Misteri Infeksi Patogen dan Mitos Kutukan Mumi Firaun

mrh, CNN Indonesia | Selasa, 28/09/2021 16:20 WIB
Sejumlah pakar membeberkan soal mitos kutukan makam Firaun dan infeksi patogen yang dialami penjelajah dan dermawan George Herbert. Makam Firaun di Mesir. (AFP/KHALED DESOUKI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli membongkar soal dugaan infeksi patogen yang menjadi penyebab kematian seorang donatur penggalian makam Firaun bernama George Herbert, dan kaitannya dengan mitos kutukan mumi Firaun.

Isu tersebut bermula ketika George Herbert yang bergelar Lord Carnarvon tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal pada 5 April 1923, setelah masuk ke makam itu yang ditemukan pada 1922.

Apalagi dalam sebuah tulisan di makam raja Tut, tertulis:


"Kematian akan datang dengan cepat bagi mereka yang mengganggu kedamaian raja."

Tulisan dalam ukiran makam Firaun itu mengundang banyak persepsi. Ada yang menganggapnya sebagai sekadar pesan terakhir dari almarhum, ada juga yang menganggapnya sebagai kalimat kutukan mumi firaun.

Penemuan makam Tutankhamun pada 1922 disebut sebagai penemuan luar biasa karena merupakan salah satu makam kerajaan dari Mesir kuno yang belum pernah dieksplorasi sebelumnya.

Tidak ada yang percaya bahwa tim yang dipimpin ahli Mesir Kuno asal Inggris, Howard Carter akan menemukan makam yang dipenuhi emas itu.

Kemungkinan infeksi patogen kuno

Mitos soal kutukan mumi dan infeksi kemungkinan patogen kuno kemudian ditelaah oleh para ilmuwan. Menurut makalah  diterbitkan pada 1996 dan 1998 di jurnal Proceedings dari Royal Society B: Biology Science, para ilmuwan menggunakan pemodelan matematika untuk menentukan berapa lama patogen dapat bertahan hidup di dalam makam.

"Memang, kematian misterius Lord Carnarvon setelah memasuki makam firaun Mesir Tutankhamun berpotensi dijelaskan oleh infeksi patogen yang sangat mematikan dan berumur sangat panjang," tulis Sylvain Gandon dalam artikel jurnal pada 1998.

Gandon adalah seorang peneliti di Pierre and Marie Curie University di Paris ketika makalah itu diterbitkan.

Tim peneliti dalam makalah diterbitkan pada 2013 di di jurnal International Biodeterioration & Biodegradation memperkirakan bintik-bintik coklat di makam Tutankhamun terbentuk akibat organisme yang tidak aktif.

Selain itu, sebuah penelitian yang diterbitkan oleh seorang profesor epidemiologi dan pengobatan pencegahan di Monash University-Australia, Mark Nelson, tidak menemukan bukti para penjelajah yang masuk ke dalam makam itu meninggal pada usia yang sangat muda.

Studi Nelson memeriksa catatan 25 orang yang bekerja atau masuk ke makam Firaun itu tak lama setelah ditemukan. Rata-rata, orang-orang yang masuk ke dalam makam itu hidup sampai usia 70 tahun.

"Studi ini menemukan tidak ada bukti yang mendukung keberadaan kutukan mumi," tulis Nelson dalam makalah tahun 2002 yang diterbitkan di British Medical Journal.

Berlanjut di halaman berikutnya >>>

Mitos Kutukan Mumi Firaun Mesir

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK