Dampak Perubahan Iklim RI: Panas Ekstrem-Produksi Beras Turun

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 15:32 WIB
Jika Indonesia tidak berbenah dan gagal mengambil tindakan dalam menanggulangi bencana iklim dapat mengalami kerugian besar. Perubahan iklim menyebabkan banjir rob di Semarang. (Foto: Anadolu Agency/Eko Siswono Toyudho)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perubahan iklim dunia berdampak pada Indonesia. Sejumlah ahli sudah memperkirakan fenomena alam akan memicu kenaikan air laut, gelombang panas di beberapa lokasi, kekeringan hingga angin topan yang merusak sejumlah wilayah di Indonesia.

Jika Indonesia tidak berbenah dan gagal mengambil tindakan dalam menanggulangi bencana iklim dapat mengalami kerugian besar. Pemerintah harus mempersiapkan menghadapi kondisi tersebut.

Di bawah ini kumpulan fakta bahwa Indonesia menghadapi krisis bencana. Penjabaran ini menjelang Hari Bumi yang jatuh pada 22 April, berdasarkan laporan Yayasan Indonesia Cerah.


1. Gelombang panas ekstrem

Indonesia diprediksi akan mengalami lebih dari tiga gelombang panas ekstrim antara 2020 hingga 2025, dan gelombang panas ekstrem setiap dua tahun antara 2068 dan 2100.

Gelombang panas ini memiliki intensitas yang sama atau lebih besar dibandingkan dengan gelombang panas ekstrem di Rusia pada 2010 yang menewaskan 55.000 orang, menghancurkan sekitar 9 juta hektare tanaman, membunuh seluruh burung di Moskow, dan menyebabkan kebakaran hutan.

2. Meningkatnya kebakaran hutan

Di bawah skenario emisi tinggi, Kalimantan Timur dan Sumatra bagian Timur diperkirakan mengalami kenaikan suhu hampir 4 derajat celcius dan berkurangnya curah hujan hingga 12 persen pada tahun 2070-2100. Hal ini akan menyebabkan 55 hari kebakaran hutan ekstrim per tahun di Kalimantan Timur tahun 2070-2100.

Di pulau Sumatra bagian timur, jumlah hari bahaya kebakaran ekstrem setiap tahun meningkat dari 17 menjadi 64 hari di bawah skenario emisi tinggi ini.

3. Peningkatan risiko kekeringan

Akibat dari perubahan iklim, curah hujan di Indonesia pada periode antara pergantian musim diperkirakan akan turun. Sekitar 20 hingga 30 persen penurunan di Kalimantan bagian selatan dan Sumatra bagian utara pada tahun 2071 hingga 2100.

Tidak hanya itu, kekeringan di pulau Jawa dan Sumatra bagian selatan akan meningkat 30 hingga 40 persen di tahun 2071 hingga 2100.

Jawa Timur yang dinilai sudah rawan kekeringan menunjukkan kemungkinan peningkatan kekeringan 45 persen. Sementara itu, Kalimantan Timur akan mengalami indeks kekeringan sebesar 893 poin dibandingkan sebelum tahun 1990 memiliki indeks kekeringan hanya 460 poin.

4. Risiko banjir meningkat

Antara tahun 1990 dan 2013, banjir dari luapan sungai menyebabkan kerugian sekitar US$5,5 miliar atau setara Rp79 triliun. Perubahan iklim dapat meningkatkan kerusakan ekonomi akibat banjir luapan sungai hingga 91 persen pada tahun 2030.

Akibat curah hujan yang lebih tinggi, banjir diproyeksikan akan semakin parah di beberapa bagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Pulau Maluku, dan Papua.

5. Peningkatan kerusakan akibat angin topan

Pasca peristiwa banjir, peristiwa cuaca ekstrem di Indonesia yang paling banyak memakan korban jiwa adalah badai. Topan juga telah menyebabkan kerusakan ekonomi yang sangat besar di Indonesia, seperti Topan Savana pada tahun 2019 yang menyebabkan kerusakan sebesar US$7,5 juta atau Rp101 miliar di Indonesia saja.

Secara global, proporsi siklon tropis yang sangat kuat dari kategori empat dan lima akan meningkat di bawah skenario emisi yang lebih tinggi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengaitkan dampak topan Seroja, yang memicu bencana banjir dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2021, hingga perubahan iklim, khususnya peningkatan suhu perairan sekitar 4 derajat celcius.

Kenaikan Permukaan Laut dan Lenyapnya Wisata Bahari

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK