Studi: Kecil Risiko Tertular Covid-19 dari Permukaan Benda
can | CNN Indonesia
Jumat, 23 Apr 2021 08:26 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Studi terbaru menyebut sangat kecil risiko bahkan nyaris tak ada kemungkinan tertular Covid-19 dari permukaan benda. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah penelitian di Sekolah Kedokteran Rutgers New Jersey, Amerika Serikat menunjukan bahwa permukaan benda yang terkontaminasi virus corona SARS-CoV-2 relatif kecil menularkan Covid-19.
Meski peneliti memang menemukan bukti virus corona ada di berbagai permukaan benda, namun kontaminasi ini tidak berbahaya.
"RNA virus itu sama dengan mayat virus," katanya. "Itu tidak menular."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi dan investigasi wabah semuanya menunjukkan sebagian besar penularan yang terjadi lewat udara sebagai akibat dari orang yang terinfeksi mengeluarkan butiran cairan yang sangat halus yang disebut aerosol ketika batuk, berbicara atau bersin.
Sebelumnya, pada akhir Maret 2020 sebuah penelitian laboratorium menunjukkan bahwa virus corona SARS-CoV-2 dapat bertahan pada plastik dan baja tahan karat selama berhari-hari.
Laporan tersebut memicu banyak pemberitaan dan banyak mengungkap cara mendekontaminasi segala sesuatu mulai dari gagang pintu hingga bahan makanan untuk memutus penyebaran virus Corona.
Hal tersebut nampaknya mengkonfirmasi pedoman yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Februari 2020 bahwa virus yang menyebabkan COVID-19 dapat menyebar melalui permukaan yang terkontaminasi, yang dikenal sebagai fomites.
WHO merekomendasikan agar semua orang untuk membersihkan dan mendesinfeksi permukaan, terutama yang sering disentuh. Fomites merupakan objek tempat virus dapat menetap baik melalui pernapasan atau dengan tetesan. Virus selanjutnya dapat menyebarkan infeksi saat benda disentuh oleh orang lain.
Namun seorang ahli mikrobiologi di Sekolah Kedokteran Rutgers New Jersey, Goldman memutuskan untuk untuk melihat lebih dekat bukti di fomites.
Hasil penelitian menunjukkan, kecil kemungkinan penularan Covid-19 terjadi lewat kontaminasi permukaan benda. Sebab, bukti yang mendukung kalau virus corona dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui permukaan yang terkontaminasi nyaris tak ada.
Setelah penelitian ini, Goldman langsung percaya diri untuk tak perlu berlebihan menghadapi Covid-19 hingga harus menggunakan sarung tangan.
Fokus penyebaran virus corona lewat permukaan ketimbang lewat udara sempat muncul pada awal wabah Covid-19 merebak. Sebab, saat itu masih sedikit yang diketahui tentang sifat virus ini.
Kewaspadaan ini muncul lantaran sebelumnya sempat terjadi penularan patogen Staphylococcus aureus, virus pernapasan syncytial, dan norovirusdi rumah sakit. Patogen-patogen ini menular lewat permukaan benda. Mereka bisa menular satu orang ke yang lain lewat stetoskop dokter hingga tempat tidur RS.
Bukan cara penularan utama
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengklarifikasi panduannya tentang penularan pada Mei 2020. CDC menyatakan bahwa permukaan tidak dianggap sebagai cara utama penyebaran virus Corona.
Di samping itu para ahli menuturkan bahwa hal yang dinilai masuk akal yakni merekomendasikan untuk fokus dalam mencuci tangan dalam mencegah penyebaran virus Corona.
Pada bulan Desember 2020 insinyur Linsey Marr di Virginia Tech ikut beropini dan dimuat dalam The Washington Post. Ia meminta kepada masyarakat untuk mengurangi kefokusan terhadap upaya pembersihan.
Lebih lanjut ia menjelaskan perhatian yang berlebihan untuk sterilisasi permukaan benda membutuhkan waktu dan sumber daya yang terbatas. Lebih baik difokuskan untuk ventilasi atau dekontaminasi udara yang dihirup orang."Menjadi jelas bahwa penularan (virus Corona) melalui penghirupan aerosol yang merupakan penularan melalui udara," ujarnya, seperti dikutip Nature.
Melansir CDC, pembersihan permukaan dapat mengurangi risiko penularan melalui benda tidak berpori. Namun tergantung metode, jenis pembersih dan seberapa baik pembersihan dilakukan.
Tidak ada penelitian yang dilaporkan telah menyelidiki kemanjuran pembersihan permukaan untuk mengurangi penyebaran SARS-CoV-2 pada permukaan yang tidak berpori.
Dari studi pembersihan yang difokuskan pada mikroba lain, penurunan kadar mikroba sebesar 90-99,9 persen dapat dilakukan tergantung pada metode pembersihan dan permukaan yang dibersihkan.
Meski begitu data epidemiolog dan studi QMRA yang tersedia menunjukkan bahwa risiko penularan SARS-CoV-2 dari fomites lebih rendah dibandingkan dengan risiko kontak langsung.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah penelitian di Sekolah Kedokteran Rutgers New Jersey, Amerika Serikat menunjukan bahwa permukaan benda yang terkontaminasi virus corona SARS-CoV-2 relatif kecil menularkan Covid-19.
Meski peneliti memang menemukan bukti virus corona ada di berbagai permukaan benda, namun kontaminasi ini tidak berbahaya.
"RNA virus itu sama dengan mayat virus," katanya. "Itu tidak menular."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi dan investigasi wabah semuanya menunjukkan sebagian besar penularan yang terjadi lewat udara sebagai akibat dari orang yang terinfeksi mengeluarkan butiran cairan yang sangat halus yang disebut aerosol ketika batuk, berbicara atau bersin.
Sebelumnya, pada akhir Maret 2020 sebuah penelitian laboratorium menunjukkan bahwa virus corona SARS-CoV-2 dapat bertahan pada plastik dan baja tahan karat selama berhari-hari.
Laporan tersebut memicu banyak pemberitaan dan banyak mengungkap cara mendekontaminasi segala sesuatu mulai dari gagang pintu hingga bahan makanan untuk memutus penyebaran virus Corona.
Hal tersebut nampaknya mengkonfirmasi pedoman yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Februari 2020 bahwa virus yang menyebabkan COVID-19 dapat menyebar melalui permukaan yang terkontaminasi, yang dikenal sebagai fomites.
WHO merekomendasikan agar semua orang untuk membersihkan dan mendesinfeksi permukaan, terutama yang sering disentuh. Fomites merupakan objek tempat virus dapat menetap baik melalui pernapasan atau dengan tetesan. Virus selanjutnya dapat menyebarkan infeksi saat benda disentuh oleh orang lain.
Namun seorang ahli mikrobiologi di Sekolah Kedokteran Rutgers New Jersey, Goldman memutuskan untuk untuk melihat lebih dekat bukti di fomites.
Hasil penelitian menunjukkan, kecil kemungkinan penularan Covid-19 terjadi lewat kontaminasi permukaan benda. Sebab, bukti yang mendukung kalau virus corona dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui permukaan yang terkontaminasi nyaris tak ada.
Setelah penelitian ini, Goldman langsung percaya diri untuk tak perlu berlebihan menghadapi Covid-19 hingga harus menggunakan sarung tangan.
Mengapa Ada Kekhawatiran Covid-19 Menular Lewat Permukaan Benda?
Ilustrasi (AP/Luca Bruno)
Fokus penyebaran virus corona lewat permukaan ketimbang lewat udara sempat muncul pada awal wabah Covid-19 merebak. Sebab, saat itu masih sedikit yang diketahui tentang sifat virus ini.
Kewaspadaan ini muncul lantaran sebelumnya sempat terjadi penularan patogen Staphylococcus aureus, virus pernapasan syncytial, dan norovirusdi rumah sakit. Patogen-patogen ini menular lewat permukaan benda. Mereka bisa menular satu orang ke yang lain lewat stetoskop dokter hingga tempat tidur RS.
Bukan cara penularan utama
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengklarifikasi panduannya tentang penularan pada Mei 2020. CDC menyatakan bahwa permukaan tidak dianggap sebagai cara utama penyebaran virus Corona.
Di samping itu para ahli menuturkan bahwa hal yang dinilai masuk akal yakni merekomendasikan untuk fokus dalam mencuci tangan dalam mencegah penyebaran virus Corona.
Pada bulan Desember 2020 insinyur Linsey Marr di Virginia Tech ikut beropini dan dimuat dalam The Washington Post. Ia meminta kepada masyarakat untuk mengurangi kefokusan terhadap upaya pembersihan.
Lebih lanjut ia menjelaskan perhatian yang berlebihan untuk sterilisasi permukaan benda membutuhkan waktu dan sumber daya yang terbatas. Lebih baik difokuskan untuk ventilasi atau dekontaminasi udara yang dihirup orang."Menjadi jelas bahwa penularan (virus Corona) melalui penghirupan aerosol yang merupakan penularan melalui udara," ujarnya, seperti dikutip Nature.
Melansir CDC, pembersihan permukaan dapat mengurangi risiko penularan melalui benda tidak berpori. Namun tergantung metode, jenis pembersih dan seberapa baik pembersihan dilakukan.
Tidak ada penelitian yang dilaporkan telah menyelidiki kemanjuran pembersihan permukaan untuk mengurangi penyebaran SARS-CoV-2 pada permukaan yang tidak berpori.
Dari studi pembersihan yang difokuskan pada mikroba lain, penurunan kadar mikroba sebesar 90-99,9 persen dapat dilakukan tergantung pada metode pembersihan dan permukaan yang dibersihkan.
Meski begitu data epidemiolog dan studi QMRA yang tersedia menunjukkan bahwa risiko penularan SARS-CoV-2 dari fomites lebih rendah dibandingkan dengan risiko kontak langsung.