LIPI: Varian Lokal B.1.466.2 Masif Sebelum Delta Menyerang
CNN Indonesia
Kamis, 29 Jul 2021 16:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. LIPI menyebut penyebaran varian lokal B.1.466.2 yang kini dalam pengawasan WHO sempat masif di Indonesia sebelum varian Delta menyerang.(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut varian lokal B.1.466.2yang kini berada dalam pemantauan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sempat masif mendominasi penularan Covid-19 di Indonesia.
Menurut peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI yang juga merupakan Ketua Tim Riset Whole Genome Sequencing (WGS) LIPI Sugiyono Saputra varian B.1.466.2 sempat mendominasi penularan di Indonesia pada hingga 57 persen kasus Covid-19 pada Maret 2021 sebelum akhirnya varian Delta menyerang dan mendominasi lebih dari 80 persen.
"Iya (sempat) masif, tapi dulu tak terbahas karena keterbatasan untuk melakukan whole genome sequencing juga. Saat ini data genom sudah banyak dan bisa bicara banyak dan (jadi) tahu juga kalau dulu varian lokal pernah mendominasi," jelasnya saat dihubungi Kamis (29/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Sugiyono menyebut B.1.466.2 memang merupakan varian yang paling menonjol karena proporsinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan varian lain.
"Terutama pada bulan Januari 2020 sebesar 23 persen, kemudian terus naik hingga mencapai 57 persen pada bulan Maret, dan 49 persen pada pertengahan Mei 2021, sebelum akhirnya varian Delta mendominasi hingga lebih dari 80 persen," jelasnya.
Namun, saat ini Saat ini varian tersebut cenderung minoritas dan proporsinya kurang dari 5 persen pada pertengahan Juni-Juli, dimana varian Delta tetap mendominasi hingga 92 persen.
Selain varian B.1.466.2, ada pula beberapa varian lain yang keberadaannya dominan di Indonesia, yaitu B.1.470, B.1.1.398, dan B.1.459. "Varian tersebut sebetulnya bukan varian baru karena keempatnya pertama kali terdeteksi sekitar tahun 2020 namun beberapa diantaranya mungkin masih bersirkulasi hingga saat ini," tambah Sugiyono.
Varian B.1.466.2 pertama kali ditemukan di Bekasi pada 12 November 2020. Varian B.1.470 ditemukan di Surabaya 9 April 2020, B.1.1.398 di Jakarta pada 5 Juni 2020, dan B.1.459 di NTB pada 1 Juni 2020.
Lebih lanjut, Sugiyono menuturkan, WHO sudah memberikan status memonitor varian lokal Indonesia B.1.466.2 pada tanggal 28 April 2021.
Alasannya, varian ini memiliki perubahan material genetik yang diduga mempengaruhi karakteristik virus atau diduga dapat menimbulkan risiko di masa depan. Tetapi bukti dampak fenotipik atau epidemiologis saat ini tidak jelas, sehingga memerlukan pemantauan lebih lanjut dan bukti ilmiah baru.
Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mencatat sejauh ini sudah ada 923 kasus mutasi virus SARS-CoV-2 varian lokal Indonesia, B14662, yang teridentifikasi di nusantara.
Nadia mengatakan varian tersebut sudah teridentifikasi sejak November 2020 ada di sejumlah provinsi Indonesia. Ia juga membenarkan bahwa varian lokal tersebut masuk dalam kategori Alerts for Further Monitoring alias varian yang tengah dipantau perkembangannya oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Nadia menjelaskan bahwa varian B14662 tersebut tidak masuk dalam kategori varian yang menjadi perhatian (Variant of Concern/VoC) maupun varian yang menarik (Variant of Interest/VoI). Ia memaparkan bahwa WHO sejauh ini baru mengkategorikan varian Alfa, Beta, Gamma, dan Delta sebagai VoC. Sementara untuk VoI ada varian Eta, Iota, Kappa, dan Lambda.
WHO mendefinisikan, VoI merupakan kategori varian yang memiliki genom dengan mutasi yang menyebabkan perubahan asam amino yang terkait dengan kepekaan alat tes, telah terdeteksi di banyak negara, hingga teridentifikasi menyebabkan penularan pada komunitas.
Sementara VoC adalah varian yang memiliki peningkatan penularan atau perubahan yang merugikan dalam epidemiologis, memiliki peningkatan virulensi atau perubahan presentasi penyakit klinis, bahkan mampu menurunkan efektivitas vaksin. Hanya saja masih sedikit bukti sehingga perlu penelitian lebih lanjut.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut varian lokal B.1.466.2yang kini berada dalam pemantauan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sempat masif mendominasi penularan Covid-19 di Indonesia.
Menurut peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI yang juga merupakan Ketua Tim Riset Whole Genome Sequencing (WGS) LIPI Sugiyono Saputra varian B.1.466.2 sempat mendominasi penularan di Indonesia pada hingga 57 persen kasus Covid-19 pada Maret 2021 sebelum akhirnya varian Delta menyerang dan mendominasi lebih dari 80 persen.
"Iya (sempat) masif, tapi dulu tak terbahas karena keterbatasan untuk melakukan whole genome sequencing juga. Saat ini data genom sudah banyak dan bisa bicara banyak dan (jadi) tahu juga kalau dulu varian lokal pernah mendominasi," jelasnya saat dihubungi Kamis (29/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Sugiyono menyebut B.1.466.2 memang merupakan varian yang paling menonjol karena proporsinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan varian lain.
"Terutama pada bulan Januari 2020 sebesar 23 persen, kemudian terus naik hingga mencapai 57 persen pada bulan Maret, dan 49 persen pada pertengahan Mei 2021, sebelum akhirnya varian Delta mendominasi hingga lebih dari 80 persen," jelasnya.
Namun, saat ini Saat ini varian tersebut cenderung minoritas dan proporsinya kurang dari 5 persen pada pertengahan Juni-Juli, dimana varian Delta tetap mendominasi hingga 92 persen.
Selain varian B.1.466.2, ada pula beberapa varian lain yang keberadaannya dominan di Indonesia, yaitu B.1.470, B.1.1.398, dan B.1.459. "Varian tersebut sebetulnya bukan varian baru karena keempatnya pertama kali terdeteksi sekitar tahun 2020 namun beberapa diantaranya mungkin masih bersirkulasi hingga saat ini," tambah Sugiyono.
Varian B.1.466.2 pertama kali ditemukan di Bekasi pada 12 November 2020. Varian B.1.470 ditemukan di Surabaya 9 April 2020, B.1.1.398 di Jakarta pada 5 Juni 2020, dan B.1.459 di NTB pada 1 Juni 2020.
Varian B.1.466.2 Asal Bekasi dalam Pengawasan WHO
LIPI menyebut penyebaran varian lokal B.1.466.2 yang kini dalam pengawasan WHO sempat masif di Indonesia sebelum varian Delta menyerang.(iStockphoto/Naeblys)
Lebih lanjut, Sugiyono menuturkan, WHO sudah memberikan status memonitor varian lokal Indonesia B.1.466.2 pada tanggal 28 April 2021.
Alasannya, varian ini memiliki perubahan material genetik yang diduga mempengaruhi karakteristik virus atau diduga dapat menimbulkan risiko di masa depan. Tetapi bukti dampak fenotipik atau epidemiologis saat ini tidak jelas, sehingga memerlukan pemantauan lebih lanjut dan bukti ilmiah baru.
Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mencatat sejauh ini sudah ada 923 kasus mutasi virus SARS-CoV-2 varian lokal Indonesia, B14662, yang teridentifikasi di nusantara.
Nadia mengatakan varian tersebut sudah teridentifikasi sejak November 2020 ada di sejumlah provinsi Indonesia. Ia juga membenarkan bahwa varian lokal tersebut masuk dalam kategori Alerts for Further Monitoring alias varian yang tengah dipantau perkembangannya oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Nadia menjelaskan bahwa varian B14662 tersebut tidak masuk dalam kategori varian yang menjadi perhatian (Variant of Concern/VoC) maupun varian yang menarik (Variant of Interest/VoI). Ia memaparkan bahwa WHO sejauh ini baru mengkategorikan varian Alfa, Beta, Gamma, dan Delta sebagai VoC. Sementara untuk VoI ada varian Eta, Iota, Kappa, dan Lambda.
WHO mendefinisikan, VoI merupakan kategori varian yang memiliki genom dengan mutasi yang menyebabkan perubahan asam amino yang terkait dengan kepekaan alat tes, telah terdeteksi di banyak negara, hingga teridentifikasi menyebabkan penularan pada komunitas.
Sementara VoC adalah varian yang memiliki peningkatan penularan atau perubahan yang merugikan dalam epidemiologis, memiliki peningkatan virulensi atau perubahan presentasi penyakit klinis, bahkan mampu menurunkan efektivitas vaksin. Hanya saja masih sedikit bukti sehingga perlu penelitian lebih lanjut.