Ahli Temukan Virus Corona pada Kelelawar di Inggris

CNN Indonesia | Selasa, 27/04/2021 12:00 WIB
Virus Corona kini ditemukan untuk pertama kalinya pada kelelawar di Inggris. Ilustrasi Covid-19 di kelelawar. Pixel-mixer/Pixabay
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang mahasiswa University of East Anglia telah menemukan virus corona baru pada kelelawar di Inggris untuk pertama kalinya. Tetapi para peneliti menyebut virus jenis baru tersebut tidak berisiko bagi manusia.

Studi yang dilakukan oleh University of East Anglia, Zoological Society of London (ZSL), dan Public Health England (PHE) mengatakan tidak ada bukti bahwa virus baru telah ditularkan ke manusia, atau mungkin di masa depan kecuali jika bermutasi.

Penemuan virus yang dinamakan New York Post RhGB01 dilakukan oleh mahasiswa program sarjana ekologi Ivana Murphy, dari Sekolah Ilmu Biologi UEA, yang mengumpulkan kotoran kelelawar tapal kuda sebagai bagian dari disertasi penelitian tahun terakhirnya.


Ia menangkap 53 kelelawar di Somerset, Gloucestershire dan Wales untuk menganalisis feses yang kemudian dikirim untuk analisis virus di PHE.

Pada sebuah sampel diklaim ditemukan sekuensing virus corona di salah satu sampel kelelawar. Hal ini menjadi kali pertama virus ditemukan di dalam kelelawar di Inggris.

"Saya sangat beruntung dikelilingi banyak pakar di bidangnya, yang memungkinkan saya mengakses sumber daya yang tidak dimiliki oleh banyak mahasiswa sarjana. Saya merasa sangat beruntung bisa melakukan studi yang begitu maju," ujar Murphy

"Receptor binding domain, bagian dari virus corona yang menempel pada sel inang untuk menginfeksi seseorang, tidak kompatibel dengan kemampuan untuk menginfeksi sel manusia," tambahnya seperti dikutip dari New York Post.

Tim peneliti mengatakan kelelawar hampir pasti telah menyimpan virus untuk waktu yang sangat lama. Meski demikian, Murphy merasa khawatir orang-orang mulai takut dan membasmi kelelawar.

Diana Bell, seorang ahli penyakit zoonosis dari UEA mengatakan kasus 'mencari dan menemukan' virus corona di kelelawar berbeda yang ditemukan pada spesies mamalia lain.

"Kelelawar ini hampir pasti telah menyimpan virus ini untuk waktu yang sangat lama, mungkin ribuan tahun. Kami tidak mengetahuinya sebelumnya karena ini adalah pertama kalinya tes semacam itu dilakukan pada kelelawar Inggris," ujar Bell.

Menurutnya peraturan ketat perlu diterapkan secara global kepada siapapun yang menangani kelelawar dan hewan liar lainnya.

Meski demikian studi tersebut mengungkap kekhawatiran virus Corona mampu menular ke kelelawar yang bisa memicu mutasi virus baru. Hal ini tentu menjadi tantangan bag para peneliti terkait pengembangan vaksin.

(can/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK