China Bawa Pulang Batuan Bulan Berusia Nyaris 2 Miliar Tahun

CNN Indonesia | Selasa, 12/10/2021 00:01 WIB
Misi Chang'e-5 yang digarap China sukses membawa batu bulan seberat 1,7 kg ke Bumi yang ternyata berusia 1,97 miliar tahun. Ilustrasi batu bulan. (AFP/JOSH EDELSON)
Jakarta, CNN Indonesia --

China membawa sampel batuan terbaru dari Bulan setelah sampel pertama yang dikumpulkan dari Bulan dilakukan lebih dari 40 tahun lalu oleh misi Luna 24 Uni Soviet. Para peneliti telah menentukan usia batuan Bulan ini mendekati 1,97 miliar tahun.

Tim yang terdiri dari peneliti dari China, Australia, Swedia, dan AS, telah mempelajari sampel yang dikumpulkan dari Bulan itu oleh Badan Antariksa Nasional China selama misi Chang'e-5.

Chang'e-5 adalah misi tanpa awak termasuk pendarat robot, yang mendarat di sisi dekat Bulan (sisi yang menghadap Bumi) pada Desember 2020. Misi tersebut mengambil 1,7 kilogram batuan Bulan ke Bumi.


Tujuan misi Chang'e-5 sendiri adalah untuk menemukan bukti dari beberapa letusan gunung berapi termuda di Bulan.

Dilansir dari Science Alert, analisis sampel dilakukan menggunakan instrumen sensitif resolusi tinggi ion microprobe (SHRIMP), di SHRIMP Center di Beijing, China.

Pertama, materi disortir lalu para peneliti di China secara manual memilih beberapa fragmen kecil basal (batu vulkanik), berukuran kira-kira 2 milimeter untuk diselidiki. Hal tersebut diikuti analisis laboratorium, membangun teknik yang dikembangkan pada 1970-an untuk analisis sampel Apollo pertama.

Menurut para peneliti, proses penentuan usia batuan itu rumit, tetapi pada intinya, menggunakan berkas partikel bermuatan yang terfokus untuk mengeluarkan material dari berbagai fase mineral dalam batuan dan menganalisis material yang dikeluarkan.

Dari hasil pengamatan tersebut, usia letusan lava di Bulan yaitu 1,97 miliar tahun. Ini satu miliar tahun lebih muda daripada lava basaltik sebelumnya dari Bulan.

"Ini adalah sampel yang sempurna untuk menutup celah 2 miliar tahun," kata Brad Jolliff, Profesor Ilmu Bumi dan Planet di bidang Seni & Sains Scott Rudolph dan direktur McDonnell Center for the Space Sciences di universitas tersebut seperti dikutip dari Scitech Daily, Sabtu (9/10).

Jolliff adalah rekan penulis analisis batuan Bulan baru berbasis di AS yang dipimpin Akademi Ilmu Geologi China, yang diterbitkan pada 7 Oktober 2021, di jurnal Science.

Penentuan usia adalah salah satu hasil ilmiah pertama dari misi Chang'e-5 yang berhasil, yang dirancang untuk mengumpulkan dan mengembalikan batuan ke Bumi dari beberapa permukaan vulkanik termuda di Bulan.

"Tentu saja, 'muda' itu relatif. Semua batuan vulkanik yang dikumpulkan Apollo berusia lebih dari 3 miliar tahun. Dan semua kawah tumbukan muda yang usianya telah ditentukan dari analisis sampel lebih muda dari 1 miliar tahun. Jadi sampel Chang'e-5 mengisi celah kritis," kata Jolliff.

Kesenjangan yang dirujuk Jolliff penting tidak hanya untuk mempelajari Bulan, tetapi juga untuk mempelajari planet berbatu lainnya di tata surya.

Sebagai benda planet, Bulan itu sendiri berusia sekitar 4,5 miliar tahun, hampir setua Bumi. Tetapi tidak seperti Bumi, Bulan tidak memiliki proses erosi atau pembentukan gunung yang cenderung menghapus kawah selama bertahun-tahun.

Para ilmuwan telah memanfaatkan kawah Bulan yang bertahan lama untuk mengembangkan metode memperkirakan usia berbagai daerah di permukaannya.

Jolliff mengatakan bahwa studi ini menunjukkan bahwa batuan Bulan yang dikembalikan oleh Chang'e-5 hanya berusia sekitar 2 miliar tahun. Mengetahui usia batuan ini dengan pasti, para ilmuwan sekarang dapat lebih akurat mengkalibrasi alat kronologi penting mereka.

(mrh/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK