Kata Ahli Soal Mitos Garam Bisa Usir Ular: Tidak Efektif
Lebih lanjut Amir menjelaskan bahwa musim penghujan dari November hingga Januari kerap menjadi musim menetasnya telur-telur ular.
"Karena memang musim hujan itu musim di mana telur-telur ular ini menetas," ujar Amir.
"Kalo kita lihat polanya kapan dia muncul dan perjumpaannya lebih banyak tercatat itu kapan, ya di akhir-akhir tahun seperti ini. November, Desember, sampai Januari," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ular-ular ini bahkan kerap muncul di wilayah pemukiman dan bersarang di sana. Kehadiran ular-ular ini tentu meresahkan masyarakat, terlebih jika ular tersebut termasuk dalam jenis ular berbisa.
Amir memaparkan setidaknya ada lima jenis ular yang umum ditemui di wilayah pemukiman Pulau Jawa, khususnya Jabodetabek.
"Kalo kita petakan (Pulau) Jawa, mungkin khususnya sekitar Jabodetabek, ular yang sering dijumpai sekitar rumah, pekarangan, pemukiman itu kalo ngga kobra, ular kopi, ular pagar, ular weling, sanca," paparnya.
Dari jenis-jenis ular tersebut yang termasuk ular berbisa hanyalah ular cobra dan ular weling.
[Gambas:Video CNN]
Ahli mengklarifikasi mitos bahwa garam bisa digunakan untuk mengusir ular, sebenarnya tidak efektif.
Ahli Herpetologi Pusat Riset Biologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amir Hamidy menjelaskan untuk mengusir ular lebih tepat dilakukan dengan memberikan bau-bauan yang menyengat.
"Jadi garam itu engga efektif, yang efektif itu bau-bauan menyengat seperti Wipol, bensin, minyak tanah," ujarnya kepada CNNindonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (23/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Klaim garam dapat mengusir ular kerap dikaitkan dengan kemampuan garam dalam mengusir binatang lainnya, seperti siput dan beberapa jenis serangga. Namun hal ini ternyata tidak berlaku untuk ular.
Usir ular pakai bau menyengat
Amir menjelaskan penggunaan bau-bau menyengat dapat mengusir ular karena ular sangat sensitif terhadap hal tersebut.
"Ular itu sangat sensitif terhadap bau-bauan menyengat, dia menggunakan organ jacobson untuk mendeteksi partikel-partikel bau, debu, gerakan," ujar Amir.
Sehingga jika masyarakat menemukan ular di lingkungan tempat tinggalnya, bisa segera mengambil barang-barang di rumah yang memiliki bau menyengat atau tajam, seperti pengharum ruangan, pembasmi serangga, parfum, dan lain sebagainya untuk mengusir ular tersebut.
"(Pakai pengharum ruangan juga) berpengaruh, apalagi dengan Baygon," jelas Amir
Pakai alat bantu
Namun jika tidak memiliki barang-barang tersebut, ular dapat diusir dengan sapu, tongkat, atau peralatan lain asalkan tidak menggunakan tangan kosong.
"Bisa diusir juga dengan menggunakan sapu, atau dengan alat, jangan sampai bare hand (tangan kosong)," kata Amir.
Panggil damkar
Meski demikian sangat disarankan untuk memanggil Pemadam Kebakaran (Damkar) atau pihak professional yang biasa menangani ular untuk meminimalisir risiko.
"Handling itu bisa oleh damkar (Pemadam Kebakaran) atau professional yang di bidang itu, apalagi kita engga tahu jenisnya apa, sangat bahaya kalo sampai digigit ularnya dan itu berbisa," jelas Amir.
Kemudian selagi menunggu bantuan datang, kita bisa menutup semua akses keluar ruangan tempat ular tersebut berada agar ular tidak kabur hingga pemadam kebakaran atau pihak professional datang.
"Biasanya ada periode senggang dari melihat ular sampai menunggu damkar, ada senggang waktu, biasanya tutup pintunya agar saat damkarnya datang ular tidak kabur," papar Amir.
Musim Hujan, Musim Ular Menetas
Ilustrasi. Mitos garam bisa digunakan untuk mengusir ular ternyata dinilai tidak efektif oleh ahli, baiknya diusir dengan bau menyengat. (iStockphoto)
Lebih lanjut Amir menjelaskan bahwa musim penghujan dari November hingga Januari kerap menjadi musim menetasnya telur-telur ular.
"Karena memang musim hujan itu musim di mana telur-telur ular ini menetas," ujar Amir.
"Kalo kita lihat polanya kapan dia muncul dan perjumpaannya lebih banyak tercatat itu kapan, ya di akhir-akhir tahun seperti ini. November, Desember, sampai Januari," tambahnya.
Ular-ular ini bahkan kerap muncul di wilayah pemukiman dan bersarang di sana. Kehadiran ular-ular ini tentu meresahkan masyarakat, terlebih jika ular tersebut termasuk dalam jenis ular berbisa.
Amir memaparkan setidaknya ada lima jenis ular yang umum ditemui di wilayah pemukiman Pulau Jawa, khususnya Jabodetabek.
"Kalo kita petakan (Pulau) Jawa, mungkin khususnya sekitar Jabodetabek, ular yang sering dijumpai sekitar rumah, pekarangan, pemukiman itu kalo ngga kobra, ular kopi, ular pagar, ular weling, sanca," paparnya.
Dari jenis-jenis ular tersebut yang termasuk ular berbisa hanyalah ular cobra dan ular weling.
