65 Persen Hoaks Vaksin di Facebook AS Disebar oleh 12 Orang

CNN Indonesia | Sabtu, 17/07/2021 20:07 WIB
Gedung Putih mengungkapkan ada 12 orang penyebar disinformasi yang bertanggung jawab hingga 65 persen hoaks Covid yang beredar di Facebook. Ilustrasi Facebook. Pada akhir pekan ini, pemerintah AS mengungkapkan 12 orang yang bertanggung jawab atas mayoritas hoaks di media sosial Facebook. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan ada 12 orang yang bertanggung jawab menyebarkan mayoritas kabar menyesatkan tentang anti-vaksi.

Gedung Putih memanggil mereka dengan sebutan 'disinformation dozen' (12 orang penyebar disinformasi)

"Ada sekitar 12 orang yang memproduksi 65 persen disinformasi soal anti-vaksin di platform sosial media," kata Sekretaris Pers AS Jen Psaki pada Kamis (15/7) waktu setempat, seperti dikutip dari CNN.


Sebelumnya, sebuah organisasi nirlaba Center for Countering Digital Hate (CCDH) menerbitkan laporan pada Maret lalu tentang selusin orang yang disebut sebagai penyebar informasi menyesatkan tentang anti-vaksin.

CCDH pada saat itu meminta Facebook dan Twitter untuk menutup semua halaman yang dijalankan oleh orang-orang tersebut.

CCDH juga sempat menyerukan agar Robert F. Kennedy Jr., seorang tokoh terkemuka dalam gerakan anti-vaksin, dikeluarkan dari media sosial.

Menurut Facebook, halaman Kennedy di Instagram ditutup awal tahun ini karena membagikan informasi yang salah tentang Covid-19. Sebagai informasi, Facebook merupakan induk perusahaan Instagram.

Kendati 'ditendang' Instagram, Kennedy masih diizinkan berada di laman Facebook dan memiliki lebih dari 300 ribu pengikut di sana.

"Kami tidak secara otomatis menonaktifkan akun (Kennedy) di seluruh aplikasi kami, karena akun bisa saja mem-posting tentang hal yang berbeda di layanan kami yang berbeda," kata Juru Bicara Facebook. 

Pada saat laporan CCDH dirilis pada Maret lalu, Kennedy mengatakan kepada NPR bahwa dia menjadi lebih berhati-hati di Facebook. 

"Saya harus mem-posting, seperti, gambar unicorn dan kucing di sana," katanya.

CCDH mengatakan pada Jumat (16/7), 35 akun media sosial yang terkait dengan 12 orang teridentifikasi itu telah ditutup.

Aksi ini membuat mereka kehilangan 5,8 juta pengikut. Namun, 62 akun lain dengan total 8,4 juta pengikut masih aktif.

Menurut seorang sumber, pertemuan antara pemerintahan Presiden Joe Biden dan Facebook berlangsung menegangkan. Sumber mengatakan beberapa pejabat Gedung Putih menilai masih aktifnya akun Kennedy memperlihatkan betapa lambatnya Facebook menangani misinformasi terkait Covid-19.

Seorang Juru Bicara Facebook mengatakan kepada CNN pada Jumat (16/7) bahwa perusahaan telah menutup beberapa halaman dan grup milik selusin orang yang diidentifikasi oleh CCDH. Sayangnya ia tidak menyebut halaman mana yang dimaksud.

Sementara, hingga berita diturunkan Twitter belum menanggapi permintaan komentar.

(wel/vws)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK