Alasan Bitcoin Rusak Lingkungan Seperti Cuitan Elon Musk

CNN Indonesia | Kamis, 13/05/2021 14:04 WIB
Elon Musk menegaskan Tesla tidak lagi menerima pembayaran dengan bitcoin, karena alasan penggunaan bahan bakar fosil untuk kegiatan penambangan bitcoin. Elon Musk menegaskan Tesla tidak lagi menerima pembayaran dengan bitcoin, karena alasan penggunaan bahan bakar fosil untuk kegiatan penambangan bitcoin. (AFP/Philip Pacheco).
Jakarta, CNN Indonesia --

Elon Musk tidak lagi menerima bitcoin dalam transaksi pembelian mobil Tesla. Dia khawatir penggunaan bahan bakar fosil meningkat untuk penambangan mata uang kripto tersebut, khususnya batu bara.

Beberapa pengamat mengamini pernyataan Musk, salah satunya Erick Holthaus, meteorologis dan kolomnis di Grist. Menurut dia, penggunaan bitcoin secara luas bakal membuat perjuangan melawan perubahan iklim berakhir sia-sia.

"Bitcoin memperlambat usaha untuk mencapai transisi dari penggunaan bahan bakar fosil," katanya seperti dikutip dari CNN Business, Kamis (13/5).


Tidak seperti mata uang dolar, poundsterling atau mata uang lainnya yang dipegang bank sentral, bitcoin 'digali' oleh komputer di pusat data besar yang menghabiskan banyak energi.

Diketahui, transaksi bitcoin menyedot sebanyak 32 tera watt energi setiap tahunnya. Menurut Indeks Konsumsi Energi Bitcoin yang dipublikasikan oleh Digiconomist, energi sebanyak itu cukup untuk konsumsi energi 3 juta rumah tangga Amerika Serikat.

Sebagai perbandingan, dalam memproses miliaran transaksi Visa, setiap tahun dihabiskan jumlah daya yang setara dengan energi untuk 50 ribu rumah AS. Data merupakan hitungan Digiconomist pada 2017, sebelum bitcoin meledak seperti sekarang.

Sean foley, Associate Professor dari Macquarie University Australia, mengaku khawatir dengan risiko lingkungan yang ditimbulkan dari membludaknya permintaan bitcoin, sehingga meningkatkan aktivitas penambangan.

[Gambas:Video CNN]

"Salah satu risiko terbesar perubahan iklim hari ini adalah permintaan orang-orang terhadap bitcoin," katanya seperti dikutip dari Sydney Morning Herald.

Pada April 2020, sekitar 65 persen dari seluruh pertambangan bitcoin di dunia terjadi di Xinjiang, China, yang memiliki regulasi lingkungan longgar.

Sedangkan, Analis dari Bank of America menyebut kompleksitas yang meningkat dari transaksi bitcoin menjadi kelemahan terbesar dari keseluruhan sistem karena membutuhkan energi lebih besar untuk dapat berfungsi.

Jaringan komputer yang menambang bitcoin di seluruh dunia saat ini mengeluarkan sekitar 60 juta ton CO2 atau setara dengan yang dibutuhkan oleh Yunani, menurut Bank of America.

Dana sebesar US$1 miliar dari penambangan bitcoin diperkirakan dapat menghasilkan CO2 setara dengan 1,2 juta BBM.

"Bila Anda ingin mendapatkan untung dari investasi di pertambangan bitcoin, Anda harus menghidupkan mesin itu selama 24 jam setiap hari," jelas Foley.

Karena alasan lingkungan tersebut, Musk lewat akun Twitternya pada Kamis (13/5) lalu menyampaikan Tesla tidak menerima transaksi dengan bitcoin sebelum ada transisi penambangan yang berkelanjutan.

"Kami juga mencari mata uang kripto lain yang menggunakan kurang dari 1 persen energi bitcoin per transaksi," ujarnya.

Setelah kicauan Musk, nilai bitcoin turun hingga 10 persen. Sementara itu, saham Tesla turun 1,25 persen setelah beberapa jam.

Dari catatan Reuters, Tesla telah membeli US$1,5 miliar bitcoin pada Februari 2021. Kemudian, perusahaan ini menerima bitcoin sebagai pembayaran mobil pada Maret 2021. Langkah ini pun membuat mata uang kripto melonjak sekitar 20 persen.

Bitcoin sendiri dibuat dengan proses intensif energi yang sering bergantung pada listrik yang dihasilkan dari bahan bakar fosil, utamanya batu bara.

'Penambangan' bitcoin sendiri memakan jumlah energi yang hampir sama tiap tahun. Suatu ironi sebab Musk selama ini memiliki reputasi sebagai pencinta lingkungan.

(wel/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK