Penemu Jelaskan Sebab Fosil Wanita 70 Abad Ubah Sejarah Purba
CNN Indonesia
Jumat, 15 Okt 2021 16:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Iwan Sumantri, penemu fosil wanita remaja 70 abad menjelaskan sebab dan bagaimana temuannya itu bisa mengubah sejarah manusia purba. (REUTERS/STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia --
Penemuan bagian kerangka wanita muda yang telah terkubur selama lebih dari 7 ribu tahun atau 70 abad telah mengungkap fakta baru tentang sejarah migrasi manusia purba.
Hal tersebut diketahui setelah para arkeolog dari Indonesia, Australia, dan Jerman telah berhasil menganalisis DNA fosil yang ditemukan tahun 2015 di Leang Panninge (Gua Kelelawar) di daerah Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang diketahui memiliki hubungan DNA dengan penduduk asli Papua dan Australia saat ini.
Salah satu arkeolog yang terlibat dalam penelitian tersebut adalah Iwan Sumantri, Kepala Laboratorium Arkeologi Universitas Hasanuddin, Makassar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria kelahiran Parepare, 21 Desember 1959 itu pertama kali tertarik dengan dunia arkeolog saat dirinya berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan psikologi pada 1979.
Meski hanya berkuliah selama empat bulan di kampus tersebut, Iwan lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Di perpustakaan itu Iwan larut membaca Encyclopedia Amerikana yang membuka wawasan arkeologinya.
Saat berkuliah selama 4 bulan di UGM, Iwan harus kembali pulang ke kampung halamannya di Makassar karena sang Ibu meninggal. Semenjak kejadian tersebut, nenek Iwan mewanti-wanti agar dirinya berkuliah di sana saja. Alhasil Iwan pun masuk Universitas Muslim Indonesia, Makassar, dengan mengambil jurusan ekonomi untuk menyenangkan orang tuanya.
Di tahun berikutnya, 1980, Iwan melihat ada jurusan sejarah dan arkeologi di Universitas Hasanuddin. Karena ketertarikannya di dunia arkeolog, tanpa pikir panjang Iwan mendaftar di kampus tersebut. Pilihannya ini sempat mendapat tentangan dari sang ayah karena menjadi arkeolog dinilai tidak memiliki masa depan yang jelas.
Pada 2015, Iwan dan rekan-rekannya di Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, melakukan penggalian di Leang Panninge. Di sana mereka akhirnya menemukan serpihan kerangka dari seorang Wanita muda berusia 70 abad yang dinamai Besse. Besse sendiri merupakan istilah dalam bahasa Bugis yang dilekatkan untuk anak perempuan.
"Pada 2015 diadakan penggalian, di bawah dua meter kita menemukan kerangka itu, bersamaan dengan artefak-artefak batu dan perkakas lain," kata Iwan kepadaCNNIndonesia.com, Kamis (14/10).
Anggota tubuh Besse sendiri yang ditemukan berupa kerangka kepala yang sudah tidak utuh serta belum memfosil.
Iwan mengatakan yang menarik dari penemuan serpihan kerangka Besse adalah bahwa ia tidak tertanam begitu saja. Artinya, dia mati tidak tertimbun langsung, tapi tampaknya ada perlakukan terhadap jasad Besse ketika baru Mati.
"Itu terbukti dengan adanya bantalan-bantalan, kalau itu terbukti dengan adanya bantalan-bantalan, bantalan di bawah kepala dan di atas kepala. Dan bantalan itu dari batu. Yang batunya tidak sama dengan struktur gua. Dia seperti batu kali," kata Iwan.
Bagian tubuh fosil Besse yang ditemukan di Goa Leang Paningge. (REUTERS/STRINGER)
Saat itu, tim arkeolog dari UniversitasHasanuddin belum berani untuk mengangkatBesse karena belum punya kesiapan untuk mengangkat dan menyimpannya. Selanjutnya pada 2016-2017 mereka baru berani untuk melakukan pengangkatan setelah mereka menemukan metodologi yang cocok.
Kemudian pada 2019 Iwan dan rekan-rekan mengajak Profesor Adam Brumm dari Griffith University. Ketika itu Adam Brumm sudah memiliki projek besar di Sulawesi Selatan yang dinamai Hominin in Wallacea. Adam Brumm atusias dengan itu karena terhubung dengan projek besarnya yang sudah ada 10 tahun di sana.
"Ya sudah jalan lah projek ini. Tahun 2019 saya ikut ekskavasi, untuk perluasan ekstended, dan kerangkanya sudah diangkat. Lalu kemudian atas biaya sendiri, ada beberapa orang yang datang untuk menganalisis," ujar Iwan.
Beberapa peneliti yang ikut terlibat diantaranya adalah David Bulbeck dari Australian National University yang merupakan seorang ahli arkeologi Sulawesi, untuk menganalisis petrous (tulang telinga bagian dalam). Kemudian ada juga Basran Burhan, PhD Student, Griffith University.
Basran mengemukakan pendapat "bisa tidak kita temukan petrousnya lalu kemudian kita bawa ke laboratorium yang terbaik?" gagasan tersebut disambut baik oleh Adam Brumm. Petrous dari Besse pun dibawa ke laboratorium Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig, German.
Hasil dari analisis tersebut ternyata ditemukan DNA dari petrous Besse yang memiliki DNA Denisovan. Denisovan sendiri merupakan sekelompok manusia purba yang pertama kali diidentifikasi pada 2010. Denisovan juga merupakan sepupu jauh manusia Neanderthal yang fosilnya hanya ditemukan di Siberia dan Tibet. Beberapa ilmuwan hanya memahami sedikit tentang mereka, bahkan detail tampilan tak diketahui secara luas.
Menurut Iwan ini merupakan penemuan yang mencengangkan karena penemuan ini kemudian bisa melahirkan teori baru atau menambah teori persebaran yang baru. Dan tentang bagaimana Denisovan yang ditemukan di Siberia dapat menjelajah sampai ke Sulawesi.
"Selama ini kan kita hanya mengenal out of Africa, teorinya 200 ribu tahun yang lalu orang keluar orang dari Afrika, manusia modern tertua itu dari Afrika lalu kemudian dia di Yamen, lalu kemudian dia pisah. Ada yang ke utara, ke Eropa yang kemudian menjadi nenek moyangnya Neanderthal. Yang kemudian Neanderthal sendiri jadi nenek moyang orang Eropa. Lalu kemudian sebagian lagi turun ke bawah, ke Asia. Lalu kemudian sampai ke Indonesia. Rasnya Austromelanesoid," jelas Iwan.
"Lalu kemudian ada teori yang kedua yang besar juga, teori out of Taiwan 7 ribu tahun yang lalu, katanya kejadian yang di Taiwan, Taiwan utara, mungkin ledakan penduduk, perpindahan dan segala macam. Kemudian mereka turun ke bawah melalui dua jalur. Ada jalur Filipina ke bawah, ada jalur ke china lalu kemudian ke Indonesia."
Ternyata DNA Denisovan yang ada di Besse berada diantara keduanya, yakni di antara Austromelanesoid dan di Austronesia. Iwan mengatakan waktunya pun pas yakni sekitar 7 ribu tahun lalu. Artinya, ada kemungkinan terjadi pencampuran, kelahiran atau kehadiran dari Denisovan ini bersamaan dengan antara Austromelanesoid dengan kedatangan penutur Austronesia.
Pria yang akan segera pensiun itu menyimpulkan bahwa Wallacea, yaitu pulau-pulau antara Kalimantan dan Papua yang menjadi gerbang ke Benua Australia, menjadi penting artinya bagi perkembangan migrasi manusia, percampuran dan sejarah perkembangan kebudayaaan Indonesia, regional Asia Tenggara, Asia bahkan dunia.
"Ini menjelaskan bahwa ada aliran DNA dan aliran DNA tersebut memberikan fakta baru tentang sejarah perkembangan manusia Indonesia, manusia Asia Tenggara, manusia Asia dan dunia. Dan itu penting," kata Iwan.
Leang Panninge yang merupakan gua tempat ditemukannya Besse sendiri menurut Iwan besar kemungkinan adalah rumah bagi manusia purba. Panninge juga dijadikan sebagai rumah untuk pabrikasi peralatan kebudayaan mereka.
Iwan Sumantri berkunjung ke Goa Leang Panninge di Mallawa, Maros, Sulawesi Selatan, lokasi penemuan fosil Besse. (REUTERS/STRINGER)
Berhubungan dengan Orang Toalean
Iwan juga mengatakan bahwa terdapat hubungan antara Besse dengan orang Toalean Yang merupakan manusia pemburu-pengumpul awal yang hidup di hutan-hutan Sulawesi Selatan. Orang Toalean hidup antara 8.000 hingga 1.500 tahun lalu.
"Kalau dari hubungan antara artefak dengan Bessenya itu jelas bahwa dia Toelean. tapi kita belum tahu juga wujud dari toalean, sebab toalean itu kan hanya, tidak merujuk pada sebuah individu. Dia merujuk pada sebuah kebudayaan," jelas Iwan.
Menurut Iwan Besse ini memang bisa disebut orang Toalean namun ia belum mengetahui apakah para arkeolog sepakat dengan itu, karena ini masih kemungkinan.
Hal yang menjadi penguat teori bahwa Besse merupakan orang Toalean adalah berdasarkan deskripsi dari naturalis asal Swiss, Paul and Fritz Sarasin. Selain itu, adalah koneksi antara lapisan kerangka yang ditemukan dengan peralatan batu yang juga ditemukan di sana.
Jakarta, CNN Indonesia --
Penemuan bagian kerangka wanita muda yang telah terkubur selama lebih dari 7 ribu tahun atau 70 abad telah mengungkap fakta baru tentang sejarah migrasi manusia purba.
Hal tersebut diketahui setelah para arkeolog dari Indonesia, Australia, dan Jerman telah berhasil menganalisis DNA fosil yang ditemukan tahun 2015 di Leang Panninge (Gua Kelelawar) di daerah Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang diketahui memiliki hubungan DNA dengan penduduk asli Papua dan Australia saat ini.
Salah satu arkeolog yang terlibat dalam penelitian tersebut adalah Iwan Sumantri, Kepala Laboratorium Arkeologi Universitas Hasanuddin, Makassar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria kelahiran Parepare, 21 Desember 1959 itu pertama kali tertarik dengan dunia arkeolog saat dirinya berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan psikologi pada 1979.
Meski hanya berkuliah selama empat bulan di kampus tersebut, Iwan lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Di perpustakaan itu Iwan larut membaca Encyclopedia Amerikana yang membuka wawasan arkeologinya.
Saat berkuliah selama 4 bulan di UGM, Iwan harus kembali pulang ke kampung halamannya di Makassar karena sang Ibu meninggal. Semenjak kejadian tersebut, nenek Iwan mewanti-wanti agar dirinya berkuliah di sana saja. Alhasil Iwan pun masuk Universitas Muslim Indonesia, Makassar, dengan mengambil jurusan ekonomi untuk menyenangkan orang tuanya.
Di tahun berikutnya, 1980, Iwan melihat ada jurusan sejarah dan arkeologi di Universitas Hasanuddin. Karena ketertarikannya di dunia arkeolog, tanpa pikir panjang Iwan mendaftar di kampus tersebut. Pilihannya ini sempat mendapat tentangan dari sang ayah karena menjadi arkeolog dinilai tidak memiliki masa depan yang jelas.
Pada 2015, Iwan dan rekan-rekannya di Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, melakukan penggalian di Leang Panninge. Di sana mereka akhirnya menemukan serpihan kerangka dari seorang Wanita muda berusia 70 abad yang dinamai Besse. Besse sendiri merupakan istilah dalam bahasa Bugis yang dilekatkan untuk anak perempuan.
"Pada 2015 diadakan penggalian, di bawah dua meter kita menemukan kerangka itu, bersamaan dengan artefak-artefak batu dan perkakas lain," kata Iwan kepadaCNNIndonesia.com, Kamis (14/10).
Anggota tubuh Besse sendiri yang ditemukan berupa kerangka kepala yang sudah tidak utuh serta belum memfosil.
Iwan mengatakan yang menarik dari penemuan serpihan kerangka Besse adalah bahwa ia tidak tertanam begitu saja. Artinya, dia mati tidak tertimbun langsung, tapi tampaknya ada perlakukan terhadap jasad Besse ketika baru Mati.
"Itu terbukti dengan adanya bantalan-bantalan, kalau itu terbukti dengan adanya bantalan-bantalan, bantalan di bawah kepala dan di atas kepala. Dan bantalan itu dari batu. Yang batunya tidak sama dengan struktur gua. Dia seperti batu kali," kata Iwan.
Bagian tubuh fosil Besse yang ditemukan di Goa Leang Paningge. (REUTERS/STRINGER)
Saat itu, tim arkeolog dari UniversitasHasanuddin belum berani untuk mengangkatBesse karena belum punya kesiapan untuk mengangkat dan menyimpannya. Selanjutnya pada 2016-2017 mereka baru berani untuk melakukan pengangkatan setelah mereka menemukan metodologi yang cocok.
Kemudian pada 2019 Iwan dan rekan-rekan mengajak Profesor Adam Brumm dari Griffith University. Ketika itu Adam Brumm sudah memiliki projek besar di Sulawesi Selatan yang dinamai Hominin in Wallacea. Adam Brumm atusias dengan itu karena terhubung dengan projek besarnya yang sudah ada 10 tahun di sana.
"Ya sudah jalan lah projek ini. Tahun 2019 saya ikut ekskavasi, untuk perluasan ekstended, dan kerangkanya sudah diangkat. Lalu kemudian atas biaya sendiri, ada beberapa orang yang datang untuk menganalisis," ujar Iwan.
Beberapa peneliti yang ikut terlibat diantaranya adalah David Bulbeck dari Australian National University yang merupakan seorang ahli arkeologi Sulawesi, untuk menganalisis petrous (tulang telinga bagian dalam). Kemudian ada juga Basran Burhan, PhD Student, Griffith University.
Basran mengemukakan pendapat "bisa tidak kita temukan petrousnya lalu kemudian kita bawa ke laboratorium yang terbaik?" gagasan tersebut disambut baik oleh Adam Brumm. Petrous dari Besse pun dibawa ke laboratorium Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig, German.
Hasil dari analisis tersebut ternyata ditemukan DNA dari petrous Besse yang memiliki DNA Denisovan. Denisovan sendiri merupakan sekelompok manusia purba yang pertama kali diidentifikasi pada 2010. Denisovan juga merupakan sepupu jauh manusia Neanderthal yang fosilnya hanya ditemukan di Siberia dan Tibet. Beberapa ilmuwan hanya memahami sedikit tentang mereka, bahkan detail tampilan tak diketahui secara luas.
Bagaimana fosil remaja 70 abad ubah sejarah purba?
Goa Leang Paningge yang jadi lokasi penemuan fosil Besse (REUTERS/STRINGER)
Menurut Iwan ini merupakan penemuan yang mencengangkan karena penemuan ini kemudian bisa melahirkan teori baru atau menambah teori persebaran yang baru. Dan tentang bagaimana Denisovan yang ditemukan di Siberia dapat menjelajah sampai ke Sulawesi.
"Selama ini kan kita hanya mengenal out of Africa, teorinya 200 ribu tahun yang lalu orang keluar orang dari Afrika, manusia modern tertua itu dari Afrika lalu kemudian dia di Yamen, lalu kemudian dia pisah. Ada yang ke utara, ke Eropa yang kemudian menjadi nenek moyangnya Neanderthal. Yang kemudian Neanderthal sendiri jadi nenek moyang orang Eropa. Lalu kemudian sebagian lagi turun ke bawah, ke Asia. Lalu kemudian sampai ke Indonesia. Rasnya Austromelanesoid," jelas Iwan.
"Lalu kemudian ada teori yang kedua yang besar juga, teori out of Taiwan 7 ribu tahun yang lalu, katanya kejadian yang di Taiwan, Taiwan utara, mungkin ledakan penduduk, perpindahan dan segala macam. Kemudian mereka turun ke bawah melalui dua jalur. Ada jalur Filipina ke bawah, ada jalur ke china lalu kemudian ke Indonesia."
Ternyata DNA Denisovan yang ada di Besse berada diantara keduanya, yakni di antara Austromelanesoid dan di Austronesia. Iwan mengatakan waktunya pun pas yakni sekitar 7 ribu tahun lalu. Artinya, ada kemungkinan terjadi pencampuran, kelahiran atau kehadiran dari Denisovan ini bersamaan dengan antara Austromelanesoid dengan kedatangan penutur Austronesia.
Pria yang akan segera pensiun itu menyimpulkan bahwa Wallacea, yaitu pulau-pulau antara Kalimantan dan Papua yang menjadi gerbang ke Benua Australia, menjadi penting artinya bagi perkembangan migrasi manusia, percampuran dan sejarah perkembangan kebudayaaan Indonesia, regional Asia Tenggara, Asia bahkan dunia.
"Ini menjelaskan bahwa ada aliran DNA dan aliran DNA tersebut memberikan fakta baru tentang sejarah perkembangan manusia Indonesia, manusia Asia Tenggara, manusia Asia dan dunia. Dan itu penting," kata Iwan.
Leang Panninge yang merupakan gua tempat ditemukannya Besse sendiri menurut Iwan besar kemungkinan adalah rumah bagi manusia purba. Panninge juga dijadikan sebagai rumah untuk pabrikasi peralatan kebudayaan mereka.
Iwan Sumantri berkunjung ke Goa Leang Panninge di Mallawa, Maros, Sulawesi Selatan, lokasi penemuan fosil Besse. (REUTERS/STRINGER)
Berhubungan dengan Orang Toalean
Iwan juga mengatakan bahwa terdapat hubungan antara Besse dengan orang Toalean Yang merupakan manusia pemburu-pengumpul awal yang hidup di hutan-hutan Sulawesi Selatan. Orang Toalean hidup antara 8.000 hingga 1.500 tahun lalu.
"Kalau dari hubungan antara artefak dengan Bessenya itu jelas bahwa dia Toelean. tapi kita belum tahu juga wujud dari toalean, sebab toalean itu kan hanya, tidak merujuk pada sebuah individu. Dia merujuk pada sebuah kebudayaan," jelas Iwan.
Menurut Iwan Besse ini memang bisa disebut orang Toalean namun ia belum mengetahui apakah para arkeolog sepakat dengan itu, karena ini masih kemungkinan.
Hal yang menjadi penguat teori bahwa Besse merupakan orang Toalean adalah berdasarkan deskripsi dari naturalis asal Swiss, Paul and Fritz Sarasin. Selain itu, adalah koneksi antara lapisan kerangka yang ditemukan dengan peralatan batu yang juga ditemukan di sana.