Mengenal Virus Corona Varian Mu yang Disebut Kebal Vaksin

CNN Indonesia
Jumat, 03 Sep 2021 15:33 WIB
Mutasi baru virus corona (Covid-19) baru yang disebut varian Mu terus diawasi oleh para peneliti di dunia dan disebut berpotensi kebal vaksin. Ilustrasi mutasi virus corona. Mutasi baru virus corona (Covid-19) baru yang disebut varian Mu terus diawasi oleh para peneliti di dunia dan disebut berpotensi kebal vaksin.(Covid-19). (Dok. CNN.com)
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut berdasarkan riset awal, varian baru virus corona (Covid-19), varian Mu disebut lebih kebal vaksin.

Varian ini pertama kali terdeteksi di Kolombia pada awal tahun lalu dan kini sudah menyebar ke 40 negara. Varian ini sudah menyebar hingga ke Amerika Serikat, beberapa bagian Eropa dan Amerika Selatan, termasuk Jepang.

Kehadiran Mu menjadi perhatian setelah WHO mengumumkan bahwa mereka sedang terus memantau varian baru virus corona tersebut. WHO memasukkan varian Mu ke dalam kategori Variant of Interest (VOI).


Sejumlah pakar menyatakan penduduk tidak perlu khawatir dengan varian Mu karena tidak seperti varian Delta. Sebab infeksi varian ini hanya menyumbang sebagian kecil dari seluruh kasus global.

WHO menyatakan varian Covid-19 bernama ilmiah B.1.621. Menurut WHO, mutasi varian itu mengindikasikan kebal terhadap vaksin.

Ahli penyakit menular dari Mater Health Services dan University of Queensland, Paul Griffin, mengatakan para ahli kesehatan terus-menerus mencari varian Covid-19 yang mungkin lebih mudah menginfeksi orang yang divaksinasi melalui mutasi pada lonjakan protein virus.

"Jika lonjakan protein lonjakan itu berubah secara signifikan, maka pasti ada potensi vaksin kami bekerja kurang baik," kata Griffin seperti dikutip dari ABC Australia, Rabu (1/9).

"Kami pikir akan ada waktu di mana itu menjadi sangat mungkin, tetapi kami belum benar-benar melihatnya," tambahnya.

Menurut WHO, jumlah keseluruhan kasus infeksi varian Mu dalam di dunia sebenarnya menurun sejak pertama kali terdeteksi. Varian ini menyumbang kurang dari 0,1 persen dari semua infeksi Covid-19 dunia.

Akan tetapi infeksi varian B.1.621 juga dilaporkan terjadi di beberapa negara bagian AS dan Eropa.

Seperti dilansir News Medical, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science melaporkan varian B.1.621 menyangkut efisiensi netralisasi oleh antibodi poliklonal, transmisibilitas, dan afinitas untuk ACE2.

Para ahli menyimpulkan varian Covid-19 B.1.621 adalah keturunan dari varian B.1 yang terdeteksi di Kolombia selama Maret hingga April 2021 lalu.

Anggota dari garis keturunan varian ini memiliki sisipan 146N, bersama dengan beberapa substitusi seperti I95I, 144T, dan Y145S dan semuanya berada pada domain terminal-N; R346K, E484K, N501Y (ketiganya di domain pengikatan reseptor, RBD); dan P681H.

Resisten Terhadap Antibodi

Laporan epidemiologi WHO menyatakan data awal menunjukkan varian Mu tampaknya lebih resisten terhadap antibodi.

Griffin mengatakan tes laboratorium itu tidak memberikan gambaran lengkap tentang bagaimana kekebalan manusia bekerja di dunia nyata.

"Studi penetralisir itu sangat berguna karena cukup mudah dilakukan dan cukup cepat, tetapi itu adalah bagian dari cerita, bukan keseluruhan cerita," kata Griffin.

"Kita perlu melihatnya secara klinis, jadi di dunia nyata, kita melihat perubahan sifat yang berarti vaksin benar-benar kehilangan efikasinya," tambah Griffin.

WHO juga menjelaskan hal ini perlu diselidiki lebih lanjut dan Griffin mengatakan varian Mu seharusnya tidak menjadi perhatian besar masyarakat.

(mhr/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER