Lucunya Satwa Ragunan, dari yang Tua hingga yang Hobi Kabur
Yulia Adiningsih | CNN Indonesia
Minggu, 09 Mei 2021 09:09 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Salah satu orangutan di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --
Taman Margasatwa Ragunan punya 2.289 satwa. Mereka terdiri dari 221 satwa air, 182 reptil, 862 burung dan 1.024 mamalia. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dari tahun 1966. Pada tahun tersebut, jumlah satwa "hanya" 450 ekor.
Dengan luas lahan 147 hektare, satwa-satwa tersebut punya banyak ruang. Beberapa dari mereka juga ditempatkan seperti di alam terbuka, seperti satwa-satwa yang ada di Pusat Primata Schmutzer.
Di sana ada 97 primata, terdiri dari 18 spesies yang hidup bebas bisa bergelantungan ke sana ke mari.
Tiga Gorila Dataran Rendah asal Afrika bermukim di sana, yakni Kihi, Kumbo, dan Komu. Satwa ini bisa dibilang satu-satunya yang ada di Indonesia.
Ketiga gorila tersebut didatangkan dari Inggris dengan usaha pendiri Pusat Primata Schmutzer, yaitu Pauline Antoinette Schmutzer-versteegh.
Petugas Pelayanan Informasi, Wahyudi Bambang mengatakan, Taman Margasatwa Ragunan dipilih karena iklim dan suhunya sama dengan habitat asli Gorila Dataran Rendah di Afrika.
"Ini berdasarkan riset, tim ahli dari Inggris, riset tanah, suhu dan kelembaban di sini dari hasil riset mereka, ternyata Ragunan itu bisa ditempati gorila," ucap Wahyudi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/5).
Sampai saat ini ketiga Gorila Dataran Rendah itu masih hidup. Namun, pihak Margasatwa Ragunan semakin lama semakin khawatir terhadap regenerasi gorila langka tersebut. Sebab, kata Wahyudi, ketiganya jantan.
Selain punya satwa terlangka, Ragunan juga punya hewan tertua yaitu gajah dengan usia 52 tahun. Gajah tersebut diberi nama Pepsi. Di bawah Pepsi ada juga Ratih, gajah berusia 50 tahun.
Gajah terkenal sebagai salah satu satwa favorit di Ragunan. Satwa tersebut paling banyak dikunjungi oleh para pengunjung.
Salah satu perawat gajah, Sudi mengatakan, kebanyakan pengunjung yang ingin melihat satwa gajah adalah anak-anak.
"Mungkin karena suka lihat di film, lucu, badannya gede," kata Sudi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/5).
Namun, hewan terbandel juga disematkan oleh para petugas kepada satwa gajah bernama Melki. Dia dikenal sering menyemburkan air liur atau melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya.
Sudi bercerita, nyaris tak ada yang kuat menghadapi Melki. Sebab keusilannya itu menyasar siapapun dan kapanpun. Petugas juga kerap kali ditendang bahkan diseruduk olehnya.
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com saat berkunjung ke Ragunan pada Rabu (5/5), Melki tampak sibuk mengunyah rumput. Namun saat merasa ada kehadiran manusia, matanya langsung melirik.
Tak lama, Melki menyemburkan air dan kotoran yang ada di dekatnya kepada salah satu perawat yang ingin menghampirinya. Melki juga berjalan ke sana ke mari seperti mencari perhatian, sampai akhirnya kembali makan rumput saat kami tinggalkan.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Selain Melki, satwa yang dianggap bandel juga adalah simpanse. Berdasarkan keterangan Wahyudi, simpanse kerap kali melemparkan kerikil atau makanan ke pengunjung. Selain itu mereka juga suka meludah.
Sebaliknya, rusa dan jerapah dianggap sebagai satwa yang paling santun. Gerak-geriknya yang anggun dan kalem membuat pengunjung betah berlama-lama melihatnya.
Namun karena merupakan habitat buatan, segala kenyamanan yang diberikan oleh Taman Margasatwa Ragunan tidak membuat semua satwa betah. Beberapa satwa pernah mencoba kabur, bahkan ada yang berhasil kabur.
"Kalau sifat alami mereka memang tidak bisa dipungkiri, mereka pengen cari habitat yang lebih luas," ucap Wahyudi.
Satwa yang pernah mencoba kabur adalah beruang. Wahyudi menceritakan, sekitar tahun 2007 atau 2008, Taman Margasatwa Ragunan sedang melakukan renovasi. Alat berat masuk kawasan dan suara bising mesin membahana.
Selama itu berlangsung, Wahyudi mengira beberapa hewan terganggu bahkan stres, termasuk beruang. Tak diduga, beruang itu mengangkat pintu dan keluar dari kandangnya.
"Mereka itu mengingat apa yang dilakukan oleh pawangnya. Dan mereka ternyata bisa melakukan itu hampir sama kayak primata, daya ingatnya tinggi. Ketika enggak ada pengawasnya, diangkat sendiri itu pintu, keluar terus jalan-jalan," jelas dia.
Namun, petugas lebih dulu menemukan beruang tersebut sebelum ia berhasil kabur dari Margasatwa Ragunan.
Selain beruang, satwa yang juga pernah kabur adalah burung pelikan. Wahyudi bercerita, burung itu sudah terbang keluar dari Taman Margasatwa Ragunan. Namun, untungnya ada warga yang melihat dan mengembalikan burung tersebut ke pengelola.
"Karena dia bisa terbang. Sayapnya setiap periodik kita potong, tapi terus tumbuh dan ia terus mencoba terbang. Sudah terbang keluar sampai keluar Ragunan, tapi sama warga dikembalikan lagi ke sini," ujar dia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Taman Margasatwa Ragunan punya 2.289 satwa. Mereka terdiri dari 221 satwa air, 182 reptil, 862 burung dan 1.024 mamalia. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dari tahun 1966. Pada tahun tersebut, jumlah satwa "hanya" 450 ekor.
Dengan luas lahan 147 hektare, satwa-satwa tersebut punya banyak ruang. Beberapa dari mereka juga ditempatkan seperti di alam terbuka, seperti satwa-satwa yang ada di Pusat Primata Schmutzer.
Di sana ada 97 primata, terdiri dari 18 spesies yang hidup bebas bisa bergelantungan ke sana ke mari.
Tiga Gorila Dataran Rendah asal Afrika bermukim di sana, yakni Kihi, Kumbo, dan Komu. Satwa ini bisa dibilang satu-satunya yang ada di Indonesia.
Ketiga gorila tersebut didatangkan dari Inggris dengan usaha pendiri Pusat Primata Schmutzer, yaitu Pauline Antoinette Schmutzer-versteegh.
Petugas Pelayanan Informasi, Wahyudi Bambang mengatakan, Taman Margasatwa Ragunan dipilih karena iklim dan suhunya sama dengan habitat asli Gorila Dataran Rendah di Afrika.
"Ini berdasarkan riset, tim ahli dari Inggris, riset tanah, suhu dan kelembaban di sini dari hasil riset mereka, ternyata Ragunan itu bisa ditempati gorila," ucap Wahyudi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/5).
Sampai saat ini ketiga Gorila Dataran Rendah itu masih hidup. Namun, pihak Margasatwa Ragunan semakin lama semakin khawatir terhadap regenerasi gorila langka tersebut. Sebab, kata Wahyudi, ketiganya jantan.
Selain punya satwa terlangka, Ragunan juga punya hewan tertua yaitu gajah dengan usia 52 tahun. Gajah tersebut diberi nama Pepsi. Di bawah Pepsi ada juga Ratih, gajah berusia 50 tahun.
Gajah terkenal sebagai salah satu satwa favorit di Ragunan. Satwa tersebut paling banyak dikunjungi oleh para pengunjung.
Salah satu perawat gajah, Sudi mengatakan, kebanyakan pengunjung yang ingin melihat satwa gajah adalah anak-anak.
"Mungkin karena suka lihat di film, lucu, badannya gede," kata Sudi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/5).
Namun, hewan terbandel juga disematkan oleh para petugas kepada satwa gajah bernama Melki. Dia dikenal sering menyemburkan air liur atau melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya.
Sudi bercerita, nyaris tak ada yang kuat menghadapi Melki. Sebab keusilannya itu menyasar siapapun dan kapanpun. Petugas juga kerap kali ditendang bahkan diseruduk olehnya.
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com saat berkunjung ke Ragunan pada Rabu (5/5), Melki tampak sibuk mengunyah rumput. Namun saat merasa ada kehadiran manusia, matanya langsung melirik.
Tak lama, Melki menyemburkan air dan kotoran yang ada di dekatnya kepada salah satu perawat yang ingin menghampirinya. Melki juga berjalan ke sana ke mari seperti mencari perhatian, sampai akhirnya kembali makan rumput saat kami tinggalkan.
Artikel ini masih berlanjut ke halaman berikutnya...
Lucunya Satwa Ragunan. dari yang Tua hingga yang Iseng Kabur
Salah satu orangutan di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Selain Melki, satwa yang dianggap bandel juga adalah simpanse. Berdasarkan keterangan Wahyudi, simpanse kerap kali melemparkan kerikil atau makanan ke pengunjung. Selain itu mereka juga suka meludah.
Sebaliknya, rusa dan jerapah dianggap sebagai satwa yang paling santun. Gerak-geriknya yang anggun dan kalem membuat pengunjung betah berlama-lama melihatnya.
Namun karena merupakan habitat buatan, segala kenyamanan yang diberikan oleh Taman Margasatwa Ragunan tidak membuat semua satwa betah. Beberapa satwa pernah mencoba kabur, bahkan ada yang berhasil kabur.
"Kalau sifat alami mereka memang tidak bisa dipungkiri, mereka pengen cari habitat yang lebih luas," ucap Wahyudi.
Satwa yang pernah mencoba kabur adalah beruang. Wahyudi menceritakan, sekitar tahun 2007 atau 2008, Taman Margasatwa Ragunan sedang melakukan renovasi. Alat berat masuk kawasan dan suara bising mesin membahana.
Selama itu berlangsung, Wahyudi mengira beberapa hewan terganggu bahkan stres, termasuk beruang. Tak diduga, beruang itu mengangkat pintu dan keluar dari kandangnya.
"Mereka itu mengingat apa yang dilakukan oleh pawangnya. Dan mereka ternyata bisa melakukan itu hampir sama kayak primata, daya ingatnya tinggi. Ketika enggak ada pengawasnya, diangkat sendiri itu pintu, keluar terus jalan-jalan," jelas dia.
Namun, petugas lebih dulu menemukan beruang tersebut sebelum ia berhasil kabur dari Margasatwa Ragunan.
Selain beruang, satwa yang juga pernah kabur adalah burung pelikan. Wahyudi bercerita, burung itu sudah terbang keluar dari Taman Margasatwa Ragunan. Namun, untungnya ada warga yang melihat dan mengembalikan burung tersebut ke pengelola.
"Karena dia bisa terbang. Sayapnya setiap periodik kita potong, tapi terus tumbuh dan ia terus mencoba terbang. Sudah terbang keluar sampai keluar Ragunan, tapi sama warga dikembalikan lagi ke sini," ujar dia.