Alasan Vaksin AstraZeneca dan J&J di Eropa Hanya untuk Lansia

CNN Indonesia
Kamis, 20 Mei 2021 19:24 WIB
Alasan Vaksin AstraZeneca dan J&J di Eropa Hanya untuk Lansia
Vaksin AstraZeneca. (REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah memutuskan untuk menghentikan penggunaan vaksin AstraZeneca, khususnya pada produksi (batch) CTMAV547. Kebijakan itu muncul setelah seorang warga Jakarta meninggalnya Trio Fauqi Virdaus (22) pasca menerima vaksin Covid-19 itu.

Pemerintah belum mengeluarkan kesimpulan mengenai insiden itu. Pemerintah mengklaim tengah melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui secara pasti penyebab meninggalnya Trio.

Di beberapa negara, vaksin AstraZeneca ternyata tidak diperuntukan untuk orang berusia di bawah 50 tahun. Seperti di Australia misalnya yang menetapkan vaksin itu hanya boleh diberikan kepada warga di atas 50 tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Negara seperti Italia dan Perancis juga memutuskan vaksin AstraZeneca untuk orang di atas 55 tahun. Bahkan, Belgia memutuskan untuk tidak menggunakan vaksin tersebut.

Melansir ABC News, faktor yang membuat beberapa negara memilik memberikan vaksin AstraZeneca kepada orang di atas 50 tahun terkait dengan penyakit baru yang langka berupa penggumpalan darah.

Risiko penggumpalan darah sebenarnya telah dikaitkan dengan vaksin oleh beberapa badan medis, tetapi risiko itu terjadi dalam kasus individu sangat kecil. Penyakit baru yang langka yang menyebabkan ketakutan itu diberi nama Trombosis dengan Sindrom Trombositopenia atau TTS.

TTS adalah ketika seseorang mengembangkan bekuan darah dengan jumlah trombosit dalam darahnya yang turun. Saat ini, kondisi tersebut terlihat pada sebagian kecil orang yang menerima vaksin AstraZeneca di Eropa dan satu orang di Australia juga diduga mengembangkan TTS setelah mendapat suntikan.

Penelitian menunjukkan TTS mempengaruhi empat hingga enam orang per satu juta vaksinasi, atau di suatu tempat di dunia satu dari setiap 200.000 orang.

Ahli mengatakan sekitar 25 persen orang yang mengembangkan TTS meninggal, yang berarti pada tingkat saat ini, kira-kira satu orang per 800.000 yang diberi vaksin AstraZeneca diperkirakan meninggal karena TTS.

Otoritas medis Australia menyebut sindrom langka itu kemungkinan besar merupakan bentuk dari respons imun, maka kemungkinan besar penyakit itu mempengaruhi orang muda dengan sistem kekebalan yang 'kuat'.

Kasus Vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson

Vaksin AstraZeneca. (REUTERS/DADO RUVIC)

Melansir Brussels Times, beberapa negara juga memilih memberikan vaksin Johnson & Johnson (J&J) untuk orang lanjut usia. Jerman misalnya, menyatakan khawatir terjadi pembekuan darah akan dialami orang di bawah usia 60 tahun pasca menerima suntikan vaksin J&J.

European Medicines Agency (EMA) juga telah mengeluarkan peringatan tentang TTS ketika seseorang menerima vaksin J&J. Namun, EMA menyebut TTS merupakan efek samping yang sangat jarang terjadi.

Berdasarkan laporan, TTS diderita orang yang berusia di bawah 60 tahun dalam waktu tiga minggu setelah vaksinasi dan mayoritas adalah perempuan.

Komite keamanan EMA (PRAC) juga mencatat bahwa pembekuan darah terutama terjadi di 'tempat yang tidak biasa', seperti di pembuluh darah di otak (trombosis sinus vena serebral, atau CVST), perut (trombosis vena splanknikus) dan di arteri, bersama dengan tingkat rendah trombosit darah.

Kasus itu sangat mirip dengan kasus yang terjadi dengan vaksin Covid-19 AstraZeneca, kata EMA.

Satu penjelasan yang diklaim masuk akal untuk kombinasi gumpalan darah dan trombosit darah rendah adalah respons imun, yang mengarah ke kondisi yang mirip dengan yang kadang-kadang terlihat pada pasien yang diobati dengan heparin, yang disebut trombositopenia yang diinduksi heparin (HIT).

Melansir Prevention, vaksin AstraZeneca dan J&J menggunakan teknologi vektor adenovirus, versi modifikasi yang tidak berbahaya dari virus flu biasa yang biasanya menyebar di antara simpanse.

Virus yang diubah itu tidak dapat membuat penerimanya menderita flu. Virus itu membawa gen dari protein lonjakan virus corona baru, bagian dari virus yang memicu respons imun.

Hal itu memungkinkan sistem kekebalan untuk memproduksi antibodi yang bekerja melawan Covid-19, mengajari tubuh penerima vaksin cara merespons jika terinfeksi.

Alasan peneliti memilih adenovirus simpanse adalah sederhana, virus yang dimodifikasi harus baru bagi orang yang divaksinasi, jika tidak, tubuh tidak akan menciptakan antibodi unik yang sangat penting itu.

LIHAT SELENGKAPNYA