BMKG Klaim Terus Perbarui Teknologi Peringatan Dini Cuaca

CNN Indonesia | Selasa, 03/08/2021 23:57 WIB
BMKG mengklaim terus memperbarui tekonologi sistem peringatan dini cuaca untuk menyesuaikan dengan perubahan iklim global. Ilustrasi cuaca ekstrem di Indonesia. (Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperbarui teknologi pemantau cuaca untuk mengantisipasi perubahan iklim global yang semakin kompleks dan dinamis.

Inovasi teknologi yang dilakukan BMKG saat ini diarahkan untuk mampu menangkap indikasi fenomena-fenomena cuaca dan iklim di luar kondisi iklim yang normal.

"BMKG terus berupaya mengembangkan teknologi sistem peringatan dini cuaca dan iklim, pun dengan sistem observasi yang didukung dengan sistem informasi. Dengan begitu, masyarakat yang kerap terdampak perubahan iklim seperti nelayan dan petani dapat memantau dan cepat beradaptasi pula," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dikutip dari Antara.


Menurut Dwikorita, pembaruan teknologi menjadi sangat penting agar dampak perubahan iklim yang begitu cepat bisa dimitigasi dengan baik. Meski tidak mendetail teknologi terbaru yang dimaksud, namun Dwikorita menilai pembaruan teknologi tersebut mendesak.

"Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi salah satu penyebab perubahan iklim global. Kita harus cepat memahami, beradaptasi, dan menyesuaikan diri dengan fenomena ini," ujar dia.

Dwikorita mencontohkan, salah satu fenomena perubahan iklim yang dapat dirasakan adalah masih turunnya hujan di sejumlah wilayah di Indonesia meskipun pada Juli, Indonesia tengah berada di musim kemarau.

Fenomena ini, kata dia, telah diprediksi BMKG sejak Maret 2021, di mana hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa kondisi curah hujan di atas normal terjadi hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kondisi ini agak mirip dengan tahun lalu, ketika curah hujan bulanan di atas normal terjadi di banyak wilayah Indonesia.

Situasi dan kondisi tersebut akibat letak geografis Indonesia yang berada di antara dua benua dan samudra sehingga cuaca dan iklim dipengaruhi interaksi yang terjadi diantara keduanya. Gangguan gelombang atmosfer dan gerak semu matahari juga memberi pengaruh terhadap situasi tersebut.

"Bulan Juli yang umumnya ditandai dengan kondisi kering di wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Jawa, Bali, NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT (Nusa Tenggara Timur), ternyata pada saat yang bersamaan justru merupakan periode puncak hujan bagi sebagian wilayah yang lain, yang berpotensi menimbulkan bencana banjir," ujar dia.

"Jadi, saat masyarakat sedang waspada pada potensi bencana kebakaran hutan dan lahan akibat kemarau, di saat bersamaan, masyarakat juga perlu waspada terhadap potensi bencana banjir," tutup Dwikorita.

(Antara/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK