Great Pasific Garbage Patch, Genangan Sampah Terbesar Laut

CNN Indonesia | Minggu, 13/06/2021 11:52 WIB
Sampah plastik dalam jumlah sangat besar tidak hanya ditemukan di darat tapi juga ditemukan di Samudera Pasifik. Ilustrasi sampah di Samudera Pasfik. (AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sampah plastik dalam jumlah sangat besar tidak hanya ditemukan di darat. Kumpulan sampah itu ternyata juga ditemukan di Samudera Pasifik atau dikenal dengan The Great Pacific Garbage Patch.

Great Pacific Garbage Patch yang juga dikenal sebagai pusaran sampah Pasifik, membentang di perairan dari Pantai Barat Amerika Utara hingga Jepang. Kumpulan sampah itu berasal dari sampah yang terletak di dekat Jepang dan yang terletak di antara negara bagian Hawaii dan California, Amerika Serikat.

Melansir National Geographic, pusaran sampah kedua wilayah bertemu di Pasifik karena dipengaruhi oleh Zona Konvergensi Subtropis Pasifik Utara, yang terletak beberapa ratus kilometer di utara Hawaii.


Zona konvergensi itu adalah tempat air hangat dari Pasifik Selatan bertemu dengan air dingin dari Kutub Utara. Zona ini bertindak seperti jalan raya yang memindahkan puing-puing dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Great Pacific Garbage Patch dibatasi oleh Pusaran Subtropis Pasifik Utara. Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) AS mendefinisikan pusaran itu sebagai sistem besar arus laut yang berputar-putar yang disebut gyre.

Pusaran Subtropis Pasifik Utara dibentuk oleh empat arus yang berputar searah jarum jam di sekitar area seluas 20 juta kilometer persegi, yakni arus California, arus Khatulistiwa Utara, arus Kuroshio, dan arus Pasifik Utara.

Bagian tengah gyre cenderung sangat tenang dan stabil. Gerakan pusaran yang melingkar pun menarik puing-puing ke pusat stabil itu, di mana membuat sampah menjadi terperangkap.

Jumlah puing-puing di Great Pacific Garbage Patch terakumulasi karena sebagian besar tidak dapat terurai secara hayati. Plastik misalnya, hanya pecah menjadi potongan-potongan yang lebih kecil.

Bagi banyak orang, Great Pacific Garbage Patch adaah pulau sampah yang mengambang di lautan. Kenyataanya, kawasan itu hampir seluruhnya terdiri dari potongan-potongan kecil plastik, yang disebut mikroplastik.

Mikroplastik tidak selalu bisa dilihat dengan mata telanjang. Bahkan, citra satelit tidak menemukan sampah raksasa di sana. Di dasar laut Great Pacific Garbage Patch mungkin juga terdapat tumpukan sampah. Ahli kelautan dan ekologi baru-baru ini menemukan bahwa sekitar 70 persen sampah laut benar-benar tenggelam ke dasar laut.

Melansir NOAA, Great Pacific Garbage Patch berada jauh di tengah lautan di mana hampir tidak pernah dihampiri manusia. Karena sangat jauh, sulit untuk mempelajarinya.

Para ilmuwan juga jarang melihat langsung dampak tumpukan sampah itu pada hewan. Namun diyakini bahwa sampah dapat berdampak pada satwa liar. Misalnya, hewan mungkin keliru memakan plastik dan sampah lainnya. Sampah jaring nelayan juga dapat menjebak atau membungkus hewan.

Sampah laut dapat mengangkut spesies dari satu tempat ke tempat lain. Alga, teritip, kepiting, atau spesies lain dapat menempel pada puing-puing dan diangkut melintasi lautan.

Jika spesies tersebut invasif, dan dapat menetap dan berkembang di lingkungan baru, spesies tersebut dapat mengalahkan atau memenuhi spesies asli, sehingga mengganggu ekosistem.

Manusia juga bisa terdampak dari kondisi itu. Manusia dapat terpapar mikroplastik dari sejumlah sumber, seperti makanan laut atau garam laut.

(jps/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK