Mamalia Disebut Bisa Bernapas Lewat Anus

eks, CNN Indonesia | Senin, 17/05/2021 05:40 WIB
Hasil penelitian ilmuwan Jepang menujukkan mamalia bisa bernapas lewat anus dalam percobaan pada tikus dan babi. Ilustrasi. Percobaan untuk membuktikan mamalia bisa bernapas lewat anus dilakukan pada tikus laboratorium, tikus got, dan babi (Jake Esselstyn/Louisiana State University.)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil penelitian tim ilmuwan Jepang menunjukkan mamalia bisa menyerap oksigen lewat anus.

Penelitian ini dipicu oleh rasa penasaran lantaran beberapa makhluk laut tertentu dapat bernapas melalui usus mereka dalam keadaan darurat.

Ternyata, para peneliti di Tokyo Medical and Dental University dapat membuktikan hal yang sama bisa terjadi pada mamalia lain seperti tikus laboratorium, tikus got, dan babi. Temuan ini diterbitkan di jurnal Med pada hari Jumat (14/5).


Bahkan para ilmuwan berpendapat cara ini mungkin bisa diterapkan kepada manusia yang mengalami gangguan pernapasan ketika ventilator tidak tersedia atau tidak memadai.

Untuk hewan tingkat tinggi, pernapasan dilakukan dengan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida menggunakan paru-paru atau insang.

Namun, beberapa spesies lain pun telah mengembangkan mekanisme ventilasi alternatif. Loach, lele, teripang, dan beberapa jenis laba-laba, menggunakan usus belakangnya untuk mengoksigenasi guna bertahan hidup dalam keadaan darurat.

Cara ini disebut ventilasi enteral ventilation via anus, atau EVA.

"Rektum (bagian usus besar dekat anus) memiliki jaringan pembuluh darah halus tepat di bawah permukaan lapisannya, yang berarti obat yang diberikan melalui anus siap diserap ke dalam aliran darah," kata penulis utama penelitian itu, Ryo Okabe.

Ini membuat tim bertanya-tanya apakah oksigen bisa dikirim ke aliran darah dengan cara yang sama.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mereka memutuskan untuk melakukan percobaan pada tikus yang kekurangan oksigen, babi, dan tikus got, menggunakan dua metode.

Pertama dengan mengirimkan oksigen ke rektum dalam bentuk gas. Kedua, memasukkan enema kaya oksigen melalui rute yang sama. Enema adalah prosedur pemasukan cairan ke dalam kolon melalui anus.

Para peneliti mempersiapkan lapisan rektum hewan dengan menggosoknya terlebih dulu untuk menyebabkan peradangan. Dengan cara ini akan meningkatkan aliran darah di rektum sehingga meningkatkan efektivitas pengiriman oksigen.

Namun, cara ini kemungkinan besar tidak dapat diaplikasikan ke manusia. Sehingga, mereka juga mencoba menggunakan perfluorodecalin beroksigen, cairan yang telah terbukti aman dan dalam penggunaan klinis tertentu.

Terbukti, pengiriman oksigen baik sebagai gas maupun dalam bentuk cair meningkatkan oksigenasi, menormalkan perilaku hewan, dan memperpanjang kelangsungan hidup mereka.

Tim juga mengkonfirmasi peningkatan oksigenasi di tingkat sel, dengan teknik yang disebut pelumuran imunokimia.

Menurut para peneliti, penambahan cairan yang diserap bersama dengan oksigen tidak membahayakan dan tidak mengganggu bakteri usus. Sehingga, metode ini dianggap aman.

"Pasien dengan gangguan pernapasan dapat memperoleh pasokan oksigen yang didukung oleh metode ini untuk mengurangi efek negatif dari kekurangan oksigen, sementara mendapat perawatan," tambah rekan penulis Takanori Takebe.

Tim berharap metode ini bisa digunakan pada manusia dalam pengaturan klinis.

Peninjau laporan ini, Caleb Kelly dari Yale School of Medicine, mengatakan EVA harus mendapat perhatian serius.

"Ini adalah ide yang provokatif dan mereka yang pertama kali melihatnya akan terkejut," katanya. "EVA muncul sebagai terapi yang menjanjikan yang layak mendapatkan minat ilmiah dan medis."

Teknik ini dapat digunakan jika terjadi kekurangan ventilator, seperti yang banyak terjadi saat pandemi virus corona saat ini.

(eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK