Kata Ahli Soal Isu Ada Virus Corona Mutan Bocor di Lab China
CNN Indonesia
Selasa, 14 Sep 2021 06:59 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Ahli mengungkap terkait isu ada virus corona mutan yang bocor dari laboratorium penelitian virus di Wuhan China yang jadi penyebab pandemi Covid-19. (JOHANNES EISELE / AFP)
AS menjadikan dokumen ini sebagai bukti untuk menuduh China telah melakukan rekayasa genetik virus corona yang akhirnya menyebabkan pandemi Covid-19.
"(Proposal) itu adalah adalah peta jalan menuju penelitian berisiko tinggi yang dapat menyebabkan pandemi saat ini," kata Direktur Eksekutif Right To Know, Gary Ruskin, salah satu organisasi yang turut menyelidiki asal-usul Covid-19.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proposal penelitian berjudul 'Memahami Risiko Kemunculan Virus Corona Kelelawar' itu menguraikan niat ambisius EcoHealth Alliance untuk meneliti ribuan sampel kelelawar untuk menciptakan virus corona baru.
Dokumen itu juga memaparkan beberapa detail penting tentang penelitian virus corona di Wuhan, termasuk salah satu eksperimen mutan virus corona terhadap sebuah tikus yang dimodifikasi sehingga sel-selnya seperti manusia.
Pakar Biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Utomo menjelaskan yang dimaksud dengan sengaja membuat mutasi virus dalam dokumen tersebut lantaran para peneliti sengaja membedah susunan genetik virus. Pembedahan dilakukan untuk mengetahui perbedaan susunan genetik yang mana yang membuat virus bisa menyebabkan sakit pada manusia.
Dari hasil pemelitian terhadap kelelawar di goa-goa China, mereka menemukan virus yang mirip sekali dengan SARS-CoV-1. Mereka menamakan virus ini WIV-1. Tapi, virus ini ternyata tidak menimbulkan penyakit pada hewan percobaan.
Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan yang menggelitik. Karena mengapa dua virus yang sangat mirip namun tidak identik bisa menimbulkan penyakit, sementara yang lain tidak.
"Lalu mereka ambil potongan spike dari WIV-1 diubah jadi seperti yg infeksi manusia. sekarang w1 bisa menimbulkan penyakit di mencit. itulah maksud mereka berusaha creating mutant," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/9).
Mereka menemukan bahwa satu hal yang membedakan kedua virus ini bisa menimbulkan penyakit pada manusia dan tidak adalah pada protein lonjakan virus (spike protein). Sebab, protein lonjakan inilah yang jadi kunci virus untuk masuk ke sel manusia dan akhirnya menyebabkan penyakit.
"Mereka lihat di gen spike. di gen spike ada kluster beberapa huruf genetik yang krusial untuk mengikat ACE 2 manusia," tambahnya.
Jadi, Covid-19 rekayasa lab China atau bukan?
Terkait rekayasa virus corona yang menyebar sekarang, Ahmad menilai bahwa hal tersebut bukan rekayasa dari laboratorium tersebut.
Berdasarkan pengamatan Ahmad ketika Sars pertama kali muncul pada 2002 silam, semua sepakat bahwa virus tersebut muncul secara alami. Demikian juga pada Mers yang pernah menjangkit Saudi Arabia.
Lebih lanjut, Ahmad menegaskan bahwa Covid-19 yang ada saat ini bukan lah virus yang sengaja dibuat. Pasalnya, susunan genetik virus corona SARS-CoV-1 yang mereka teliti sangat berbeda dengan susunan genetik SARS-CoV-2 yang saat ini menginfeksi.
"Perbedaanya banyak...(jika) ditotal perbedaanya sampai 20 persen. Jadi kalau ini dibilang rekayasa, ya tidak tepat," pungkasnya.
Kecuali jika antara virus yang diteliti dan SARS-CoV-2 yang menyebar saat ini identik 99 persen, menurutnya bisa jadi hal itu akibat kebocoran dari lab virus Wuhan.
AS danai lab virus Wuhan China buat teliti virus corona?
Isu bocor virus corona SARS-CoV-2 dari Laboratorium Penelitian Virus di Wuhan, China, terus menjadi perdebatan karena disebut-sebut menjadi tempat awal mula Covid-19 menyebar akibat penelitian virus corona yang intensif dilakukan oleh laboratorium ini sejak 2014.
Dalam dokumen setebal 900 halaman yang didapat The Intercept, lembaga kesehatan EcoHealth Alliance disebut menggunakan uang pemerintah federal AS untuk melakukan proyek penelitian virus corona SARS-CoV-1.
Ahmad menekankan bahwa sebenarnya dokumen yang dimaksud merupakan sebuah research grant atau penganugerahan penelitian untuk virus Sars.
"Jadi itu research grant, maksudnya bukan bocor. Cuma research grant ini bukan konsumsi publik jadi disalahartikan, soalnya ini ada duitnya berapa, ini juga konfidensial. Apalagi ilmuwan itu gak pengen idenya dicuri," katanya.
SARS-CoV-1 adalah virus yang menyebabkan wabah SARS saat itu. Virus ini berbeda dengan SARS-CoV-2 yang saat ini menjadi penyebab Covid-19. Para peneliti sengaja mencari bagaimana virus ini bisa menular dari hewan ke manusia. Mereka pun menggelar penelitian hingga ke sumber asal para kelelawar yang ada di goa-goa di Guangdong di China selatan.
"Saya cari nama-nama peneliti yang terlibat, Daschek, Lee, mereka memulai penelitian, sejak SARS merebak (2002). Untuk mengetahui bagaimana mekanisme lompatnya virus hewan liar bisa masuk ke manusia. Sebab, kalau kita tahu bagaimana mereka loncat, kita bisa tahu mitigasinya lebih cepat," tuturnya.
Menurut Ahmad, dokumen penelitian ini sebenarnya bersifat rahasia karena berisi ide-ide orisinil para peneliti virus tersebut. Namun, karena kecurigaan publik atas bocor virus dari laboratorium Wuhan mencuat dan meresahkan warga dunia, dokumen ini lantas dibuka ke publik.
"Nah tapi karena ada orang awam yang pengen tahu banget ya mereka menuntut ke pengadilan untuk dibuka, ya gapapa, dan itu dokumennya proposal penelitian yang didanai. Jadi ini yang disebutkan dalam tanda kutip bocor tadi itu, gak ada dokumen yang lain, hanya itu," tambahnya.
Ahmad menuturkan dokumen penelitian virus corona oleh Laboratorium Wuhan yang dibuka oleh Amerika Serikat tersebut merupakan pemberian dana untuk riset SARS-CoV-1 di tahun 2014-2019.
"Setelah didanai oleh Amerika mereka mulai survey. Mereka menemukan corona virus yang sequencenya sangat mirip dengan Sars Cov-1, mereka namakan WIV-1, WIV-1 ini ketika disandingkan sequence dia denganSars Cov-1itu mirip. Cuma bedanya mereka ga bisa menimbulkan penyakit di hewan percobaan," papar Ahmad.
Selain itu terdapat dokumen kedua berupa pemberian dana riset untuk 2020-2025. Namun, dana ini tak jadi meluncur lantaran dijegal Presiden AS Donald Trump usai pandemi merebak.
Pemberian dana kedua ini menurut Ahmad ditujukan untuk memperluas penelitian ke kawsan Asia Tenggara dengan tujuan mengatasi wabah serupa SARS kembali terjadi. Tapi, ternyata pada akhir 2019 wabah yang lebih besar sudah terjadi.
AS menjadikan dokumen ini sebagai bukti untuk menuduh China telah melakukan rekayasa genetik virus corona yang akhirnya menyebabkan pandemi Covid-19.
"(Proposal) itu adalah adalah peta jalan menuju penelitian berisiko tinggi yang dapat menyebabkan pandemi saat ini," kata Direktur Eksekutif Right To Know, Gary Ruskin, salah satu organisasi yang turut menyelidiki asal-usul Covid-19.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proposal penelitian berjudul 'Memahami Risiko Kemunculan Virus Corona Kelelawar' itu menguraikan niat ambisius EcoHealth Alliance untuk meneliti ribuan sampel kelelawar untuk menciptakan virus corona baru.
Dokumen itu juga memaparkan beberapa detail penting tentang penelitian virus corona di Wuhan, termasuk salah satu eksperimen mutan virus corona terhadap sebuah tikus yang dimodifikasi sehingga sel-selnya seperti manusia.
Pakar Biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Utomo menjelaskan yang dimaksud dengan sengaja membuat mutasi virus dalam dokumen tersebut lantaran para peneliti sengaja membedah susunan genetik virus. Pembedahan dilakukan untuk mengetahui perbedaan susunan genetik yang mana yang membuat virus bisa menyebabkan sakit pada manusia.
Dari hasil pemelitian terhadap kelelawar di goa-goa China, mereka menemukan virus yang mirip sekali dengan SARS-CoV-1. Mereka menamakan virus ini WIV-1. Tapi, virus ini ternyata tidak menimbulkan penyakit pada hewan percobaan.
Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan yang menggelitik. Karena mengapa dua virus yang sangat mirip namun tidak identik bisa menimbulkan penyakit, sementara yang lain tidak.
"Lalu mereka ambil potongan spike dari WIV-1 diubah jadi seperti yg infeksi manusia. sekarang w1 bisa menimbulkan penyakit di mencit. itulah maksud mereka berusaha creating mutant," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/9).
Mereka menemukan bahwa satu hal yang membedakan kedua virus ini bisa menimbulkan penyakit pada manusia dan tidak adalah pada protein lonjakan virus (spike protein). Sebab, protein lonjakan inilah yang jadi kunci virus untuk masuk ke sel manusia dan akhirnya menyebabkan penyakit.
"Mereka lihat di gen spike. di gen spike ada kluster beberapa huruf genetik yang krusial untuk mengikat ACE 2 manusia," tambahnya.
Jadi, Covid-19 rekayasa lab China atau bukan?
Terkait rekayasa virus corona yang menyebar sekarang, Ahmad menilai bahwa hal tersebut bukan rekayasa dari laboratorium tersebut.
Berdasarkan pengamatan Ahmad ketika Sars pertama kali muncul pada 2002 silam, semua sepakat bahwa virus tersebut muncul secara alami. Demikian juga pada Mers yang pernah menjangkit Saudi Arabia.
Lebih lanjut, Ahmad menegaskan bahwa Covid-19 yang ada saat ini bukan lah virus yang sengaja dibuat. Pasalnya, susunan genetik virus corona SARS-CoV-1 yang mereka teliti sangat berbeda dengan susunan genetik SARS-CoV-2 yang saat ini menginfeksi.
"Perbedaanya banyak...(jika) ditotal perbedaanya sampai 20 persen. Jadi kalau ini dibilang rekayasa, ya tidak tepat," pungkasnya.
Kecuali jika antara virus yang diteliti dan SARS-CoV-2 yang menyebar saat ini identik 99 persen, menurutnya bisa jadi hal itu akibat kebocoran dari lab virus Wuhan.
Teka-teki Dana AS Buat Teliti Virus Corona di China
Ilustrasi. Ahli mengungkap terkait isu ada virus corona mutan yang bocor dari laboratorium penelitian virus di Wuhan China yang jadi penyebab pandemi Covid-19. (AP/Ng Han Guan)
AS danai lab virus Wuhan China buat teliti virus corona?
Isu bocor virus corona SARS-CoV-2 dari Laboratorium Penelitian Virus di Wuhan, China, terus menjadi perdebatan karena disebut-sebut menjadi tempat awal mula Covid-19 menyebar akibat penelitian virus corona yang intensif dilakukan oleh laboratorium ini sejak 2014.
Dalam dokumen setebal 900 halaman yang didapat The Intercept, lembaga kesehatan EcoHealth Alliance disebut menggunakan uang pemerintah federal AS untuk melakukan proyek penelitian virus corona SARS-CoV-1.
Ahmad menekankan bahwa sebenarnya dokumen yang dimaksud merupakan sebuah research grant atau penganugerahan penelitian untuk virus Sars.
"Jadi itu research grant, maksudnya bukan bocor. Cuma research grant ini bukan konsumsi publik jadi disalahartikan, soalnya ini ada duitnya berapa, ini juga konfidensial. Apalagi ilmuwan itu gak pengen idenya dicuri," katanya.
SARS-CoV-1 adalah virus yang menyebabkan wabah SARS saat itu. Virus ini berbeda dengan SARS-CoV-2 yang saat ini menjadi penyebab Covid-19. Para peneliti sengaja mencari bagaimana virus ini bisa menular dari hewan ke manusia. Mereka pun menggelar penelitian hingga ke sumber asal para kelelawar yang ada di goa-goa di Guangdong di China selatan.
"Saya cari nama-nama peneliti yang terlibat, Daschek, Lee, mereka memulai penelitian, sejak SARS merebak (2002). Untuk mengetahui bagaimana mekanisme lompatnya virus hewan liar bisa masuk ke manusia. Sebab, kalau kita tahu bagaimana mereka loncat, kita bisa tahu mitigasinya lebih cepat," tuturnya.
Menurut Ahmad, dokumen penelitian ini sebenarnya bersifat rahasia karena berisi ide-ide orisinil para peneliti virus tersebut. Namun, karena kecurigaan publik atas bocor virus dari laboratorium Wuhan mencuat dan meresahkan warga dunia, dokumen ini lantas dibuka ke publik.
"Nah tapi karena ada orang awam yang pengen tahu banget ya mereka menuntut ke pengadilan untuk dibuka, ya gapapa, dan itu dokumennya proposal penelitian yang didanai. Jadi ini yang disebutkan dalam tanda kutip bocor tadi itu, gak ada dokumen yang lain, hanya itu," tambahnya.
Ahmad menuturkan dokumen penelitian virus corona oleh Laboratorium Wuhan yang dibuka oleh Amerika Serikat tersebut merupakan pemberian dana untuk riset SARS-CoV-1 di tahun 2014-2019.
"Setelah didanai oleh Amerika mereka mulai survey. Mereka menemukan corona virus yang sequencenya sangat mirip dengan Sars Cov-1, mereka namakan WIV-1, WIV-1 ini ketika disandingkan sequence dia denganSars Cov-1itu mirip. Cuma bedanya mereka ga bisa menimbulkan penyakit di hewan percobaan," papar Ahmad.
Selain itu terdapat dokumen kedua berupa pemberian dana riset untuk 2020-2025. Namun, dana ini tak jadi meluncur lantaran dijegal Presiden AS Donald Trump usai pandemi merebak.
Pemberian dana kedua ini menurut Ahmad ditujukan untuk memperluas penelitian ke kawsan Asia Tenggara dengan tujuan mengatasi wabah serupa SARS kembali terjadi. Tapi, ternyata pada akhir 2019 wabah yang lebih besar sudah terjadi.