Ahli Bongkar Fakta Cahaya di Gunung Merapi, Diduga Meteor

CNN Indonesia | Senin, 31/05/2021 07:50 WIB
Sebuah foto memperlihatkan cahaya kehijauan berada di atas Gunung Merapi pada 27 Mei, ahli menduga meteor. Letusan Gunung Merapi terlihat dari bungker Kaliadem, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (17/11/2019). (ANTARA FOTO/Rudi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah hasil tangkapan kamera yang memperlihatkan cahaya hijau di atas Puncak Gunung Merapi tengah viral di media sosial. Foto itu diambil menggunakan teknik 'long exposure' yang diduga tepat menangkap momen meteor jatuh.

Foto itu diambil fotografer bernama Gunarto yang kemudian mengunggahnya di akun Instagram @gunarto_song pada Sabtu (29/5). Dalam unggahannya dia menulis 'Kali Adem, Cangkringan, Yogyakarta (27 Mei 2021, Jam 23.07 WIB)'.

[Gambas:Instagram]


Gunarto saat dihubungi menjelaskan pada awalnya ia hanya berniat berburu panorama Merapi pada malam hari dari lokasi Batu Alien di daerah Kaliadem, Cangkringan, pada Kamis (27/5) malam.

Ketika hendak berkemas, ia mengatakan sempat mengambil beberapa jepretan terakhir. Ia terpaku pada sekumpulan awan yang tiba-tiba tampak di Puncak Merapi, katak dia saat itulah cahaya tersebut turun dari langit.

"Yang pasti kalau ngomong itu foto saya bener-bener melihat ada cahaya putih dan cukup terang. Dia jatuh dari atas, pokoknya saya tahunya dia itu cuma satu dua detik ya, cepat sekali, jatuh dari atas ke bawah," kata Gunarto.

Gunarto memastikan foto tersebut bukan hasil rekayasa. Ia mengungkap teknik pengambilan foto, yaitu penyetelan kecepatan rana pada pengaturan 4 detik yang membuat cahaya di atas Merapi terlihat memanjang.

"Karena pemakaian saya pakai speed 4 detik. Mau enggak mau pasti fotonya [cahaya] jadi panjang. Tapi cahaya itu cahaya bulat, cepatlah pokoknya cahaya bulat terus jatuh," ujar Gunarto.

"Di atas gunung itu ada awan-awan, nah awannya itu ada ambience dari sinarnya yang jatuh itu warnanya kehijauan. Harusnya kalau itu memang jauh sekali dari misalnya Merapi kenapa bisa ada ambience itu di atas awan itu," katanya.

Gunarto berpendapat fenomena yang dia tangkap itu bukan berasal dari cahaya pesawat atau sinar laser. Ia mengatakan bukan ahli astronomi, namun dia menerka cahaya itu berasal dari meteor.

"Ini kejadiannya mirip meteor yang selama ini saya lihat, tapi ini sangat dekat karena aku tahunya di atas puncak. Tapi enggak tahu, ini perspektif saya ya, karena memang jujur saja tidak ada suara dentuman [saat cahaya jatuh]," tutupnya.

Pendapat ahli

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida menjelaskan dalam tanggapan viralnya hasil foto Gunarto bahwa kamera di Deles atau sisi timur Gunung Merapi sempat menangkap kilat cahaya pada 27 Mei. Hasil video itu telah diunggah di media sosial.

"Kamera CCTV yang berada di Deles sempat merekam kilatan cahaya pada tanggal 27 Mei 2021 pukul 23.08.10 WIB. Berdasar data pemantauan, pada saat kejadian tidak ada sinyal kegempaan dan suara sehingga kami menyimpulkan tidak ada benda yang jatuh di sekitar Merapi," kata Hanik dalam keterangan resmi.

[Gambas:Instagram]

Hanik mengatakan pihaknya tak bisa memastikan sumber fenomena tersebut mengingat ranah mereka adalah mitigasi Gunung Merapi. Dia juga meyakini fenomena tersebut tidak berpengaruh terhadap aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang statusnya sampai saat ini masih Siaga (Level III).

Sementara itu Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menduga cahaya di atas Merapi adalah meteor. Menurut LAPAN pada Mei terdapat dua hujan meteor yang sedang aktif, yakni Hujan Meteor Eta Aquarid (19 April - 28 Mei) dan Hujan Meteor Arietid (14 Mei - 24 Juni).

LAPAN menjelaskan penyebab warna hijau yang muncul di foto yakni kandungan magnesium pada meteor. Selama ini dikatakan magnesium pada meteor menghasilkan warna biru kehijauan (cyan), sementara jika mengandung kalsium berwarna violet, nikel berwarna hijau, serta oksigen dan nitrogen berwarna merah.

[Gambas:Instagram]

(can/fea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK