Adi Utarini, Peneliti Nyamuk UGM Paling Berpengaruh di Dunia

CNN Indonesia | Sabtu, 18/09/2021 13:57 WIB
Adi Utarini masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Majalah TIME. Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Adi Utarini . (Foto: Tangkapan layar instagram @adiutarinimusik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Adi Utarini masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Majalah TIME. Adi meneliti bakteri Wolbachia yang mampu menghambat penularan kasus demam berdarah.

"Bersyukur alhamdulillah ini kan limpahan berkah luar biasa dari tuhan atas bersama selama 10 tahun," kata Prof Uut dalam wawancara bersama CNNIndonesia TV, dikutip Sabtu (18/9).

Perempuan yang biasa disapa dengan sebutan Prof Uut ini mengatakan penelitian nyamuk demam berdarah ini dilakukan selama 10 tahun. Penelitian dimulai pada 2011 dengan menyebarkan telur nyamuk Aedes aegypti wolbachia pada 2016-2020 di sejumlah wilayah Yogyakarta.


"Wolbachia dalam tubuh nyamuk, itu dia bekerja dengan menghambat perkembangan virus demam berdarah. Jadi virus tidak berkembang. Kalau nyamuk gigit manusia maka penularannya sangat terhambat," ungkap Prof Uut dalam wawancara bersama CNNIndonesia TV, dikutip Sabtu (18/9).

Menurut Prof Uut para peneliti mencoba melepaskan dan meletakkan telur dari nyamuk di ember. Kemudian, ember dititipkan ke masyarakat.

"Kemudian setiap dua minggu diganti telur, air, sehingga dengan berjalan waktu lebih kurang enam bulan, kami seluruh nyamuk mengandung wolbachia. Bakteri alami wolbachia," papar Prof Uut.

Dari hasil penelitiannya terbukti angka kasus penularan demam berdarah dapat ditekan hingga 77 persen.

"Ada intervensi nyamuk wolbachia dan tanpa intervensi wolbachia. Dengan cara itu kami bandingkan berapa banyak yang terjadi kasus di wilayah yang intervensi wolbachia dan tanpa wolbachia," jelas Prof Uut.

Ia berharap pemerintah dapat selalu membuka jalan bagi penelitian seperti ini. Prof Uut juga meminta agar pemerintah menata ekosistem penelitian dan memberikan kebebasan peneliti berinovasi.

"Dengan ekosistem yang tepat, maka akan membuka jalan lebar bagi peneliti dan memberikan kebebasan bagi peneliti untuk berinovasi," jelas dia.

(mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK