BRIN: Gempa di Selatan Indonesia Lebih Berpotensi Tsunami

CNN Indonesia
Kamis, 07 Oct 2021 16:40 WIB
BRIN menyebut gempa yang terjadi di selatan Indonesia lebih berpotensi tsunami ketimbang di bagian utara. BRIN menyebut gempa yang terjadi di selatan Indonesia lebih berpotensi tsunami ketimbang di bagian utara. (AFP PHOTO / ADEK BERRY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa titik gempa di selatan Indonesia seperti bagian selatan Pulau Jawa lebih berpotensi tsunami ketimbang di bagian utara RI.

Hal tersebut diungkapkan oleh Peneliti Geoteknologi BRIN, Adrin Tohari dalam webinar Riset dan Inovasi untuk Indonesia Tangguh Bencana dari BRIN, Kamis (7/10).

Adrin menyebut bahwa sumber gempa Bumi paling besar di Indonesia berada di bagian barat Pulau Sumatra, selatan Pulau Jawa dan di daerah tumbukan lempeng di Indonesia bagian timur.


"Dan kalau kita perhatikan di barat Pulau Sumatera dan di selatan Pulau Jawa itu cenderung mempunyai kedalaman hiposenter yang sangat dangkal yaitu antara 0 sampai dengan 100 dan ini yang cenderung akan menghasilkan ancaman susulan berupa tsunami," kata Adrin.

Sedangkan untuk sumber gempa yang ada di utara Pulau Jawa maupun Pulau Nusa Tenggara itu mempunyai kedalaman hiposentrum yang sangat dalam. Adrin menjelaskan bahwa rentetan kejadian gempa besar pernah terjadi di Indonesia.

"Pada tahun 2004 yang menyebabkan tsunami itu magnitude nya 9,2, dan juga ada gempa besar juga yang skalanya 8,5 itu gempa interplate, berada ratusan kilometer dari sebelah barat Pulau Sumatera terjadi tahun 2012," imbuh Adrin.

Pusat riset geoteknologi sudah melakukan penelitian cukup lama untuk meneliti gempa Bumi. Andrin mengatakan pihaknya memantau pergerakan lempeng kerak bumi untuk mengenali bagaimana karakteristik dari gerakan lempeng dari sebelah barat Pulau Sumatera yakni di zona subduksi itu yang bisa menghasilkan gempa di sekitar Pulau tersebut.

Dengan menggunakan teknologi continuous GPS, nantinya tim peneliti bekerja sama denganiOS sehingga terekam segala pergerakan lempeng yang ada di zona subduksi tersebut.

"Kemudian bisa di pahami bahwa pergerakan lempeng di zona subduksi itu kurang lebih antara 50 milimeter per tahun sedangkan di daerah Sumatra nya sendiri antara 10 sampai dengan 15 milimeter per tahun," ujar Andrin.

Selain itu, Andrin mengatakan bahwa penelitian untuk mengenali ancaman gempa bumi juga harus dilakukan dengan melacak sejarah terjadinya gempa dengan melihat rekaman yang terdapat di pertumbuhan dari koral.

Sehingga, apabila terjadi gempa bumi yang menyebabkan penurunan air laut, maka pertumbuhannya akan berhenti dan kemudian permukaan air Kembali normal maka ia akan tumbuh ke samping.Jadi Ketika coral tumbuh di bawah permukaan air laut, maka is akan tumbuh keatas, kemudian jika ia menyentuh ke permukaan laut maka pertumbuhannya ke samping. 

"Sehingga dari rekam pertumbuhan koral ini maka bisa di ketahui sebenarnya periode ulang kapan terjadinya gempa bumi dan gempa-gempa besar yang terjadi di sebelah barat sumatera di zona subduksi," jelas Andrin.



(mrh/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER