BMKG: Longsor dan Runtuhan Terus Jadi 'Momok' Gempa di Bali

can | CNN Indonesia
Jumat, 22 Oct 2021 21:00 WIB
BMKG menuturkan bahwa dampak gempa yang terjadi di Bali 16 Oktober lalu serupa dengan gempa-gempa yang pernah terjadi sebelumnya. BMKG menuturkan bahwa dampak gempa yang terjadi di Bali 16 Oktober lalu serupa dengan gempa-gempa yang pernah terjadi sebelumnya. (Foto: BPBD Bali)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa yang disertai collateral hazard atau dampak ikutan seperti tanah longsor dan runtuhan batu di Bali, bakal terus terjadi.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono menyebut dampak ikutan itu bisa terjadi jika ada gempa kuat di wilayah tersebut.

"Kejadian ikutan gempa itu akan terus terjadi kalau tidak dilakukan upaya mitigasi terkait dampak ikutan ini," ujar Daryono secara virtual, Jumat (22/10) sore.


Gempa magnitudo 4,8 mengguncang kawasan Karangasem, Bali pada Sabtu (16/10) pagi. Gempa menimbulkan kerusakan pada sejumlah bangunan lantaran terjadi longsor di Kabupaten Karangasem.

Kepala PVMBG Andriani mengatakan dampak dari adanya bencana gempa bumi tersebut mengakibatkan bahaya ikutan berupa retakan tanah, longsoran, dan reruntuhan batu.

Di samping itu Daryono juga mencatat ada beberapa kejadian gempa yang tercatat BMKG pernah menghasilkan dampak ikutan, seperi terjadi pada 1815, 1917, dan 1976 di Bali.

Terdekat, gempa serupa juga pernah terjadi tahun 2017, dan menyebut gempa Bali 16 Oktober lalu masih satu klaster.

"Mekanisme sumber yang terjadi pada tahun 2017 mirip dengan yang terjadi pada saat ini, bukti gempa yang kemarin ini masih kluster dengan gempa 2017" tutur Daryono.

Dia mengatakan gempa yang terjadi pada 22 November 1815 di Bali mengalami tanah longsor dan menelan korban jiwa. Ia mengatakan rekahan tanah terbesar di banyak tempat dan sampai memotong Danau Tamblingan hingga menyebabkan banjir besar.

Lebih lanjut ia menjelaskan gempa juga terjadi pada 21 Januari 1917 di Bali, yang mengakibatkan 1.500 orang meninggal dunia akibat longsor yang disebabkan gempa bumi.

Pada 14 Juli 1976, pihaknya mencatat terjadi likuifaksi dampak gempa bumi di Seririt Bali, memicu terjadinya banyak rekahan tanah (ground failure) dan longsoran (landslide).

Rekahan tanah dan longsoran tebing dilaporkan terjadi di daerah Pupuan, Tabanan, Bukit Geger, Kabuparen Buleleng. Sebanyak 559 orang meninggal dunia dalam gempa bumi itu.

Di samping itu Daryono juga menjelaskan alasan mengapa gempa dengan skala kecil bisa merusak bangunan penduduk. Ia mengatakan jenis tanah yang ada di lokasi terdampak gempa merupakan tanah lunak yang berasal dari endapan lahar, hasil letusan gunung berapi.

Selain jenis tanah yang menjadi faktor parahnya dampak gempa bumi, Daryono mengatakan hal itu dapat diperparah dengan kontur topografi, yang semakin tinggi bukti akan semakin menambah percepatan terjadinya lonsoran.

(can/fjr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER