahkan itu masalah apa dulu? apakah ICT atau mobil listrik. Itu dulu yang dipecahkan, kalau tidak kita melangkah tanpa tujuan," ujar Bagus.

Sedangkan CEO Triplogic Oki Earlivan Sampurna menyatakan Indonesia tidak bisa disamakan dengan Amerika Serikat atau India berkaitan dengan pembangunan 'Silicon Valley'. Oki juga mempertanyakan implementasi dari 'Silicon Valley' di Sukabumi yang digagas oleh politisi PDIP Bambang Sudjatmiko.

Jika ada puluhan triliun saat ini, dia lebih menyarankan untuk digunakan untuk belanja riset.

"Saat ini kita kekurangan riset-riset yang kuat dan yang berkelanjutan. Saat ini riset hanya karena sebuah basis project. Setelah itu dijual. Itu tidak berkelanjutan," ujarnya.

(jps/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK