BRIN Ungkap Sebab Jakarta dan Pantura Tenggelam Lebih Cepat

mts | CNN Indonesia
Selasa, 05 Oct 2021 19:54 WIB
BRIN mengungkap tiga faktor utama, yakni perubahan iklim, penurunan laju muka tanah (landsubsidence), dan kondisi lokal setempat. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Profesor Riset bidang Geoteknologi-Hidrogeologi, Robert Delinom, mengatakan, ada beberapa kota di Pantai Utara (Pantura) yang mengalami amblesan secara terus menerus, seperti Jakarta, Indramayu, Semarang dan Surabaya.

Menurut dia salah satu penyebab hal itu terjadi karena pemanasan global yang mengakibatkan muka air laut naik.

"Penurunan muka tanah yang intensif di kota-kota tersebut dan adanya pemanasan global yang menyebabkan muka air laut naik, dikhawatirkan kota-kota tersebut akan tenggelam setelah beberapa tahun ke depan," kata Robert dalam keterangan pers yang diunggah di situs Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Selasa (5/10).


Dia menjelaskan, pengamatan intensif di Jakarta dan Semarang menunjukkan kondisi geologi kedua daerah tersebut sangat berpengaruh pada proses terjadinya amblesan.

"Ternyata amblesan terjadi hanya pada lokasi yang dibangun oleh batuan lempung dan batuan muda belum terpadatkan, yang diketahui menyebar tidak secara homogen," ujar Robert.

Menurut dia data sampai 2019 menunjukkan kenaikan muka air laut di Teluk Jakarta 0,43 cm per tahun dan lepas pantai Semarang 0,53 cm per tahun.

Dari kenyataan tersebut, lanjutnya, dapat disimpulkan tenggelamnya kota-kota di Pantura, dalam artian secara keseluruhan kota terendam, tidak akan segera terjadi.

"Hanya bagian kota yang terletak dekat ke pantai dan dibangun oleh batuan lempung dan alluvial yang belum terpadatkan yang akan tenggelam," ujar Robert.

Sementara itu, Profesor Riset bidang Meteorologi pada Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Eddy Hermawan, mengungkapkan, proyeksi Jakarta dan beberapa kota pesisir di sepanjang Pantura tenggelam terjadi akibat tiga faktor utama, yakni perubahan iklim, penurunan laju muka tanah (landsubsidence), dan kondisi lokal setempat.

"Jika proyeksi hanya difokuskan pada akibat perubahan iklim semata, maka dampak yang dihasilkannya tidaklah terlalu severe. Hal serupa juga ditemukan, jika proyeksi difokuskan hanya ke landsubsidence semata, maka analisisnya tidak bisa digunakan untuk skala global atau regional," rincinya.

Eddy berpendapat, proyeksi difokuskan ke hasil analisis gabungan antara dampak perubahan iklim global dan laju landsubsidence yang cukup pesat saat ini.

"Dua proyeksi inilah yang diduga kuat akan mempercepat tenggelamnya kota-kota pesisir di Pantura, termasuk Jakarta di masa mendatang," ungkapnya.

Menurutnya, hasil analisis data satelit terkini menunjukkan bahwa kawasan pesisir Pantura mengalami penurunan muka tanah paling tajam.

"Kondisi geologi daerah pesisir dengan tanah yang lembut secara alamiah membuat tanah terus turun. Tetapi dengan adanya kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim, penggunaan air tanah, serta didirikannya gedung-gedung megah dan mewah di sepanjang Pantura ternyata semakin memperparah turunnya permukaan tanah," urainya.

Eddy berkata perlu dilakukan monitoring terhadap penurunan tanah dan laju perubahan garis pantai akibat perubahan ketinggian air laut. Kondisi ini ternyata berbeda dengan kawasan selatan Jawa yang struktur geologinya cenderung berbukit.

"Ke depannya perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan yang lebih nyata. Pembuatan Tanggul Raksasa sepertinya belum cukup, namun harus diimbangi dengan kebijakan penggunaan air tanah, penanaman mangrove, dan pencegahan perusakan lingkungan harus segera mungkin dilakukan. Akan lebih efektif, jika upaya ini dilaksanakan oleh berbagai elemen masyarakat, tanpa pengecualian," tutur Eddy.

(fea/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER