Beragam Jurus Melindungi Aset Kripto dari Pembobolan
CNN Indonesia
Kamis, 26 Agu 2021 20:08 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi mata uang kripto. (istockphoto/jpgfactory)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan ini marak terjadi pencurian aset kripto yang dilakukan peretas.
Kejadian terbaru dialami salah satu platform pertukaran aset kripto asal Jepang, Liquid, yang diretas oleh peretas pada 19 Agustus lalu. Pembobolan itu diperkirakan mencapai US$90 juta atau sekitar Rp1,3 triliun (kurs Rp14.400), tetapi dilaporkan aset itu dikembalikan oleh pelaku.
Menurut CEO Indodax, Oscar Darmawan, ada sejumlah kiat mencegah praktik pembobolan mata uang digital itu. Pertama dia mengimbau pengguna memastikan bertransaksi di platform aset kripto yang terpercaya, dan sudah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memastikan bahwa mereka bertransaksi di marketplace aset kripto yang terpercaya dan sudah terdaftar di Bappebti agar data tidak rentan dibobol," ujar Oscar kepada CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Selasa (24/8) malam.
Oscar mengatakan, pengguna harus rutin memeriksa akun dan mengubah kata sandi yang sulit diretas. Dia menganjurkan tidak menggunakan kata sandi yang mudah ditebak, dan bukan kata sandi yang sama dengan akun email atau akun media sosial lain.
Kiat lainnya menurut Oscar adalah mengingat kata sandi itu dan bisa menuliskan di buku catatan agar tidak lupa kombinasinya.
"Dengan begitu, kemungkinan aset kripto kita terbobol akan semakin bisa diminimalisir," ujar Oscar.
Oscar juga menyarankan untuk menerapkan prosedur autentikasi ganda (two way authentication) saat setiap pengguna login ke akun kripto. Di Indodax, pihaknya menerapkan 2FA (Two Factor Authentication) yang merupakan fitur keamanan online, dimana pengguna melakukan verifikasi identitas sebanyak dua kali.
Dia menyarankan pengguna tidak mudah percaya terhadap berbagai penawaran menggiurkan atau iming-iming pesan yang ditawarkan seperti aset kripto pengguna akan naik berkali-kali lipat dalam waktu dekat. Oscar juga mengimbau untuk tidak mudah mengklik tautan yang tidak jelas asal usulnya.
Menurut Oscar langkah itu kerap digunakan oleh para peretas menjadi semacam phising untuk menyedot aset kripto pengguna.
Di samping itu jika pengguna melakukan penyimpanan aset kripto secara online, dia menilai ada risiko yang lebih rentan terjadi peretasan oleh hacker. Namun, metode itu tentu jauh lebih gampang dan mudah dari sisi penggunaan.
"Maka dari itu, sebelum memutuskan untuk bertransaksi, pengguna juga harus mencari tahu lebih detail terhadap langkah langkah keamanan yang digunakan platform tersebut," ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan apabila aset kripto disimpan secara offline juga tetap ada risikonya, seperti kehilangan atau kerusakan perangkat.
"Jadi, baik itu penyimpanan offline ataupun online tetap memiliki risikonya masing masing dan dikembalikan lagi kepada keputusan pengguna mau memilih yang mana," tuturnya.
Dengan nilai jual yang semakin naik, Oscar menilai mata uang kripto semakin menjadi incaran peretas. Terlebih di masa pandemi Covid-19 banyak orang yang berinvestasi pada bidang ini.
Saat ini, kata Oscar, nilai jual kripto, termasuk salah satunya Bitcoin, sebagai aset kripto pada Senin (23/8) sudah menyentuh level US$50 ribu atau senilai Rp720 juta (kurs Rp14.407). Hal itu dinilai Oscar merupakan peningkatan yang sangat cepat, karena di dua pekan terakhir baru menyentuh level US$40 ribu atau sekitar Rp576 juta.
Indodax mencatat ada pertumbuhan pengguna yang cukup pesat. Kini, Oscar mengklaim sudah memiliki 4 juta pengguna yang terdaftar hingga hari ini.
Belakangan ini marak terjadi pencurian aset kripto yang dilakukan peretas.
Kejadian terbaru dialami salah satu platform pertukaran aset kripto asal Jepang, Liquid, yang diretas oleh peretas pada 19 Agustus lalu. Pembobolan itu diperkirakan mencapai US$90 juta atau sekitar Rp1,3 triliun (kurs Rp14.400), tetapi dilaporkan aset itu dikembalikan oleh pelaku.
Menurut CEO Indodax, Oscar Darmawan, ada sejumlah kiat mencegah praktik pembobolan mata uang digital itu. Pertama dia mengimbau pengguna memastikan bertransaksi di platform aset kripto yang terpercaya, dan sudah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memastikan bahwa mereka bertransaksi di marketplace aset kripto yang terpercaya dan sudah terdaftar di Bappebti agar data tidak rentan dibobol," ujar Oscar kepada CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Selasa (24/8) malam.
Oscar mengatakan, pengguna harus rutin memeriksa akun dan mengubah kata sandi yang sulit diretas. Dia menganjurkan tidak menggunakan kata sandi yang mudah ditebak, dan bukan kata sandi yang sama dengan akun email atau akun media sosial lain.
Kiat lainnya menurut Oscar adalah mengingat kata sandi itu dan bisa menuliskan di buku catatan agar tidak lupa kombinasinya.
"Dengan begitu, kemungkinan aset kripto kita terbobol akan semakin bisa diminimalisir," ujar Oscar.
Oscar juga menyarankan untuk menerapkan prosedur autentikasi ganda (two way authentication) saat setiap pengguna login ke akun kripto. Di Indodax, pihaknya menerapkan 2FA (Two Factor Authentication) yang merupakan fitur keamanan online, dimana pengguna melakukan verifikasi identitas sebanyak dua kali.
Dia menyarankan pengguna tidak mudah percaya terhadap berbagai penawaran menggiurkan atau iming-iming pesan yang ditawarkan seperti aset kripto pengguna akan naik berkali-kali lipat dalam waktu dekat. Oscar juga mengimbau untuk tidak mudah mengklik tautan yang tidak jelas asal usulnya.
Memahami Kiat Melindungi Aset Kripto dari Pembobolan
Ilustrasi mata uang kripto. (istockphoto/Larina Marina)
Menurut Oscar langkah itu kerap digunakan oleh para peretas menjadi semacam phising untuk menyedot aset kripto pengguna.
Di samping itu jika pengguna melakukan penyimpanan aset kripto secara online, dia menilai ada risiko yang lebih rentan terjadi peretasan oleh hacker. Namun, metode itu tentu jauh lebih gampang dan mudah dari sisi penggunaan.
"Maka dari itu, sebelum memutuskan untuk bertransaksi, pengguna juga harus mencari tahu lebih detail terhadap langkah langkah keamanan yang digunakan platform tersebut," ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan apabila aset kripto disimpan secara offline juga tetap ada risikonya, seperti kehilangan atau kerusakan perangkat.
"Jadi, baik itu penyimpanan offline ataupun online tetap memiliki risikonya masing masing dan dikembalikan lagi kepada keputusan pengguna mau memilih yang mana," tuturnya.
Dengan nilai jual yang semakin naik, Oscar menilai mata uang kripto semakin menjadi incaran peretas. Terlebih di masa pandemi Covid-19 banyak orang yang berinvestasi pada bidang ini.
Saat ini, kata Oscar, nilai jual kripto, termasuk salah satunya Bitcoin, sebagai aset kripto pada Senin (23/8) sudah menyentuh level US$50 ribu atau senilai Rp720 juta (kurs Rp14.407). Hal itu dinilai Oscar merupakan peningkatan yang sangat cepat, karena di dua pekan terakhir baru menyentuh level US$40 ribu atau sekitar Rp576 juta.
Indodax mencatat ada pertumbuhan pengguna yang cukup pesat. Kini, Oscar mengklaim sudah memiliki 4 juta pengguna yang terdaftar hingga hari ini.